Tampilkan postingan dengan label Santri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Santri. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Desember 2016

Menolak Tunduk Pada Amerika

Kesan seram, angker dan sangar terpancar dari sorot matanya yang tajam. Tapi, kesan itu akan terhapus seketika begitu ia mengembangkan senyumnya yang manis. Dialah Presiden Republik Islam Iran Mahmoud Ahmadinejad.

Saat menyempatkan diri menginjakkan kaki di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Jumat (12/5) lalu, dari tatap matanya, tersirat jelas keteguhan sikap dan kerasnya pendirian seorang Ahmadinejad. Dalam acara silaturrahmi dengan ulama NU dan sejumlah tokoh nasional, pemimpin yang layak disebut Singa Padang Pasir ini menuturkan banyak hal tentang negaranya. Termasuk rencana pengembangan nuklir berikut ancaman invasi Amerika Serikat (AS).

Sungguh luar biasa, di bawah kepemimpinannya, negara berkembang seperti Iran berani lantang berkata tidak kepada keadidayaan AS. Apalagi, ketika sang adidaya itu sudah berani campur tangan terhadap urusan dalam negeri Iran dengan banyak melancarkan protes dan kecaman.

Tak tanggung-tanggung, negara pimpinan Tony Blair Inggris dan beberapa negara sekutu lainnya, yang selama ini lebih banyak menganggukkan kepala saat berhadapan dengan dikte AS, ikut-ikutan menekan Iran.

Menolak Tunduk Pada Amerika (Sumber Gambar : Nu Online)
Menolak Tunduk Pada Amerika (Sumber Gambar : Nu Online)


Menolak Tunduk Pada Amerika

Saat ini, ia dan negara yang dipimpinnya sedang jadi pusat perhatian dunia karena program nuklirnya. AS bersama sekutunya mengancam akan memberi sanksi militer terhadap negeri Teluk Persia itu jika tak menghentikan aktivitas nuklirnya. Namun, mantan Walikota Teheran ini tak gentar. Ia menolak untuk menghentikan aktivitas nuklirnya.

Diceritakan, sikap penolakan itu pernah ia sampaikan juga kepada tim Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA). Ia mempertanyakan mengapa Iran dilarang mengembangkan program nuklir meski untuk kepentingan damai, sementara banyak negara lain, termasuk AS sendiri juga melakukan hal yang sama.

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Kalau nuklir dianggap buruk, kenapa kalian (Barat) memiliki. Kalau memang nuklir dianggap baik, kenapa kami (Iran) tidak boleh, ungkap Ahmadinejad.

Pria yang pernah berseteru dengan mantan Presiden Iran Mohammad Khatami ini tahu sikap keras kepalanya itu akan membuat AS dan sekutunya berang, tapi ia tak peduli. Di hadapan ulama NU dengan lantang ia mengatakan, Tak penting mereka (Barat) marah.

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Kalaupun AS dan sekutunya benar-benar akan menyerang Iran, Ahmadinejad dan rakyatnya tak takut. Ia menyatakan telah siap menghadapi berbagai resiko terburuk, seperti serangan militer AS bersama sekutunya. Bangsa Iran tidak takut, tegasnya.

Bahkan dengan nada meremehkan, Ahmadinejad meragukan kesungguhan ancaman negara pimpinan George W Bush berikut sekutunya yang akan menyerang negaranya. Menurutnya, AS tahu kalau Iran adalah sebuah kekuatan besar yang tak akan bisa ditaklukkan dengan mudah. Ancaman itu, baginya tak lebih dari upaya propaganda AS untuk menakut-nakuti Iran.

Jauh kemungkinan mereka (AS) akan menyerang negara kami. Itu hanyalah propaganda psikologi mereka saja untuk menakut-nakuti rakyat Iran dan juga bangsa Islam. Saya kira mereka tahu kalau Iran adalah kekuatan besar, Iran adalah bangsa yang besar, terang Ahmadinejad.

Namun demikian, sikap tak mau diatur oleh dominasi AS itu bukan berarti ia adalah seorang yang antikompromi. Dalam berbagai kesempatan ia selalu menekankan pentingnya menggunakan jalan dialog guna mencari penyelesaian atas ketegangan Iran-AS.

Republik Islam Iran sebagai negara yang memiliki aktivitas nuklir, siap melakukan pembicaraan dengan semua negara, termasuk dengan negara-negara yang memiliki kekuatan nuklir dan dunia internasional untuk menenangkan ketegangan ini, kata Ahmadinejad.

Dikatakan, ia bersedia berunding dengan siapa pun, termasuk presiden AS, guna menghindarkan konflik soal isu nuklir tersebut. Negaranya akan tetap melakukan negosiasi dengan catatan AS harus menghilangkan sikap dan tingkah lakunya yang buruk. "Kita tidak hanya membela hak kami, tetapi membela hak semua negara," jelasnya. Karena itu, ia Ahmadinejad menjelaskan, dengan semakin memperkuat posisi, maka Iran bisa membela kemerdekaan mereka. (Moh. Arief Hidayat)

Dari (Warta) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/4455/menolak-tunduk-pada-amerika

Rabu, 24 Agustus 2016

Jangan Menyerah Berdakwah!

Bantul, Pesantren Al-Amien Purwokerto. KH Asyhari Abta mengatakan, jangan menyerah untuk berdakwah yang kini penuh tantangan. Tantangan itu harus dijadikan sebagai penyemangat untuk melahirkan kreativitas dan inovasi. Aktivis dakwah sangat dinantikan perannya untuk menyebarkan nafas Islam Ahlussunnah wal- Jamaah.

Demikian dijelaskan Kiai Asyhari yang juga Rais Syuriah PWNU DIY tersebut kepada para aktivis dakwah Kodama (Korp Dakwah Mahasiswa) Krapyak, saat silaturrahim di ndalem-nya, di Bantul, Yogyakarta, Selasa (7/5).

Jangan Menyerah Berdakwah! (Sumber Gambar : Nu Online)
Jangan Menyerah Berdakwah! (Sumber Gambar : Nu Online)


Jangan Menyerah Berdakwah!

Jalankan program dakwah dengan baik, jangan sampai menyerah. Aktivis dakwah juga harus dekat dengan masyarakat, sehingga dakwahnya bisa menyentuh hati masyarakat, tegasnya.

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Kiai Asyhari juga berpesan, agar waktu shalat benar-benar dijaga dengan istikomah. Ketika datang waktu shalat, seorang aktivis dakwah juga mesti bisa jagani, mengadzani dan mengimami sekaligus. Jangan sampai waktu shalat dibiarkan lali, Aktivis dakwah harus menjadikan prinsip "Khoirunnas an-fauhum linnas" untuk mengayomi dan memakmurkan masjid, lanjutnya.

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Kiai Asyhari juga mendoakan kesuksesan para aktivis dakwah Kodama, sehingga di masa depan mampu menebarkan manfaat. Selain itu, aktivis dakwah juga harus mempererat hubungan dan kebersamaan.

Redaktur : Abdullah Alawi

Kontributor : Jamil dan Rokhim

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/44312/jangan-menyerah-berdakwah

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Senin, 02 Mei 2016

Menengok Tradisi Lebaran di Maroko

Tanger, Pesantren Al-Amien Purwokerto. Ketika berbicara lebaran tentunya setiap tempat memilki tradisi masing-masing, mulai dari menjelang hari raya sampai menyambut malam takbiran hingga berakhirnya shalat hari raya Idul Fitri.

Seperti halnya tradisi lebaran di Indonesia dengan Maroko banyak sekali perbedaannya. Namun ada juga sebagian tradisi yang mirip dengan Indonesia.

Menengok Tradisi Lebaran di Maroko (Sumber Gambar : Nu Online)
Menengok Tradisi Lebaran di Maroko (Sumber Gambar : Nu Online)


Menengok Tradisi Lebaran di Maroko

Tradisi Mudik

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Maroko juga memilki tradisi mudik seperti yang biasa dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Tradisi mudik bisa menjadi moment pengungkapan kemenangan dan kegembiraan setelah sebulan berpuasa.

Mudik lebaran yang setiap tahun menjadi peristiwa (mobilisasi) rutin luar biasa ini terkadang merepotkan untuk mendapatkan tiket keluar kota, jadi jika ingin pergi keluar kota seminggu sebelumnya harus sudah memesan tiket terlebih dahulu. Biasanya tempat tujuan utama bagi warga Indonesia khususnya pelajar Indonesia di Maroko tatkala lebaran tiba yaitu di kota Rabat. Tepatnya di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Rabat.

Berburu Baju Baru

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Lebaran erat sekali hubungannya dengan baju baru. Ini yang menarik. Mulai H-7 toko-toko pakaian dipadati pengunjung. Mereka berdesak-desakan untuk memilih-milih busana yang akan mereka beli demi meramaikan tradisi Baju Baru di Hari Lebaran. Mereka berlomba-lomba untuk memperbarui tampilan mereka saat Lebaran. Tradisi semacam ini yang biasa dijumpai di tanah air ternyata tak jauh berbeda dengan Maroko. Masyarakat Maroko khususnya kaum hawa rela berdesak-desakan di tengah teriknya matahari hingga menjelang maghrib, mereka terlihat begitu antusias untuk membeli baju baru demi untuk merayakan hari lebaran. Hampir di semua pasar-pasar di pusat kota selalu di penuhi para pemburu baju baru.

Biasanya para pria membeli pakaian tradisional Maroko yang disebut Djellaba (jubah panjang di sertai penutup kepala) lengkap dengan sandal tradisional. Untuk kaum wanitanya biasanya membeli Takchita atau Kaftan dan juga sandal tradisonal khas Maroko yang sangat cantik untuk dipakai di hari raya.

Malam Takbiran

Tatkala matahari tenggelam di akhir bulan Ramadhan, gema suara takbir dari corong-corong masjid langsung menyambutnya dengan merdu dan membahana. Suara takbir semakin menggema tatkala iringan sepeda motor dan mobil berarakan di jalan raya sambil mengumandangkan takbir dengan serempak. Tak hanya itu, letusan kembang api juga ikut mewarnai kemeriahan di hari kemenangan ini. Maklumlah, hari ini adalah Hari Raya Idul Fitri, hari kemenangan umat Islam, setelah satu bulan lamanya mereka menjalankan ibadah Ramadhan. Tapi suasana itu bisa dirasakan di Indonesia lain halnya di Maroko yang terkenal dengan sebutan negeri seribu benteng ini. Susana malam takbiran di Maroko laksana kota mati, tak ada suara takbir menggema dari berbagai sudut kota, baik di masjid atau musholla. Tak ada istilah takbir keliling dan kembang api.

Ketika keluar dari rumah jalanan pun terlihat sepi, lalu lalang kendaraan berjalan normal seperti biasanya. Seolah tidak ada moment besar terjadi pada hari ini, Ternyata Maroko menyebut hari raya Idul Fitri sebagai hari raya ashor (kecil) dan hari raya Idul Adha sebagai hari raya kabir (besar) jadi wajar saja kalau masyarakat Maroko lebih suka untuk merayakan hari raya qurban dari pada hari raya Idul Fitri. Tidak hanya itu, Masyarakat Maroko juga mengganggap sebuah aib jika tidak melaksanakan qurban. Jadi bisa dipastikan ketika hari raya qurban tiba semua masyarakat Maroko sudah mempersiapkan hewan kurban.

Untunglah setiap malam takbiran tiba KBRI Rabat selalu mengundang semua warga Indonesia di Maroko untuk mengumandangkan takbir bersama di ruang serba guna sekaligus pemberian zakat bagi semua warga Indonesia yang hadir. Setidaknya pertemuan tersebut bisa mengobati rasa rindu kepada keluarga tercinta di kampung halaman.

Ketupat

Layaknya baju baru, lebaran juga identik dengan ketupat atau sering disebut kupat. Orang Jawa mengartikan istilah kupat dengan ngaku lepat atau mengakui kesalahan. Biasanya, ketupat disajikan bersama opor ayam dan sambal goreng. Ini pun ternyata ada makna filosofisnya. Opor ayam menggunakan santan sebagai salah satu bahannya. Santan, dalam bahasa Jawa disebut santen yang mempunyai berkait dengan pangapunten alias memohon maaf. Karena dekatnya kupat dengan santen ini, ada pantun yang sering dipakai pada kata-kata ucapan Idul Fitri: Mangan kupat nganggo santen/ menawi lepat, nyuwun pangapunten. (Makan ketupat pakai santan/bila ada kesalahan mohon dimaafkan). Tapi lagi-lagi ini hanya bisa dirasakan di tanah air yang memilki banyak makanan khas yang kaya akan cita rasanya.

Sementara Maroko punya sajian istimewa tersendiri buat lebaran yaitu pie ayam. Hidangan ayam yang satu ini rasanya gurih dan sedikit asam. Diberi topping almond yang renyah juga dibumbui dengan air jeruk lemon. Gurih-gurih renyah dan asam! Untuk menandai berakhirnya bulan puasa umumnya dilakukan berbagai persiapan. Seperti membuat halawiyat (manisan) atau kue kering dan menyiapkan hidangan lezat dan mewah. Baik untuk dinikmati bersama keluarga atau diberikan sebagai hantaran. Tradisi ini dilakukan warga Maroko menjelang lebaran, biasanya para wanita sibuk di dapur untuk menyuapkan kue-kue. Namun ada juga yang memilih untuk membeli kue jadi di toko terdekat.

Selanjutnya makanan tersebut dihidangkan diatas atas meja ketika hari lebaran tiba. Sebelum menyantapnya warga Maroko terlebih dahulu menyantap Dajaj Muhamar yaitu ayam panggang yang disajikan dalam piring besar dan dimakan bersama-sama anggota keluarga lainnya. Setelah itu, biasanya seluruh keluarga menikmati teh khas Maroko yang disebut Atai.Teh disajikan dalam teko berdesain cantik dan unik yang disebut Barad.

Didalam penuangan Atai ini memilki aturan tersendiri, biasanya setelah dituangkan ke dalam gelas kemudian dimasukan lagi ke dalam teko dan dituangkan lagi hingga tiga kali. Kata warga Maroko disitulah letak kenikmatan cita rasa Atai yang sesungguhnya. Jadi jika tidak melalui proses tersebut bagi mereka kurang sempurna. Untuk menemani minuman Atai, biasanya ada makanan pendamping yang diberi nama Zamita.

Bagi WNI yang merayakan lebaran di negeri seribu benteng ini jangan berharap bisa menemukan restoran yang menjual makanan khas Nusantara, jangankan menu masakannya, untuk mendapatkan bumbunya saja tidak ada pasar atau tempat khusus yang menjual bumbu masakan khas Indonesia. Satu-satunya cara untuk mendapatkan menu lebaran tersebut dengan mendatangi wisma duta Indonesia KBRI Rabat untuk melaksanakan sholat Idul Fitri yang tiap tahun diadakan di halaman wisma tersebut.

Kegiatan ini merupakan acara rutinan yang diadakan oleh KBRI Rabat untuk mengumpulkan semua warga Indonesia di Maroko. Selesai sholat Ied, semua bersalam-salaman sekaligus halal bihalal di tempat kediaman Dubes RI di Maroko, sekitar setengah jam kemudian dilanjutkan dengan acara makan-makan di tempat kediaman dinasnya yang asri, luas dan rimbun ini. Disinilah segala jenis makanan nusantara bisa ditemui dan dinikmati, mulai dari opor ayam, ketupat, lontong, soto madura, dan lain-lain.

Lebaran di Wisma Duta Indonesia juga merupakan ajang bertemunya seluruh warga Indonesia dari segala penjuru Maroko. Bertemu dengan orang-orang yang senasib dan seperjuangan, membuat rasa sedih dan nelangsa hilang saat itu meski usai acara tersebut rasa kangen rindu terhadap keluarga di rumah kembali menyelimuti.

Redaktur : Mukafi Niam

Kontributor: Kusnadi El-Ghezwa

Dari (Internasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/46430/menengok-tradisi-lebaran-di-maroko

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Jumat, 18 Desember 2015

Kemenag Kalbar Nobatkan MTs Aswaja Juara I Humas Award

Pontianak, Pesantren Al-Amien Purwokerto. Kantor Wilayah Kementerian Agama Kalimantan Barat menobatkan MTs Aswaja sebagai juara terbaik I karena paling aktif mengirim berita untuk website milik Kemenag Kalbar. Sebagai juara I, madrasah tersebut mendapat hadiah Humas Award. Sementara terbaik kedua diraih Madrasah Kubu Raya dan juara ketiga diraih Madrasah Aliyah Negeri Sintang.

Penobatan juara disampaikan pada Hari Amal Bhakti Kementerian Agama Republik Indonesia ke-71 di aula H. Abdur Rani Mahmud, Komplek IAIN Pontianak, pada 7 Januari lalu.

Kemenag Kalbar Nobatkan MTs Aswaja Juara I Humas Award (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemenag Kalbar Nobatkan MTs Aswaja Juara I Humas Award (Sumber Gambar : Nu Online)


Kemenag Kalbar Nobatkan MTs Aswaja Juara I Humas Award

Kepala MTs Aswaja Kota Pontianak Sholihin H. Z menerima penghargaan Humas Award yang diserahkan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Barat H. Syahrul Yadi.

Sholihin, Kepala MTs yang pernah meraih juara I Kepala MTs berprestasi tahun 2015 itu, mengaku tidak menyangka madrasah yang dipimpinnya ditetapkan sebagai terbaik I dalam ajang Humas Award.

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Pesantren Al-Amien Purwokerto

"Tentu ini menjadi pemacu dan pemicu kami untuk berkarya lebih nyata. Selain memberikan kontirbusi untuk website, juara tersebut dengan sendirinya mengangkat nama MTs Aswaja. Mudah-mudahan nantinya akan muncul karya-karya lain khususnya dari intern madrasah kami," katanya melalui siaran pers.

Penyerahan juara tersebut dihadiri pejabat Kanwil Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Barat, seluruh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota dan Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kanwil Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Barat serta undangan terkait. Hadir pula perwakilan IAIN Pontianak Pembantu Rektor I, Pembantu Rektor III dan Dekan FTIK IAIN Pontianak. (Red: Abdullah Alawi)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/74568/-kemenag-kalbar-nobatkan-mts-aswaja-juara-i-humas-award-

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Senin, 07 April 2014

NU Jangan Mau Dipinjam Wahabi atau Syiah

Purwakarta, Pesantren Al-Amien Purwokerto. Rais Syuriyah PBNU KH Masdar Farid Masudi mengatakan, di antara karakteristik yang melekat pada sebuah agama adalah munculnya berbagai perbedaan yang melahirkan setidaknya dua kelompok, yaitu tekstual dan yang mengedepankan tokoh.

"Dalam agama Islam kelompok tekstual diwakili oleh Wahabi dan kelompok tokoh diwakili Syiah, Sayidina Ali, Hasan, Husain dan seterusnya. Pemikiran kedua kelompok ini enggak bakal ketemu, enggak bakal nyambung sehingga terjadi konflik," ungkapnya pada Pendidikan Kader NU di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, pada Sabtu (27/2)

NU Jangan Mau Dipinjam Wahabi atau Syiah (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Jangan Mau Dipinjam Wahabi atau Syiah (Sumber Gambar : Nu Online)


NU Jangan Mau Dipinjam Wahabi atau Syiah

Ia menambahkan, posisi Ahlussunah wal-Jamaah pada umumnya, dan NU pada khususnya, berada di antara kedua kelompok tersebut sehingga sangat disarankan kepada warga NU untuk tidak terjebak dan terlibat dalam konflik keduanya.

"Posisi NU moderat, strategis. Jangan terprovokasi oleh Wahabi atau Syiah. Jangan mau dipinjam Wahabi atau Syiah karena kalau sampai NU ngurusi konflik mereka, mereka akan senang, nanti NU yang akan dikeroyok," tambahnya.

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Untuk menyikapi konflik Wahabi -Syiah, sambung dia, bisa menggunakan teori kedokteran, yaitu teori patogin yang menyatakan bahwa di kanan-kiri tubuh kita banyak virus yang menyerang, virus-virus tersebut ada yang baik ada juga yang jahat.

"Apabila daya tahan tubuh kita baik, maka virus yang ada di kanan-kiri yang sebelumnya memusuhi akan menjadi bersahabat. Sebaliknya apabila daya tahan tubuh lemah, maka virus yang tadinya bersahabat akan menjadi musuh," terangnya.

Begitu pun dengan Wahabi-Syiah, sikap NU mestinya adalah memperkuat antibody supaya kuat dan kebal sehingga dengan terlibat dalam konflik keduanya hanya akan menguras energi.

"Jangan mau jadi Jongos Wahabi untuk gebukin Syiah, jangan mau jadi jongos Syiah buat gebukin Wahabi. Itu namanya gebukin gratisan. Kita harus hemat energi," tandasnya. (Aiz Luthfi/Abdullah Alawi)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/66121/nu-jangan-mau-dipinjam-wahabi-atau-syiah

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Jumat, 08 November 2013

Pesantren Tersirat dalam Al-Quran Surat Baraah 122

Jepara, Pesantren Al-Amien Purwokerto. Musytasar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Syaroni Ahmadi mengatakan, keberadaan pesantren perlu mendapatkan dukungan dari masyarakat supaya tetap eksis sebgai lembaga yang mengajarkan Islam.

Ia menyampaikan hal itu pada tausiyah tahtiman Al-Quran bin nadlor pesantren Roudlotul Huda dan Roudlotul Hidayah desa Margoyoso kecamatan Kalinyamatan kabupaten Jepara, Senin (16/6) sore.

Pesantren Tersirat dalam Al-Quran Surat Baraah 122 (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Tersirat dalam Al-Quran Surat Baraah 122 (Sumber Gambar : Nu Online)


Pesantren Tersirat dalam Al-Quran Surat Baraah 122

Keberadaan pesantren menurut dia, termaktub dalam Surat Baraah: 122. Intinya, orang Islam tidak baik berperang semua, namun harus ada yang menuntut ilmu agama. Jika sudah pandai ilmu ditularkan kepada yang lain, tambahnya.

Saking pentingnya pesantren, Kiai kharismatik asal kota Kretek tersebut menyebut beberapa madrasah di Kudus semisal Qudsiyah, TBS, Banat, Muallimat dan MAN Kudus 2 memiliki pesantren.

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Ia menjelaskan ganjaran perang hampir sama dengan menuntut ilmu. Perang yang dihukumi fardlu kifayah dikatakan sahid dunia akhirat. Sedangkan santri yang wafat dalam majlis pengajian maka dikatakan sahid akhirat, imbuh Kiai Syaroni.

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Ke depan, santri tersebut akan menjadi pemimpin yang disegani bukan ditakuti. Pemimpin disegani ialah yang dicintai rakyatnya. Sedangkan yang ditakuti, pemimpin yang dibenci rakyat. Kiai Syaroni menegaskan pemimpin yang disegani ialah yang berakhlak mulia dan berilmu pengetahuan. (Syaiful Mustaqim/Abdullah Alawi)

Dari (Pesantren) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/52733/pesantren-tersirat-dalam-al-qur039an-surat-baraah-122

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Senin, 17 Juni 2013

Kunci Ngaji Al-Quran Menurut Kyai Arwani

Pesantren Al-Amien Purwokerto - KH Arwani Amin Kudus Rahimahullah pernah memberikan wejangan kepada santri-santrinya. Berikut pesan KH. Arwani Amin:

Kunci Ngaji Al-Quran Menurut Kyai Arwani - Pesantren Al-Amien Purwokerto
Kunci Ngaji Al-Quran Menurut Kyai Arwani - Pesantren Al-Amien Purwokerto


Kunci Ngaji Al-Quran Menurut Kyai Arwani

Kuncine Ngaji Al Qur'an iku ono telu: 1. Ojo nyawang sopo gurune (Jangan melihat siapa gurunya)

2. Ora usah isin karo umur (Jangan malu karena umur)

3. Suwe waktune (lama waktu tempuhnya)

------------------ Ora gelem ngaji Al Qur'an mergo pangkat/kedudukan gurune luwih rendah? Gusti Kanjeng Nabi Muhammad Saw iku muride malaikat Jibril As ing babakan Wacan Al Qur'an. Beliau ora isin ngaji Al Qur'an (musyafahah) marang Malaikat Jibril senajan secara pangkat derajat/kedudukan malaikat Jibril as iku luwih rendah.

Artinya: Tidak boleh ada lagi alasan tidak mau mengaji al Qur'an karena kedudukan guru lebih rendah. Nabi Muhammad saw saja tidak malu mengaji alquran kepada malaikat jibril walaupun derajat Rasululloh jauh diatas malaikat Jibril. KH Arwani Amin Kudus (Sarung putih) diapit oleh KH. Rofiq Hadziq alm (kanan)

dan KH. Ahmad Manshur alam (kiri). Dok. Madrasah TBS Kudus

Males ngaji Al Qur'an mergo umur wis Tua? Gusti kanjeng Nabi Muhammad Saw iku mulai ngaji Al Qur'an marang malaikat Jibril as umur 40 tahun.

Artinya: Tidak boleh ada lagi alasan tidak mau mengaji Al Qur'an karena umur sudah tua. Nabi Muhammad saja mulai belajar al Qur'an kepada malaikatJibril pada umur 40 tahun.

Isin ngaji Al Qur'an mergo suwe waktune? Kanjeng Nabi Saw ora pernah ngrasa isin (minder) ngaji Al Qur'an marang malaikat Jibril as awit beliau Saw umur 40 tahun tekane 63 tahun (wafat).

Artinya: Tidak boleh ada lagi alasan tidak mau mengaji al Qur'an karena waktunya lama. Nabi Muhammad saja menerima wahyu al Qur'an 23 tahun lamanya. [Pesantren Al-Amien Purwokerto]

Dari : http://www.dutaislam.com/2015/11/kunci-ngaji-al-qur-menurut-kyai-arwani.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pesantren Al-Amien Purwokerto sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pesantren Al-Amien Purwokerto. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pesantren Al-Amien Purwokerto dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock