Tampilkan postingan dengan label Habib. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Habib. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 November 2016

Jurus Diplomasi Kiai Wahid Hasyim

Oleh: Munawir Aziz

Bagaimana memahami ilmu politik para kiai? Dari pelacakan tentang sosok-sosok kiai di berbagai kawasan, terhubung jalinan ilmu, jaringan komunikasi dan sikap yang solid untuk mempertahankan negara. Para kiai tidak hanya belajar ilmu agama, yang secara mendalam berupa tradisi keilmuan pesantren, namun juga mempraktikkan dalam ilmu haliyah, ilmu sikap hidup yang terkoneksi dengan kepiawaian berdiplomasi politik.

Jurus Diplomasi Kiai Wahid Hasyim (Sumber Gambar : Nu Online)
Jurus Diplomasi Kiai Wahid Hasyim (Sumber Gambar : Nu Online)


Jurus Diplomasi Kiai Wahid Hasyim

Strategi-strategi cerdas ini, dapat kita lacak dari sosok Kiai Wahid Hasyim (1914-1953). Ayahanda Gus Dur ini, merupakan sosok kiai yang cerdas dalam menghimpun kawan serta tenang menghadapi lawan. Ia merupakan cermin, betapa ilmu santri itu luas tidak bertepi, dari ilmu agama hingga ilmu intelijen, dari penguasaan hukum Islam hingga diplomasi politik.

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Kiai Wahid Hasyim piawai dalam memainkan jurus diplomatik. Jurus-jurus diplomatik Kiai Wahid diuji ketika ia menghadapi Jepang, pada proses menuju kemerdekaan Indonesia. Ketika Jepang merangsek sebagai penjajah, atau Saudara Tua di Asia Timur Raya, mereka dikenal bengis dan brutal dalam merampungkan operasi militer. Pada awalnya, pihak Jepang menjepit para kiai pesantren, bahkan beberapa dijebloskan ke penjara. Hadratus Syaikh Hasyim Asyari (1875-1947) termasuk kiai yang dijeblokasn ke penjara. Inilah tantangan berat bagi para kiai NU dan pengasuh pesantren.

Sikap NU terhadap rezim kolonial Jepang lebih lunak dibandingkan dengan sikap terhadap Belanda. Pada titik tertentu, NU menjalin kerjasama dengan Jepang, ketika menerima tawaran dalam pembentukan Kementrian Agama, serta pengerahan milisi sipil dalam Hizbullah dan Sabilillah. Pemerintah Jepang berusaha menarik dukungan dari kekuatan dari kelompok anti-Belanda dengan menggandeng ormas-ormas Islam.

Pemerintah Jepang mengundang 32 ulama, di antaranya Kiai Hasyim Asyari, Kiai Mahfudz Siddiq dan Kiai Wahid Hasyim, dalam sebuah pertemuan di Jakarta. Pada agenda ini, Kepala Pemerintah Militer Jepang (Gunseikan) minta maaf kepada umat Islam, tentang polisi militer Jepang yang dianggap brutal. Dari pihak Jepang, mereka beralasan karena para polisi militer tidak memahami budaya dan karakter umat Islam. Bahkan, setelah pertemuan ini, pemerintah Jepang terlihat lebih bersahabat dengan kelompok muslim, dan menghapus upacara Seikere (penyembahan dewa Matahari).

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Pada November 1943, atas diplomasi Kiai Wahid Hasyim dan kiai pesantren, terbentuklah Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi). Awalnya, Masyumi dipimpin oleh Kiai Hasyim Asyari. Namun, karena kesibukan mengasuh pesantren dan kondisi fisik yang sudah sepuh, kewenangan mengomando Masyumi dipegang oleh Kiai Wahid Hasyim, putra Hadratus Syaikh (Khuluq, 2000: 142).

Dalam struktur kepengurusan, Masyumi dipenuhi oleh tokoh-tokoh Islam yang tersebar dari berbagai tradisi dan organisasi. Dari NU, Muhammadiyah dan beberapa ormas Islam. Tujuan Masyumi, yakni mengkoordinasi para ulama serta mengusung semangat juang untuk cita-cita kemerdekaan.

Di sisi lain, ada pula usaha untuk mengumpulkan dana umat dari pengelolaan pertanian yang kemudian disetorkan ke baitul mal. Di antara pengelola unit usaha ini, yakni Faqih Usman, Ghafar Ismail, Sukiman dan Kiai Wahid Hasyim. Inilah unit usaha yang berusaha untuk memperjuangkan ekonomi dan kesejahteraan warga muslim. Perjuangan di bidang pendidikan juga digarap dengan serius. Kiai Wahid Hasyim mengajak beberapa rekannya untuk bergerak mengembangkan pendidikan. Di antaranya: Drs Ahmad Sigit, M Natsir, Kiai Muhammad Junaidi, dan beberapa tokoh penggerak lainnya (Syamsul AH, 2003: 80-83)

Di bidang pers, Kiai Wahid juga mendorong para tokoh pemuda untuk berkontribusi. Yakni mendirikan majalah Suara Muslimin yang dikelola oleh Kiai Saifuddin Zuhri, Harsono Cokroaminoto dan beberapa jurnalis lainnya.

Di bidang diplomasi militer, Kiai Wahid bergerak untuk meyakinkan Jepang pentingnya membentuk laskar komando dari pemuda muslim. Maka, terbentuklah Hizbullah yang dipimpin oleh Kiai Zainul Arifin, pejuang tangguh dari Tanah Barus. Awalnya, Hizbullah dimaksudkan untuk menjadi paramiliter yang bertugas di garis depan komando militer Jepang. Tujuan politis Jepang, yakni menjadikan para pemuda muslim sebagai tameng dari serbuan musuh. Namun, dengan canggih dan jitu, Kiai Wahid berhasil meyakinkan pihak otoritas militer Jepang, agar menempatkan Hizbullah di dalam negeri. Argumentasi Kiai Wahid, tentu putra bangsa akan semakin semangat jika mempertahankan tanah airnya.

Laskar Hizbullah terbentuk karena latar belakang berperang dalam mempertahankan agama Islam, wajib hukumnya. Pada saat itu, Jepang berusaha menggiring para pemuda masuk komando Heiho. Abdul Hamid Nobuharu Ono, utusan Jepang, melakukan lobi politik kepada Kiai Wahid Hasyim. Hamid Ono, merupakan utusan diplomatik pemerintah Jepang untuk mendekati para kiai pesantren. Ono merupakan muslim dan pernah beribadah haji, bersamaan dengan utusan lain, yakni Abdul Munim Inada, Saleh Suzuki, Mohammad Taufik Sasaki, dan Abdul Munir Watanabe (Abdul Aziz, 2012: 201).

Di sinilah kecerdikan Kiai Wahid teruji. Ia tidak menolak permintaan Jepang, namun menggeser kepentingang dengan menggabungkan para pemuda muslim, yang mayoritas sebagai santri dan terkoneksi dengan jaringan pesantren, masuk dalam barisan Hizbullah. Para milisi Hizbullah mendapatkan pelatihan dari militer Jepang, hingga terlatih menghadapi perang dengan strategi-strategi taktis. Kelak, Hizbullah menjadi tulang punggung dalam perjuangan kemerdekaan, dari kalangan santri-kiai.

Hizbullah menjadi referensi bagaimana pejuang muslim bergerak untuk mempertahankan tanah air, dengan segenap usaha, tangis dan darah juang. Hizbullah secara resmi dibentuk pada 14 Oktober 1944. Slogannya yang terkenal: isy kariiman au mut syahiidan (hidup mulia atau mati syahid). Laskah Hizbullah merupakan laskar santri, yang tersebar di beberapa kawasan dengan jaringan santri. Para ulama membentuk Laskar Sabilillah yang dikomando Kiai Masykur dan Laskar Mujahidin yang dipimpin Kiai Wahab Chasbullah.

Munawir Aziz, Wakil Sekretaris Lembaga Talif wan Nasyr (LTN-PBNU)

Dari (Fragmen) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/75239/jurus-diplomasi-kiai-wahid-hasyim-

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Senin, 04 April 2016

Sejumah Menteri Hadiri Kegiatan KH Hasyim Muzadi di Depok

Jakarta, Pesantren Al-Amien Purwokerto. Sejumlah menteri Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo menghadiri seminar internasional yang diselenggarakan oleh KH Hasyim Muzadi di Pondok Pesantren Al-Hikam II Beji, Depok, Kamis (30/10).

Mereka adalah Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Sosial Khofifah Indarparawansa dan Menteri Luar Negeri Retno Lestari Priansari Marsudi. Mantan menteri luar neger Hasan Wirajuda yang semenjak awal mendukung pelaksanaan acara International Conference of Islamic Scholar (ICIS) bersama KH Hasyim Muzadi juga terlihat hadir dan menyampaikan materi.

Sejumah Menteri Hadiri Kegiatan KH Hasyim Muzadi di Depok (Sumber Gambar : Nu Online)
Sejumah Menteri Hadiri Kegiatan KH Hasyim Muzadi di Depok (Sumber Gambar : Nu Online)


Sejumah Menteri Hadiri Kegiatan KH Hasyim Muzadi di Depok

Seminar internasional kali ini membahas tema konflik dan transisi demokrasi di Timur Tengah. Secara khusus pembahasan lebih mengarah kepada persoalan ISIS atau kelompok negara Islam d Irak dan Suriah.

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Seminar dihadiri sekitar 400 orang yang terdiri dari ulama dan cendekiawan muslim lintas ormas, termasuk para kiai dan pengurus NU dari berbagai daerah yang akan mengikuti Munas dan Konbes di PBNU 1-2 November mendatang.

KH Hasyim Muzadi mengatakan, selama ini informasi mengenai ISIS tidak utuh dan sepotong-potong. Dengan menghadirkan para pakar nasional serta cendekiawan Muslim dari Mesir, Irak dan Suriah diharapkan para kiai khususnya dan umat Islam dapat memperoleh informasi yang utuh mengenai ISIS.

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Karena pendirian yang semacam ISIS ini ada di Indonesia. Harus ada pengertian yang utuh mengenai ISIS. Kalau sudah ngerti maka akan waspada. Lebih dari itu diharapkan kita dapat menjelaskan ISIS kepada masyarakat sembari mengembangkan ajaran Islam yang moderat, katanya kepada wartawan usai pembukaan seminar.

Seminar internasional dibuka secara resmi oleh Menteri Luar Negeri Menteri Luar Negeri Retno Lestari Priansari Marsudi. Sebelumnya, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan mantan menteri luar negeri Hasan Wirajuda menyampaikan kata pengantar.

Seminar internasional didukung juga oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Sejumlah pejabat penting dijadwalkan akan berbicara antara lain Panglima TNI Jenderal Moeldoko, Kapolri Jenderal Sutarman, dan mantan Kepala BNPT Ansyad Mbai. Sementara itu juga terlihat hadir dalam dalam acara pembukaan Ketua DPP PPP Romahurmuzi yang sempat berbincang dengan KH Hasyim Muzadi di kediamannya. (Dwi Niar/ Anam)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/55412/sejumah-menteri-hadiri-kegiatan-kh-hasyim-muzadi-di-depok

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Sabtu, 20 Juni 2015

Potensi Tinggi, Aktivis Muda NU Harus Lakukan Perbaikan

Bandung, Pesantren Al-Amien Purwokerto. Staf Khusus Kementerian Tenaga Kerja RI Dita Indah Sari menilai, saat ini kaum muda Nahdlatul Ulama harus banyak melakukan perbaikan dalam urusan organisasi. Sebab, menurutnya, perbaikan masyarakat melalui jalan organisasi sangat strategis, terlebih ketika berada di dalam lingkaran kekuasaan. Mantan aktivis buruh itu bisa menilai mutu sumber daya manusia dari pengalamannya beberapa tahun bekerja sama dengan kementerian tempatnya bekerja.

"Problem sumber daya manusia dari para aktivis organisasi sosial harus banyak di-upgrade. Ini bukan masalah NU semata, tapi masalah umum. Tetapi saya sebagai orang yang dekat dengan keluarga besar NU merasa penting menyampaikan hal ini karena rasa cinta saya pada teman-teman di NU," katanya saat kunjungannya di Yayasan Pendidikan Islam Nahdlatul Ulama (Yapinu) Jalan Sancang Kota Bandung, Sabtu (24/10).

Potensi Tinggi, Aktivis Muda NU Harus Lakukan Perbaikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Potensi Tinggi, Aktivis Muda NU Harus Lakukan Perbaikan (Sumber Gambar : Nu Online)


Potensi Tinggi, Aktivis Muda NU Harus Lakukan Perbaikan

Dita yang selama ini dekat dengan para aktivis itu melihat kaum muda NU sangat potensial untuk maju. Menurutnya, mereka punya bekal moral yang baik, tetapi hal itu tidak mencukupi sebagai perbaikan kualitas sumber daya manusia.

"Berorganisasi dengan etos kerja, manajemen dan keseriusan terus belajar merupakan langkah yang harus ditempuh kaum muda NU. Hanya dengan cara itu teman-teman muda NU bisa lebih baik mengabdi kepada masyarakat. Jangan bekerja semata atas dasar kepentingan sempit. Jiwa kerakyatan atau keumatan harus terus dipupuk," sarannya.

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Dalam pandangan Dita, aktivis-aktivis muda di NU, terutama di PMII harus memperbaiki model pembelajarannya.

"Kalau tadi Ketua PMII Kota Bandung (Ahmad Riyadi Red) meminta waktu acara seminar atau diskusi untuk pembelajaran advokasi buruh misalnya, lebih baik dengan cara lain. Karena PMII Kota Bandung ini cukup potensial untuk maju, saya berikan kesempatan aktivis PMII Kota Bandung untuk magang. Nanti akan bisa belajar secara langsung di kantor saya. Tapi jangan banyak-banyak karena itu kantor penuh aktivitas. Nanti cari model dan di tempat lain," terangnya berbaik hati kepada para aktivis PMII.

Dita menambahkan, para aktivis muda terutama aktivis pergerakan mahasiswa harus punya cara pandang baru dalam melihat globalisasi, hubungan negara dengan rakyat. "Jangan malas membaca. Berorganisasi itu harus seimbang antara teori dan praktik," ucapnya. (Satar Sakri/Mahbib)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/63136/potensi-tinggi-aktivis-muda-nu-harus-lakukan-perbaikan

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Kamis, 06 November 2014

Al-Quran Hadiah Terindah Harlah Muslimat NU

Semarang, Pesantren Al-Amien Purwokerto. Untuk menghormati arwah para syuhada NU, ibu-ibu Muslimat NU mengkhatamkan 30 Juz Al-Quran. Pembacaan dilakukan oleh 30 orang Pengurus Cabang (PC) Muslimat NU Kota Semarang. Kegiatan tersebut merupakan peringatan hari lahir ke-71 Muslimat NU yang jatuh pada 29 Maret.

Alhamdulillah para pengurus dengan semangat mengkhatamkan Al-Quran sebagai hadiah terindah di harlah ke-71 Muslimat NU, ujar Sekretaris PC Muslimat NU Kota Semarang Hj Ulya Lilis Khadijah sebagaimana rilis yang disampaikan pada Pesantren Al-Amien Purwokerto, Kamis (30/3).

Al-Quran Hadiah Terindah Harlah Muslimat NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Al-Quran Hadiah Terindah Harlah Muslimat NU (Sumber Gambar : Nu Online)


Al-Quran Hadiah Terindah Harlah Muslimat NU

Hajjah Ulya menjelaskan, puncak acara Harlah dipusatkan di convention hall Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT). Dalam kesempatan tersebut, selain khataman Quran juga Pelantikan Laskar Anti-Narkoba PC MNU Kota Semarang, dan bakti sosial pelayanan akseptor KB. Dalam sehari dapat melayani akseptor Implan dan IUD sebanyak 71 orang dan MOP 2 orang yang operasinya akan dilakukan menyusul pada 2 April, terangnya.

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Ketua PC Muslimat NU Kota Semarang Hj Muslimatin Djatmiko mengajak kepada anggota Muslimat untuk menjadi teladan di lingkungannya masing-masing. Teladan tersebut bisa dibuktikan dengan berbagai aktivitas yang berkualitas yang tentunya sesuai dengan tuntunan Al-Quran dan sunah Rasulullah. Termasuk ketika bersinggungan dengan pemerintah harus dengan ikhlas membantunya sesuai dengan kemampuan masing-masing. Kita harus satukan langkah membangun negeri dalam wadah NKRI dan mempertahankan Ahlusunnah wal Jamaah, ucap Hj Muslimatin.

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Harlah ke-71 Muslimat NU Kota Semarang diselingi hiburan anak-anak PAUD dan TK. Juga penampilan drama yang dimainkan ibu-ibu Muslimat Anak Cabang Semarang Timur dan fashion show ibu-ibu Muslimat Cabang Kota Semarang.

Sebagai wujud rasa syukur, dilakukan pemotongan tumpeng oleh tokoh-tokoh penting di Kota Semarang yakni Wakil Wali Kota Ir Hj Hevearita G Rahayu, Ketua I PW Muslimat NU Jateng Hj Zuhar Mahsum, Ketua PCNU Kota Semarang Drs KH Anasom , Ketum PC Muslimat NU Kota Semarang Hj Muslimatin Djatmiko, Ketua Dewan Pengurus Pengelola (DPP) MAJT yang diwakili KH Muhyidin.

Perayaan berjalan sangat meriah, terbukti perkiraan dihadiri 700 orang dengan penyediaan konsumsi 1000 paket ternyata yang datang 1500 orang. Untung saja, petugas konsumsi sigap untuk pesan air mineral, roti dan nasi bungkus. Sangat menggembirakan, akhirnya aula MAJT penuh baik sisi kanan, kiri dan belakang ditambah tikar, bahkan ada yang duduk beralaskan kardus bekas air mineral, tambah Hj Ulya. (Wasdiun/Abdullah Alawi)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/76569/al-quran-hadiah-terindah-harlah-muslimat-nu-

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Jumat, 10 Oktober 2014

Katib Syuriah PWNU Jabar: Toleransi Kewajiban Seluruh Manusia

Bandung, Pesantren Al-Amien Purwokerto. Katib Syuriah PWNU Jawa Barat Prof KH Rachmat Syafei mengatakan perbedaan penentuan Hari Raya Idul Adha sebetulnya bukan hanya terjadi antara NU dan Muhammadiyah saja, bahkan di kalangan NU sendiri juga bisa saja berbeda karena berlainan metode penetapan awal bulan.

Menurut Kiai Rachmat perbedaan pendapat sudah biasa terjadi di kalangan ulama salaf dan di pesantren-pesantren, tinggal bagaimana memahami alasan dan dasar yang dipegang. Jika sudah dipahami, saling menghormati itulah yang harus dikedepankan, terangnya Sabtu pagi (4/10).

Katib Syuriah PWNU Jabar: Toleransi Kewajiban Seluruh Manusia (Sumber Gambar : Nu Online)
Katib Syuriah PWNU Jabar: Toleransi Kewajiban Seluruh Manusia (Sumber Gambar : Nu Online)


Katib Syuriah PWNU Jabar: Toleransi Kewajiban Seluruh Manusia

Sikap masyarakat, lanjut dia harus kembali pada pendapat yang diyakini karena persoalan ini adalah masalah ibadah. Supaya tidak tersinggung, Kiai Rachmat mengajak masyarakat supaya saling memahami.

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Baginya, toleransi itu sangat penting, yang tidak boleh adalah saling menyalahkan. Ia menjelaskan bahwa toleransi adalah mengajak orang untuk memahami dan bertanya kepada ahlinya. Dianggap penting karena toleransi pengaruhnya sangat besar. Toleransi adalah sesuatu yang menjadi kewajiban bagi seluruh manusia, tegas Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung itu.

Kiai yang juga menjadi ketua bidang Fatwa MUI Jawa Barat ini berharap kepada masyarakat supaya meningtkatkan kesadaran toleransi dalam beragama. Ujung-ujungnya inti dari agama, kata dia, adalah memberi nasihat, oleh karena itu harus saling menasihati.

Tingkatkan pengetahuan dengan bertanya kepada ahlinya supaya objektivitasnya tinggi, sehingga agama tidak dipengaruhi emosional yang kaku. Agama memang ada sikap emosional tetapi emosional yang tidak berdasarakan syariah, maka akan terjadi pertentangan yang tidak perlu, tambah Kiai Rachmat.

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Jadi pendekatan utama adalah tidak berdasarkan dalil, tapi bagaimana agama disikapi dengan toleransi dan saling menasehati, pungkas pengasuh pondok Pesantren Al-Wafa, Cibiruhilir, Cileunyi, Kabupaten Bandung. (Muhammad Zidni Nafi/Abdullah Alawi)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/54901/katib-syuriah-pwnu-jabar-toleransi-kewajiban-seluruh-manusia

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Kamis, 27 Februari 2014

MWCNU Mojogedang Ikuti Karnaval Seni Budaya

Karanganyar, Pesantren Al-Amien Purwokerto. Para pengurus MWC NU serta banom-banom NU se-kecamatan Mojogedang mengikuti karnaval seni budaya yang digelar pemerintah daerah setempat. Acara tersebut dimulai dengan berjalan kaki dari lapangan Bendo dan berakhir di lapangan Mojogedang, Selasa (19/8).

Sebelumnya telah dilaksanakan koordinasi dengan Ketua Ranting NU dan banom NU yang ada di kecamatan Mojogedang guna mempersiapkan keikutsertaan NU dalam karnaval budaya ini dan inilah pertama kalinya NU terlibat dalam kegiatan tersebut, ungkap Ahmad salah satu pengurus Ranting NU kepada Pesantren Al-Amien Purwokerto, Rabu (20/8).

MWCNU Mojogedang Ikuti Karnaval Seni Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)
MWCNU Mojogedang Ikuti Karnaval Seni Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)


MWCNU Mojogedang Ikuti Karnaval Seni Budaya

Jadi selain pengurus MWC, pengurus Ranting NU masing-masing diminta untuk mengirimkan sepuluh orang untuk mengikuti kegiatan tersebut. Sementara dari Muslimat dan Fatayat sudah dikoordinasi langsung oleh ibu Umi Kultsum selaku ketua PAC Muslimat.

Meskipun dalam kegiatan antara banyak Fatayat yang bergabung ke Muslimat, namun dalam karnaval kali ini dipisahkan agar ada keterwakilan antara keduanya, ungkap Musyarofah salah satu kader Fatayat yang memilih merapa ke Muslimat.

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Sedangkan Danang selaku Ketua GP Ansor Mojogedang memilih untuk menampilkan group shalawat yang dipimpinnya. Mungkin masyarakat sudah sangat kental dengan beberapa pertunjukkan seni seperti kroncongan, klenengan, dan campursari, namun sedikit diantaranya yang mengenal rebana. Oleh sebab itu ini merupakan kesempatan emas bagi kami untuk memperkenalkan shalawat kepada masyarakat, ungkapnya.

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Sementara tujuan keikutsertaan NU dalam karnaval budaya kali ini adalah sebagai salah satu wujud ikut melestarikan seni nusantara yang ada di kecamatan Mojogedang, mendorong kreativitas insan seni, serta sebagai wadah silaturahmi antar warga, sehingga NU semakin dikenal luas oleh masyarakat setempat. (Ahmad Rosyidi/Abdullah Alawi)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/53956/mwcnu-mojogedang-ikuti-karnaval-seni-budaya

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Sabtu, 18 Mei 2013

Musnid Para Qariah Itu Bernama Ummi Saad (Mesir)

Pesantren Al-Amien Purwokerto - Jika ada semboyan mengatakan bahwa Al-Qur’an diturunkan di tanah Hijaz, ditulis di Turki dan dibaca di Mesir, mungkin benar adanya. Sebab secara realita, dari rahim Mesirlah tumbuh subur ahli qira’at, penghafal al-Quran dan bahkan qari’ berkaliber internasional.

Musnid Para Qariah Itu Bernama Ummi Saad (Mesir)
Musnid Para Qariah Itu Bernama Ummi Saad (Mesir)


Sebut saja Imam Muhammad al-Mutawali, musnid dunia, sanad tertinggi pada masanya, Ahmad al-Zayyat, pemuka ahli Qira’at pada masanya dan Ummu Saad, perempuan yang memiliki sanad tertinggi, perempuan zahidah berkalung cahaya al-Quran. Nama terakhir inilah yang jarang dikenal oleh para penghafal al-Qur’an. Padahal, secara kwalitas hafalan dan kredibilitasnya tidak jauh berbeda dengan kaum laki-laki.

Sejarah telah mencatat bahwa penghafal Al-Quran tidak hanya di monopoli oleh kaum adam saja. Seorang perempuan pun juga banyak yang hafal Al-Qur’an. Misalnya saja, Saidah Aisyah RA, Hafsah RA, Dll. Hanya saja mereka kalah tenar oleh kaum laki-laki. Sebab kaum perempuan, kala itu, kurang memiliki peran sentral, meskipun dalam hak-hak mereka terpenuhi dalam masalah pendidikan.

Dalam periwayatan Al-Qur’an, kalangan perempuan terbilang cukup langka apalagi dalam hal lain. Padahal pada saat itu Al-Qur’an merupakan sentral ajaran, bacaan, sumber dan pondasi agama. Oleh karena itu, di sini penulis akan mengupas secara tuntas untuk memperkenalkan perjalanan hidup perempuan dhorirah pencetak generasi qur’ani.

Perempuan ini, saat itu, terbilang cukup berani dan langka. Dibilang berani sebab saat itu hampir tidak ada perempuan yang berani menghafal dan mempelajari ilmu qira’at, yang dianggap “njelimet”. Dibilang langka sebab saat itu hampir tidak ada yang mempunyai hafalan yang kuat dan sanad qira’at yang tinggi.

Riwayat Hidup Ummu Saad Nama lengkapnya Ummu Sa’ad Muhammad Ali al-Najm. Dia lahir di Aleksandria, Mesir pada tanggal 11 Juli 1925 M. Kota Aleksandria, kota eksotis dengan pemandangan yang alami dengan semburan kuning emasnya matahari ketika pagi hari dan deburan pantai yang indah di sore hari, adalah tempat bermain pada masa kecilnya. Sebenarnya, dia berasal dari utara kota Kairo, yaitu kota Bandariyah, salah satu kota di Manufiyah, Mesir.

Ummu Saad merupakan satu-satunya perempuan –saat itu- yang memiliki sanad tertinggi di dunia dalam bidang Ilmu Qira’at. Walaupun mata penglihatannya terganggu (buta), namun beliau menjalani hidupnya dengan qana’ah demi berkhidmat kepada Al-Qur’an. Ia berkhidmah untuk Al-Qur’an dan qira’atnya lebih dari tujuh puluh tujuh tahun dan terbilang satu-satunya perempuan yang konsisten dalam bidang ilmu Qira’at Asyrah.

Dia dilahirkan dari keluarga yang kurang mampu. Belum genap satu tahun dari umurnya, beliau tertimpa penyakit mata. Sebagai keluarga yang kurang mampu, keluarganya menyadari bahwa jika anaknya tersebut dibawa ke dokter tentu akan membutuhkan dana yang sangat besar, sehingga timbul inisiatif dari orang tuanya untuk menyembuhkan penyakit mata anak kesayangannya itu memakai obat tradisonal, yaitu menghiasi matanya dengan celak atau diolesi dengan minyak. Hal demikian adalah kebiasaan yang dilakukan oleh ribuan keluarga yang kurang mampu pada saat itu untuk mengobati anak-anak tercintanya

yang memiliki penglihatan kurang baik.

Sebagaimana adat yang berlaku dalam suatu kampung di Mesir, jika ada anaknya terkena penyakit mata (buta), biasanya mereka menadzarkan anaknya untuk berkhidmat kepada Al-Qur’an, yaitu menghafal Al-Qur’an. Begitu pula yang dilakukan oleh keluarganya, menitipkan Ummu Saad kepada seorang guru untuk menghafal Al-Qur’an.

Perjalanan intelektual Ummu Saad Ketika umurnya menginjak lima belas tahun, perempuan zahidah ini telah berhasil menghatamkan Al-Quran dengan sempurna di madrasah Hasan Subhi, Aleksandria Mesir. Setelah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an, dia datang menemui Syaikhah Nafisah binti Abu ‘Ala’, seorang pengajar Al-Quran dan qira’atnya, untuk belajar Qira at Asyrah.

Namun sungguh mengejutkan, perempuan yang terbilang masih bau kencur ini berani mencoba menyelami samudra Ilmu Qira’at, ilmu yang terbilang susah karena banyaknya matan (syair dan nadzam

kaidah ilmu qira’at) yang harus dihafal sebelum mengarungi dalamnya samudra lautan ilmu itu. Yang lebih mengejutkan lagi, sang calon guru pun tidak semerta-merta menerima beliau sebagai muridnya, ada syarat yang harus dipenuhi sebelum beliau menjadi muridnya, yaitu berjanji untuk tidak menikah selama-lamanya.

Dengan azimah (keinginan) yang kuat, Ummu Sa’ad menerima syarat yang diajukan oleh calon gurunya itu, syarat yang terkenal memilukan bagi kaum perempuan. Satu hal yang mendorong Ummu Saad menerima syarat tersebut, yaitu karena Syaikhah Nafisah sendiri tidak pernah menikah dengan seorang laki-laki mana pun, (hanya “menikah” dengan Al-Qur’ an) walaupun banyak para pembesar, konglomerat dan priyayi pada masanya datang untuk meminangnya, ia bersikeras menolaknya.

Setelah umurnya genap duapuluh tiga tahun, perempuan yang berkalung cahaya Al-Qur’an ini telah mempu menyelesaikan Ilmu Qira’at, baik secara dirayatan wa riwayatan dan resmi mendapatkan rekomendasi tertulis dari gurunya untuk menyebarkan ilmunya berupa sanad Al-Qur’an yang bersambung kepada Rasulallah.

Dari pada itu, jika dikalkulasi masa belajarnya tentang Qira’at, hanya membutuhkan waktu delapan tahun. Dalam masa itu pula, secara otomatis beliau telah lanyah kitab syair al-Syatibi, al-Durrah dan Syair Tahrirat al-Syatibi.

Sebagai catatan: Nafisah binti ‘Ala’ sendiri memang tercatat sebagai perempuan yang berprinsip kuat, meskipun dia seorang perempuan, dia menolak menerima santri perempuan dengan alasan seorang perempuan akan menjadi seorang istri. Sebab setiap istri akan disibukkan oleh pernak-pernik rumah tangga, tenggelam dalam lautan problematika mahligai rumah tangga, sehingga mengenyampingkan hafalan Al-Qur’annya dan dengan demikian hafalannya akan terbengkalai.

Hal itulah yang menjadi kekwatirannya, sehingga dia enggan menerima santri perempuan. Pada saat umurnya memasuki delapan puluh tahunan, Syaikhakh Nafisah binti ‘Ala’ kembali kepada pangkuan Tuhannya dalam keadaan perawan.

Aktifitas Ummu Saad. Al-Qur’an dalam Al-Qur’an adalah motto hidupnya. Dalam aktifitas kesehariannya, Ummu Saad hanya disibukkan mengajarkan Al-Qur’an dan ilmu Qira’at. Tidak kurang dari ratusan murid datang belajar kepadanya, baik dari kaum perempuan, laki-laki, para pengajar, baik setingkat SD hingga para dosen. Tak terkecuali para muhandis dan dokter-dokter pun ikut serta belajar Al-Qur’an dan ilmu qira’at kepadanya.

Secara terjadwal, kegiatan beliau tertata rapi sebagai berikut: Dari pagi jam delapan pagi (8) sampai jam dua belas (12) khusus perempuan. Sementara, dari jam dua belas (12) sampai sampai jam delapan (8) malam khusus laki-laki. Dalam sehari, dia tidak pernah berhenti mengajar kecuali jika hendak menunaikan ibadah shalat dan mencicipi makanan untuk mengganjal perutnya.

Melihat ketatnya aktivitas Ummu Sa’ad ini, saya teringat dengan salah seorang guru saya yang sehari-harinya hanya disibukkan mengajarkan Al-Qur’an dan ilmu Qira’at. Sejak adzan subuh dikumandangkan beliau sudah duduk masjid al-Khusain bersama para penghafal Al-Qur’an hingga sore hari.

Terpancar cahaya keikhlasan, sikap tawadhu’ dan penuh dengan kekhusyu’an jika beliau menyimak para santri-santirnya. Tampak dari sikapnya yang ramah dan penuh dengan nilai-nilai tarbawi dalam mengajarkan Al-Qur’an, seperti bapak mengajarkan kepada anak-anaknya. Tidak marah, telaten bahkan menganggap santri-santrinya sebagai kawan diskusi di waktu senggang. Semoga beliau diberikan kesejahteraan dan umur yang panjang. Semoga kita bisa menirunya dikemudian hari. Amin. Metode Ummu Sa’ad.

Metode dalam mengajarkan murid-muridnya, beliau membatasi setiap yang menyetor hafalan tidak lebih dari satu jam dalam sehari. Di samping itu, beliau intens mengoreksi bacaan setiap per-juz-nya hingga khatam dengan bacaan salah satu Qira’at. Artinya, dia membebankan kepada seluruh santrinya untuk selalu konsisten mengulang hafalannya dan telaten dalam menghafal.

Bagi santri yang telah menyelesaikan hafalan Al-Qur’annya akan diberikan kepadanya ijazah sanad dan rekomendasi tertulis bahwa murid tersebut adalah: khadim Al-Qur’an, yang telah mengkhatamkan Al-Qur’an dengan baik dan sempurna. Namun, tidak semua murid mendapatkan ijazah sanad, hanya orang-orang yang mempunyai kredibilitas dan hafalan yang baik yang mendapatkannya.

Sebagai ungkapan rasa syukur kepada kepada Tuhannya, tahadduts bil ni’mah, beliau bercerita dalam satu kesempatan: selama enam puluh tahun belajar, mengajarkan dan mengulang hafalan Al-Qur’an menjadikan saya tidak lupa sedikitpun dari Al-Qur’an. Saya tahu persis letak setiap ayat, surah, juz dan bahkan ayat-ayat yang mutasyabihat (mirip) dengan ayat yang lainnya serta tata cara membaca setiap riwayat dalam ilmu qira’at.

Saya merasa bahwa lancarnya hafalan al-Qur’an saya persis seperti hafal nama saya sendiri. Tidak terlintas dalam khayalan saya untuk melupakannya (Al-Qur’an), walau satu huruf-pun atau salah. Saya tidak tahu apa-apa selain Al-Qur’an dan Qira’atnya. Saya tidak pernah belajar ilmu, atau mendengarkan pelajaran atau bahkan menghafal selain Al-Qur’an, Qira’at dan nadzam-nadzam yang berhubungan dengan Al-Qur’an dan qira’at.

Demikian ini merupakan ungkapan dan curahan hatinya tentang hafalannya. Masya Allah, sungguh kuat hafalannya, sehingga ia umpamakan hafalan al-Qur’annya seperti menyebut namanya sendiri. Sungguh ini adalah pemberian yang paling mulya dari-Nya.

Hal paling menyenangkan dalam hidup beliau adalah ketika sang murid telah mengkhatamkan Al-Qur’an, atau biasa dikenal dengan Yaumul Khotmi, hari khataman, di mana seorang murid mendapatkan ijazah sanad dan rekomendasi tertulis darinya.

Sebagai bukti keberhasilannya dalam mengajarkan ilmunya adalah dengan lahirnya seorang qari’ berkaliber internasional yaitu Dokter Ahmad Na’ina’, beliau adalah seorang dokter sekaligus qari’ yang paling dikenal saat ini. Suara emasnya selalu menghiasi speker di masjid-masjid dan acara-acara keagamaan di sebuah tempat.

Hikmah Tersirat Catatan penting dari perjalanan hidup perempuan zahidah di atas, yaitu: perempuan adalah hamba Allah yang mempunyai kesempatan besar untuk berlomba-lomba menjadi hamba-Nya yang terbaik. Perempuan tidak hanya dituntut berhias dalam kamar, bekerja seharian dalam dapur. Namun perempuan punya kesempatan untuk menjadi seorang hafidzah yang mutqinah. Memiliki peran yang sama dengan kaum laki-laki dalam masalah pendidikan.

Secara naluri perempuan lebih lembut dalam mendidik anak, bagaiamana seorang perempuan menjadikan anak-anaknya hafal al-Qur’an sementara ibunya yang punya peran penting tidak hafal al-Quran?

Jika saja Ummu Saad yang tidak melihat bisa mencetak generasi terbaik pada masanya, bagaimana dengan perempuan yang melek?

Seorang Ummu Saad yang lahir dari keluarga yang tidak mampu saja berani menghafal Al-Qur’an bahkan pada tingkat yang lebih tinggi yaitu, ilmu qira’at, bagaimana dengan perempuan yang dikaruniai oleh Allah SWT. harta berlimpah dengan kesempatan yang baik pula? [Pesantren Al-Amien Purwokerto]

Moh. Fathurrozi Nawafi, pengajar Al-Qur'an Madrasah Nurul Iman dan Ponpes Darussalam Keputih.

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/08/musnid-para-qariah-itu-bernama-ummi-saad-mesir.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pesantren Al-Amien Purwokerto sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pesantren Al-Amien Purwokerto. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pesantren Al-Amien Purwokerto dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock