Tampilkan postingan dengan label Nasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasional. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 April 2017

Gus Mus Ingatkan Para Kiai Tak Terjebak Pilkada

Yogyakarta, Pesantren Al-Amien Purwokerto. Wakil Rais Aam PBNU KH A Mustofa Bisri mengingatkan kalangan kiai dan pesantren agar memainkan peran sebagai penjaga akhlak bangsa, dan tidak terjebak dalam peran-peran instrumental, seperti turut menjadi tim sukses calon dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada).

Kiai yang akrab disapa Gus Mus ini menyampaikan hal tersebut pada pembukaan sarasehan Pesantren dan Krisis Akhlak Bangsa yang diselenggarakan Komunitas Majma Buhust An-Nahdliyyah di Magelang, Jawa Tengah, Ahad, (19/10) lalu.

Di tengah merebaknya korupsi oleh para pejabat, peran kiai sebagai penjaga moralitas ditunggu sekaligus layak dipertanyakan secara kritis, apakah menjadi solusi atau justru bagian dari masalah bangsa.

Gus Mus Ingatkan Para Kiai Tak Terjebak Pilkada (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus Ingatkan Para Kiai Tak Terjebak Pilkada (Sumber Gambar : Nu Online)


Gus Mus Ingatkan Para Kiai Tak Terjebak Pilkada

Menurut Gus Mus, situasi kebangsaan saat ini benar-benar telah krisis. Korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan bukan saja melanda kalangan eksekutif dan legislatif namun juga Yudikatif. Penyelewengan penegak hukum merupakan pertanda masyarakat sedang menyongsong masa kehancuran. Berbagai kasus yang mencuat saat ini, bagi Gus Mus, juga mengindikasikan adanya upaya menghabisi orang-orang baik di negeri ini.

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Dalam sarasehan tersebut dibahas berbagai persoalan kebangsaan, kepesantrenan, dan ke-NU-an. Forum ini dihadiri sekitar 40 kiai dari DI Yogyakarta dan Karesidenan Kedu, Jawa Tengah. Majma Buhust An-Nahdiyyah adalah forum diskusi yang didirikan KH Mustofa Bisri (Rembang) dan KH Mahfudz Ridwan (Salatiga), yang aktif mengkaji berbagai topik ke-NU-an, kepesantrenan, dan kebangsaan.

Turut hadir KH Abdul Ghofur Maimun dari Sarang, KH Yahya Cholil Tsaquf (Rembang), KH Mahfudz (Maron), dan KH Muadz Thohir (Pati). Hadir pula kiai dari Magelang, yaitu KH Said, KH Aziz, dan Dr Thonthowi. Sedangkan dari Yogyakarta, tampak KH Asyhari Abta, KH Mutashim Billah, Dr Waryono Abdul Ghofur, Dr Sahiron, dan Kiai Jadul Maula.

Pesantren Al-Amien Purwokerto

KH Muzammil (Bantul), KH Masduqi Mahfudz, KH Dr Tamyiz Mukharrom, KH Abdullah Hasan (Sleman), KH Munir (Kota Gede), Muhammad Mustafied (Mlangi), dan puluhan Kiai muda lainnya juga turut serta dalam kegiatan tersebut. (Dwi Khoirotun Nisa/Mahbib)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/47779/gus-mus-ingatkan-para-kiai-tak-terjebak-pilkada

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Minggu, 05 Februari 2017

Kesan Raja Salman terhadap Rakyat Indonesia

Jakarta, Pesantren Al-Amien Purwokerto. Kunjungan diplomatik Raja Saudi Arabia Salman bin Abdul Aziz Al-Saud ke Indonesia, Rabu (1/3) menjadi perbincangan utama media dan netizen di dunia maya. Perbincangan heboh itu bahkan terjadi sebelum Raja Salman menginjakkan kakinya di Indonesia karena sejumlah hal yang tidak biasa dalam sebuah kunjungan diplomatik.

(Baca:Rombongan Kunjungan Raja Saudi, 1.500 Orang, 10 Menteri, dan 25 Pangeran)

Kesan Raja Salman terhadap Rakyat Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Kesan Raja Salman terhadap Rakyat Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)


Kesan Raja Salman terhadap Rakyat Indonesia

Namun, Indonesia menyambut baik kunjungan Raja Saudi untuk pertama kalinya setelah terakhir 47 tahun silam. Raja Salman pun memberikan kesan tersendiri terhadap sambutan Presiden Joko Widodo dan rakyat Indonesia yang dinilainya hangat dan ramah.

Saya sangat senang sekali saat ini berada di Indonesia. Senang sekali dengan rakyat Indonesia, dan saat ini saya sedang bersama yang mulia Presiden Indonesia, ujar Raja Salman dalam kesempatan makan bersama Jokowi di Istana Bogor, Jawa Barat, Rabu.

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Pernyataan Raja Salman itu direkam Presiden Jokowi dalam video vlog pribadinya saat makan bersama. Dalam video yang diunggah juga di Fanpage Presiden Joko Widodo, Raja Salman menuturkan bahwa rakyat Indonesia baginya adalah saudara.

Dan bagi kami, rakyat Indonesia merupakan saudara kami dan juga rakyat yang sangat mulia, ujar mantan Gubernur Riyadh ini.

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Sebelumnya, Jokowi memberikan keterangan dalam vlognya bahwa dirinya sedang bersantap siang dengan Raja Salman dengan mengarahkan kamera videonya ke arah sang Raja yang terlihat sedang menikmati makanan berkuah.

Kunjungan Sri Raja Salman ini merupakan kunjungan balasan atas kedatangan saya ke Arab Saudi tahun 2015 yang lalu, ujar Jokowi.

Saat itu, imbuh Jokowi, dirinya menyampaikan agar Raja Salman bisa berkunjung ke Indonesia. Kunjungan ini juga merupakan kunjungan bersejarah setelah 47 tahun Raja Saudi Arabia datang ke Indonesia.

Mantan Wali Kota Solo ini berharap, kunjungan ini bisa meningkatkan hubungan baik antara Indonesia dan Saudi Arabia.

Hubungan yang saling menguntungakan, tegas Jokowi.

Dalam kunjungan ini, pemerintah Indoensia dan Arab Saudi menandatangani sejumlah kerja sama strategis di beberapa bidang. Selanjutnya, Raja Salman diagendakan memberikan sambutan di DPR RI dan berkunjung ke Masjid Istiqlal.

Dalam rentang kunjungan yang berlangsung pada 1-9 Maret 2017 ini, Raja Salman dan ribuan delegasi lain juga akan berlibur ke Bali. (Fathoni)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/75808/kesan-raja-salman-terhadap-rakyat-indonesia

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Senin, 02 Januari 2017

Bersama Membangun Bangsa dalam Keberagaman

Yogyakarta, Pesantren Al-Amien Purwokerto. Maraknya tindakan intoleransi dan kekerasan antarumat beragama yang berkembang saat ini membuat Forum Pengasuh Pesantren Muda (FP2M) Jawa Timur mengadakan kunjungan dan Dialog Lintas Iman dengan tema Bersama dalam Keberagaman untuk Membangun Bangsa ke Komunitas Gusdurian Yogyakarta.

Acara tersebut bertempat di Forest Kitchen & Gelato, Kamis (18/8). Hadir dalam acara tersebut antara lain Pengasuh Muda dari Jawa Timur, Gusdurian Jogja, dan Delegasi lintas Iman, Gus, pendeta, dan Pastur Yogyakarta.

Bersama Membangun Bangsa dalam Keberagaman (Sumber Gambar : Nu Online)
Bersama Membangun Bangsa dalam Keberagaman (Sumber Gambar : Nu Online)


Bersama Membangun Bangsa dalam Keberagaman

Tujuan dilaksanakan acara ini yang pertama adalah silaturahim dan menjalin hubungan hati-ke hati antarumat beragama, kata Zahrul Azhar Asad.

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Gus Han, sapaan akrabnya menambahkan bahwa komunikasi antarumat beragama yang ada di Indonesia diharapkan menjadi panutan bagi keberagaman dan keberagamaan di seluruh dunia.

Banyak sekali kasus intoleransi antarumat beragama yang terjadi. Bisa jadi yang melakukan malah bukan dari orang yang beragama dan tidak memiliki pengetahuan agama yang dalam. Tetapi memanfaatkan agama untuk kepentingan mereka dan mendapatkan keuntungan, lanjut Gus Han.

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Robertus Triwidodo PR, Pastur Gereja Katholik Santrobetus Paulus menjelaskan bahwa di Jogja sendiri yang kita kenal sebagai The City Of Tolerance belakangan ini juga marak laku intoleransi antar umat beragama. Beberapa kasus misalnya penutupan tempat ibadah, pelarangan aktivitas ibadah dan lain sebagainya.

Ini adalah tantangan kita bersama, bagaimana membangun kerukunan di dalam masyarakat di tengah keberagaman ini. Kalau kita kuat dalam membangun kerukunan, seperti rumput kalau akarnya sudah kuat dan rekat meskipun ada provokasi pasti akan kuat juga, tegasnya.

Indrianto Adiatmo selaku pendeta di GKJ Solo Berharap bahwa para pemuda di indonesia memiliki sikap keterbukaan dan toleransi yang sama seperti yang dilakukan oleh Forum Pengasuh Pesantren Muda dan juga Gusdurian.

Satu yang menjadi pedoman agama Islam khususnya NU dan Insyaallah agama lain juga sepakat bahwa mari kita eratkan tali persaudaraan kita dan janganlah kita berpecah belah. Mari kita bersama mengembalikan semangat dan kesadaran untuk menghargai kebhinekaan dan tidak terjebak dalam gerakan-gerakan intoleransi sampai pada perilaku kekerasan, jelas Misbakhul Munir pengasuh Pesantren Pare Kediri. (Muhlisin/Fathoni)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/70555/bersama-membangun-bangsa-dalam-keberagaman

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Selasa, 27 September 2016

Kiai Said: Pendirian Masjid Istiqlal Digagas KH Wahid Hasyim

Jakarta, Pesantren Al-Amien Purwokerto. Masjid Istiqlal sebagai masjid nasional kerap menjadi destinasi warga Indonesia bahkan tamu kenegaraan dari luar negeri. Tercatat, Presiden AS 2004-2016 Barack Obama dan Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz Al-Saud menyempatkan diri menyambangi masjid yang terletak berdampingan dengan Gereja Katedral ini saat mengadakan kunjungan diplomatik.

Di balik kemegahannya, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengungkap sejarah pendirian Masjid Istiqlal. Hal ini ia jelaskan saat memberikan pidato dalam peringatan Harlah ke-71 sekaligus pelantikan Pimpinan Pusat (PP) Muslimat NU periode 2016-2021, Selasa (28/3) di Masjid Istiqlal.

Kiai Said: Pendirian Masjid Istiqlal Digagas KH Wahid Hasyim (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Said: Pendirian Masjid Istiqlal Digagas KH Wahid Hasyim (Sumber Gambar : Nu Online)


Kiai Said: Pendirian Masjid Istiqlal Digagas KH Wahid Hasyim

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqafah Ciganjur, Jakarta Selatan ini menerangkan bahwa pendirian Masjid Istiqlal berkat gagasan putra Hadltraussyekh KH Hasyim Asyari, yaitu KH Abdul Wahid Hasyim pada tahun 1950.

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Istiqlal dibangun atas idenya KH Wahid Hasyim tahun 1950. Ia usul kepada Presiden Soekarno, dinamakan Al-Istiqlal, masjid kemerdekaan, ungkap Kiai Said di hadapan sekitar 23.000 anggota Muslimat NU dari sejumlah daerah yang membanjiri Istiqlal.

Atas ide KH Wahid Hasyim saat itu, kata Kiai Said, Bung Hatta mengusulkan lokasi pembangunannya di Bundaran HI, lalu Bung Karno punya usul di tempat sekarang ini. Akhirnya dibuat dan tahun 1978 diresmikan. Pembangunanannya menghabiskan biaya Rp 7 miliar.

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Tantangan Muslimat

Usai melantik PP Muslimat NU, Kiai Said menekankan pentingnya perjuangan Muslimat yang harus senantiasa dijaga dengan melakukan berbagai inovasi dan gagasan. Kiai asal Kempek, Cirebon ini menegaskan bahwa khidmah Muslimat bukan hanya dalam keagamaan, tetapi juga harus membangun peradaban.

Tantangan Ibu Khofifah tidak mudah. Bukan hanya berupaya menjaga akidah dan syariat, tetapi tsaqafah dan hadharah, ujar Guru Besar Ilmu Tasawuf ini.

Ia menjelaskan, Tsaqafah adalah perjuangan yang mencakup kemajuan intelektual dan ilmu pengetahuan, sedangkan hadharah bermakan menjalankan perkara dunia dengan sebaik-baiknya. Dua-duanya harus dipadukan agar dapat mewujudkan kehidupan yang lebih baik.

"Jika dua-duanya maju, dinamakan tamaddun, orangnya muttamaddin. Cita-cita kita adalah membangun masyarakat yang maju di bidang tsaqafah dan hadharah," jelas Kiai Said.

Lebih rinci ia menerangkan, Tsaqafah harus cerdas, pandai, dan berpendidikan. Tanpa semua itu, tidak mungkin maju. Ia menegaskan bahwa Nahdliyin harus mencapai target menjadi NU yang intelek sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad dan berperan di segala bidang.

Muslimat NU harus cerdas dan pinter. Selain harus mengedepankan sikap tasamuh (toleran). Mengapa kita dihormati orang lain? Karena warga NU selalu mengedepankan sikap tasamuh, tegasnya. (Fathoni)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/76515/kiai-said-pendirian-masjid-istiqlal-digagas-kh-wahid-hasyim

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Sabtu, 06 Agustus 2016

Proses Kaderisasi NU Jelas

Pamekasan, Pesantren Al-Amien Purwokerto. NU adalah organisasi yang paling jelas proses kaderisasinya. Tidak hanya berhenti di kalangan mahasiswa dan atau pelajar di lingkungan lembaga pendidikan, melainkan juga hingga ke daerah-daerah terpencil di pelosok desa. Ada istilah Pimpinan Ranting (PR) untuk kepengurusan NU dan perangkat-perangkatnya di tingkat akar rumput.

Kesimpulan demikian terbesit ketika sebanyak 30 orang PR IPNU-IPPNU Desa Pamaroh sudah dibentuk, Ahad (8/4) lalau. Pembentukan yang ditempatkan di balai desa tersebut berjalan secara khidmat, disaksikan oleh puluhan petinggi NU Desa Pamaroh. Para pengurus harian IPNU-IPPNU Kadur sebagai penyelenggara dan ketua PC IPNU Pamekasan Nasiruddin menambah suasana pembentukan kian mengesankan.

Proses Kaderisasi NU Jelas (Sumber Gambar : Nu Online)
Proses Kaderisasi NU Jelas (Sumber Gambar : Nu Online)


Proses Kaderisasi NU Jelas

Pada kesempatan itu, ketua IPNU Kadur Faisol Ansori menekankan betapa pentingnya menyeriusi proses kaderisasi. Dirinya sangat menaifkan ketika ada seseorang langsung dimasukkan ke dalam kepengurusan organisasi NU tanpa melalui proses kaderisasi yang matang dan panjang.

Kami ke sini dalam rangka silaturahim serta membentuk kader-kader yang mau serius mengabdi dan belajar di NU, tegas Faisol. Dan siapa pun yang tidak serius dalam belajar, dengan berat hati kami sangat tidak mereka kader semacam itu. Berorgansiasi di NU butuh keseriusan dan keuletan dalam belajar.

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Berumah tangga saja, lanjut Faisol, masih memerlukan kader. Kehidupan rumah tangga tentu dinilai kurang sempurna tanpa kehadiran seorang kader (keturunan) yang nantinya menjadi penerus perjuangan sang orangtua.

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Sama halnya di NU. Kalau proses kaderisasi di tubuh IPNU maupun IPPNU sudah melemah, maka tunggulah kehancuran NU beberapa tahun ke depan, katanya dengan nada kalem. Dan jelas kita tidak menginginkan hal itu.

Dari itulah pihaknya sangat berharap agar para pengurus PR IPNU-IPPNU Pamaroh bisa diajak kerja sama menghidupkan organisasi NU di tingkat desa, khususnya di Desa Pamaroh.

Pernyataan Faisol Ansori yang disampaikan saat sambutan tersebut mendapat dukungan seutuhnya dari para petinggi NU Pamaroh dan kepala desa Pamaroh.

Kami siap mendampingi, membina, dan membantu segala program kerja yang hendak dilaksanakan nanti, ujar ketua PR NU Pamaroh K Abdus Syukur.

Saya juga begitu. Saya akan selalu dukung segala kegiatan yang bernafas ke-NU-an, kata Awan PR NU Pamaroh yang kini menjabat kepala desa, Ustaz Moh Riski Abdullah.

Semangat berorganisasi tersebut disimak secara serius oleh para pengurus PR IPNU-IPPNU Pamaroh yang merupakan perwakilan dari 4 dusun yang ada di Pamaroh, meliputi Dusun Oray, Madis, Panconan, dan Sumber Waru. Sebelum azan Magrib menggema, pembentukan PR IPNU-IPPNU Pamaroh sudah selesai.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Kontributor: Hairul Anam

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/37390/proses-kaderisasi-nu-jelas

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Kamis, 09 Juni 2016

Kelompok Radikal Salah Pahami Al-Quran dan Hadits

Mataram, Pesantren Al-Amien Purwokerto. Katib Aam PBNU KH Malik Madani mengungkapkan, munculnya gerakan-gerakan radikal yang mengatasnamakan Islam adalah akibat kesalahan mereka dalam menafsirkan Al-Quran dan dan Hadits Nabi Muhammad SAW.

Demikian disampaikannya dalam seminar nasional Menangkal Ideologi Radikal dengan Paham Ahlussunnah wal Jamaah Ala Indonesia di Mataram, Rabu (29/4) kemarin. Kegiatan diadakan oleh Lembaga Takmir Masjid PWNU NTB yang dibuka oleh Wakil Gubernur setempat.

Kelompok Radikal Salah Pahami Al-Quran dan Hadits (Sumber Gambar : Nu Online)
Kelompok Radikal Salah Pahami Al-Quran dan Hadits (Sumber Gambar : Nu Online)


Kelompok Radikal Salah Pahami Al-Quran dan Hadits

Menurut KH Malik Madani, sebenarnya kelompok radikal itu ingin mengamalkan Al-Quran dan Al-Hadits secara kaffah, namun mereka salah jalan.

Akibat salah jalanya itu mereka berprilaku seperti orang-orang Khawarij yang mengkafirkan orang-orang yang tidak segolongan. Tidak hanya itu, mereka pun menghalalkan darah orang-orang yang merekakafirkan, tuturnya.

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Karena itu untuk menangkal merebaknya ideologi ini, menurutnya, pemahaman terhadap Ahlusunnah wal Jamaah (Aswaja) yang genuine harus didakwahkan di tengah-tengah masyarakat. Aswaja yang asli mengajarkan toleransi, keseimbangan, musyawarah, keadilan dan persamaan derajat.

Ketua Komisi Dakwah MUI Pusat KH Cholil Nafis dalam kesemapatan itu juga menegaskan bahwa gerakan radikalis teroris yang mengatasnamakan Islam adalah akibat tidak paham dengan istilah negara Islam.

Menurut Cholil, Islam tidak menentukan model negara. Asal dalam negara itu ada kesatuan dan kemaslahatan bagi umat beragama adalah negara Islam. Al-Quran mengatakan bahwa Islam adalah agama wasathi. yaitu menjadikan umat pilihan yang adil, dan pertengahan dari ekstrim kanan dan ekstrim kiri," paparnya.

Ia menambahkan, nilai-nilai Islam senantiasa humanistik dan tasamuh (toleran). Karena itu, kalau ada gerakan Islam yang anti kemanusiaan dan memaksakan kehendak dengan kekerasan destruktif, jelas itu bukan gerakan Islam. Karena itu jangan diikuti.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama NTB dalam paparannya menyampaikan bahwa pesantren-pesantren yang berbasis budaya lokal telah terbukti mengajarkan Islam rahmatan lil alamin dan telah menjadi penopang berdiri tegaknya NKRI.

Ia juga menegaskan, kemenag telah membuat regulasi agar pesantren tidak mengajarkan radikalisme agama karena itu pesantren yang diberi izin operasional adalah pesantren yang kurikulumnya tidak mengajarkan radikalisme.

Ketua PWNU NTB Tgh. Ahmad Taqiuddin Manshur, menyerukan agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh pemahaman-pemahaman provokatif yang mengatasnamakan Islam. Karena itu, ia menghimbau agar masyarakat memahami betul ajaran Aswaja yang diajarkan di Indonesia.

Acara ini ditutup oleh doa yang dibacakan oleh Ulama Kharismatik NTB Tgh. Lalu Muhammad Turmudzi Badaruddin. Dalam doanya Tgh. Turmudzi memohon kepada Allah SWT agar umat Islam senantiasa ditunjukan pada pemahaman agama yang benar dan pemahaman agama agama yang dapat mengantarkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. (Red: Anam)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/59227/kelompok-radikal-salah-pahami-al-qurrsquoan-dan-hadits

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Jumat, 03 Juni 2016

Bahtsul Masail NU Sumbar: Badal Haji Dibolehkan

Padang, Pesantren Al-Amien Purwokerto. Pelaksanaan badal (pengganti) haji boleh dilakukan baik untuk orang yang sudah meninggal dunia maupun yang masih hidup namun tak mampu lagi melaksanakan haji ke Mekkah. Ketidakmampuan tersebut terutama disebabkan faktor usia yang sudah lanjut dan kesehatan yang tidak lagi memungkinkan.

Demikian antara lain terungkap pada acara Bahtsul Masail Diniyyah atau pembahasan masalah keagamaan oleh Pengurus Wilayah Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (PW LBMNU) Sumatera Barat, Rabu (8/8) di aula PWNU Sumbar jalan Ciliwung No. 10 Padang.

Bahtsul Masail NU Sumbar: Badal Haji Dibolehkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Bahtsul Masail NU Sumbar: Badal Haji Dibolehkan (Sumber Gambar : Nu Online)


Bahtsul Masail NU Sumbar: Badal Haji Dibolehkan

Tampil sebagai narasumber Wakil Ketua PWNU Sumbar DR. Syafruddin, dengan moderator Sekretaris PW LBMNU DR. Firdaus, M.Ag. Hadir Rais Syuriah PW NU Sumbar Prof. DR. Asasriwarni,MH, Ketua Tanfidziyah Ir.H.A.Khusnun Aziz, MM, Ketua LBMNU Sumbar Prof.DR. Makmur Syarif, pengurus PWNU Sumbar lainnya, Muslimat NU, IPPNU dan lembaga di lingkungan PWNU Sumbar.

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Menurut Syafruddin, pelaksanaan ibadah haji sebagai rukun Islam kelima memang tak banyak menimbulkan perbedaan pendapat di kalangan ulama. Karena ibadah haji memiliki nash yang jelas.

Yang dimaksud sebagai badal haji, adalah pelaksanaan ibadah haji yang dilakukan seseorang, tidak untuk dirinya sendiri, tetapi untuk orang lain. Apakah dalam kategori menggantikan atau menghadiahkan pahala ibadah haji kepada orang lain selain dirinya, kata Syafruddin yang juga Pembantu Rektor I IAIN Imam Bonjol Padang ini.

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Sementara itu, Ketua LBMNU Sumbar Makmur Syarif menambahkan, syarat badal haji haruslah orang yang sudah menunaikan ibadah haji. Soal beda jenis kelamin yang membadalkan haji dengan yang dibadalkan haji tidak masalah. Karena tidak ada dalil yang ditemukan, bahwa laki-laki harus membadalkan haji laki-laki dan perempuan harus pula membadalkan haji perempuan.

Dengan demikian, seorang anak laki-laki boleh saja membadalkan haji ibunya atau anak perempuan membadalkan haji ayahnya, kata Makmur Syarif yang juga Rektor IAIN Imam Bonjol Padang.

Menanggapi pertanyaan siapa urutan yang utama membadalkan haji seorang ibu/ayah, menurut Makmur Syarif, tidak ada dalil yang tegas mengatakan urutannya. Apakah anak tertua, laki-laki, perempuan, atau siapa. Yang jelas, mereka yang membadalkan haji harus terlebih dahulu sudah haji pula.

Bahtsul Masail yang berlangsung jelang berbuka tersebut, dilanjutkan berbuka bersama yang dihadiri kurang lebih 75 orang. Kegiatan bahtsul masail ini rutin dilaksanakan setiap bulan dengan membahas berbagai topik yang berkaitan dengan pemahaman ajaran Islam. Terutama ditinjau dari pemahaman Islam Ahlussunnah Waljamaah sebagai rujukan keyakinan beribadah, tambah Firdaus.

Redaktur : A. Khoirul Anam

Kontributor: Bagindo Armaidi Tanjung

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/39204/bahtsul-masail-nu-sumbar-badal-haji-dibolehkan

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pesantren Al-Amien Purwokerto sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pesantren Al-Amien Purwokerto. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pesantren Al-Amien Purwokerto dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock