Tampilkan postingan dengan label Nusantara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nusantara. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 November 2016

Rasullullah Sangat Mencintai Bangsa Indonesia

Pesantren Al-Amien Purwokerto - Ketika Syeikh Muhammad Alawi al-Maliki al-Hasani dan rombongan ulama lainnya berziarah ke Makam Rasulullah SAW, tiba-tiba beliau diberikan kassyaf (penglihatan) oleh Allah bisa bertemu dengan Nabi Muhammad SAW. Di belakang Nabi Muhammad SAW, terlihat banyak sekali orang-orang yang berkerumun.

Rasullullah Sangat Mencintai Bangsa Indonesia
Rasullullah Sangat Mencintai Bangsa Indonesia


Ketika ditanya oleh Syeikh Maliki, "Ya Rasulullah, siapakah orang-orang itu?", Rasulullah menjawab, "mereka adalah umatku yang aku sangat cintai." Terlihat, diantara sekumpulan orang yang banyak itu, ada sebagian kelompok yang sangat banyak jumlahnya.

Kemudian Syeikh Maliki bertanya, "Ya Rasulullah, siapakah mereka yang berkelompok sangat banyak itu?". Rasul menjawab, "mereka adalah Bangsa Indonesia yang sangat banyak mencintaiku dan aku cintai mereka."

Baca juga: Rasulullah Mengatakan, Tolong Islam Aswaja ini Baca Hijrah ke Indonesia

Syeikh Maliki menangis dan terkejut, lalu keluar dan bertanya kepada Jamaah, "mana orang Indonesia? Aku sangat cinta kepada Indonesia." Shollu 'alan Nabiy Muhammad! Banggalah jadi umat Rasul dari Indonesia. Jangan peduli mereka yang menyebutnya bid'ah atas maulid. [Pesantren Al-Amien Purwokerto]

Keterangan: dikutip dari ceramah Prof. KH Syekh Muhyidin Abdul Qadir al-Manafy

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/08/rasullullah-sangat-mencintai-bangsa-indonesia.html

Sabtu, 06 Agustus 2016

Proses Kaderisasi NU Jelas

Pamekasan, Pesantren Al-Amien Purwokerto. NU adalah organisasi yang paling jelas proses kaderisasinya. Tidak hanya berhenti di kalangan mahasiswa dan atau pelajar di lingkungan lembaga pendidikan, melainkan juga hingga ke daerah-daerah terpencil di pelosok desa. Ada istilah Pimpinan Ranting (PR) untuk kepengurusan NU dan perangkat-perangkatnya di tingkat akar rumput.

Kesimpulan demikian terbesit ketika sebanyak 30 orang PR IPNU-IPPNU Desa Pamaroh sudah dibentuk, Ahad (8/4) lalau. Pembentukan yang ditempatkan di balai desa tersebut berjalan secara khidmat, disaksikan oleh puluhan petinggi NU Desa Pamaroh. Para pengurus harian IPNU-IPPNU Kadur sebagai penyelenggara dan ketua PC IPNU Pamekasan Nasiruddin menambah suasana pembentukan kian mengesankan.

Proses Kaderisasi NU Jelas (Sumber Gambar : Nu Online)
Proses Kaderisasi NU Jelas (Sumber Gambar : Nu Online)


Proses Kaderisasi NU Jelas

Pada kesempatan itu, ketua IPNU Kadur Faisol Ansori menekankan betapa pentingnya menyeriusi proses kaderisasi. Dirinya sangat menaifkan ketika ada seseorang langsung dimasukkan ke dalam kepengurusan organisasi NU tanpa melalui proses kaderisasi yang matang dan panjang.

Kami ke sini dalam rangka silaturahim serta membentuk kader-kader yang mau serius mengabdi dan belajar di NU, tegas Faisol. Dan siapa pun yang tidak serius dalam belajar, dengan berat hati kami sangat tidak mereka kader semacam itu. Berorgansiasi di NU butuh keseriusan dan keuletan dalam belajar.

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Berumah tangga saja, lanjut Faisol, masih memerlukan kader. Kehidupan rumah tangga tentu dinilai kurang sempurna tanpa kehadiran seorang kader (keturunan) yang nantinya menjadi penerus perjuangan sang orangtua.

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Sama halnya di NU. Kalau proses kaderisasi di tubuh IPNU maupun IPPNU sudah melemah, maka tunggulah kehancuran NU beberapa tahun ke depan, katanya dengan nada kalem. Dan jelas kita tidak menginginkan hal itu.

Dari itulah pihaknya sangat berharap agar para pengurus PR IPNU-IPPNU Pamaroh bisa diajak kerja sama menghidupkan organisasi NU di tingkat desa, khususnya di Desa Pamaroh.

Pernyataan Faisol Ansori yang disampaikan saat sambutan tersebut mendapat dukungan seutuhnya dari para petinggi NU Pamaroh dan kepala desa Pamaroh.

Kami siap mendampingi, membina, dan membantu segala program kerja yang hendak dilaksanakan nanti, ujar ketua PR NU Pamaroh K Abdus Syukur.

Saya juga begitu. Saya akan selalu dukung segala kegiatan yang bernafas ke-NU-an, kata Awan PR NU Pamaroh yang kini menjabat kepala desa, Ustaz Moh Riski Abdullah.

Semangat berorganisasi tersebut disimak secara serius oleh para pengurus PR IPNU-IPPNU Pamaroh yang merupakan perwakilan dari 4 dusun yang ada di Pamaroh, meliputi Dusun Oray, Madis, Panconan, dan Sumber Waru. Sebelum azan Magrib menggema, pembentukan PR IPNU-IPPNU Pamaroh sudah selesai.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Kontributor: Hairul Anam

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/37390/proses-kaderisasi-nu-jelas

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Jumat, 03 Juni 2016

Bahtsul Masail NU Sumbar: Badal Haji Dibolehkan

Padang, Pesantren Al-Amien Purwokerto. Pelaksanaan badal (pengganti) haji boleh dilakukan baik untuk orang yang sudah meninggal dunia maupun yang masih hidup namun tak mampu lagi melaksanakan haji ke Mekkah. Ketidakmampuan tersebut terutama disebabkan faktor usia yang sudah lanjut dan kesehatan yang tidak lagi memungkinkan.

Demikian antara lain terungkap pada acara Bahtsul Masail Diniyyah atau pembahasan masalah keagamaan oleh Pengurus Wilayah Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (PW LBMNU) Sumatera Barat, Rabu (8/8) di aula PWNU Sumbar jalan Ciliwung No. 10 Padang.

Bahtsul Masail NU Sumbar: Badal Haji Dibolehkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Bahtsul Masail NU Sumbar: Badal Haji Dibolehkan (Sumber Gambar : Nu Online)


Bahtsul Masail NU Sumbar: Badal Haji Dibolehkan

Tampil sebagai narasumber Wakil Ketua PWNU Sumbar DR. Syafruddin, dengan moderator Sekretaris PW LBMNU DR. Firdaus, M.Ag. Hadir Rais Syuriah PW NU Sumbar Prof. DR. Asasriwarni,MH, Ketua Tanfidziyah Ir.H.A.Khusnun Aziz, MM, Ketua LBMNU Sumbar Prof.DR. Makmur Syarif, pengurus PWNU Sumbar lainnya, Muslimat NU, IPPNU dan lembaga di lingkungan PWNU Sumbar.

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Menurut Syafruddin, pelaksanaan ibadah haji sebagai rukun Islam kelima memang tak banyak menimbulkan perbedaan pendapat di kalangan ulama. Karena ibadah haji memiliki nash yang jelas.

Yang dimaksud sebagai badal haji, adalah pelaksanaan ibadah haji yang dilakukan seseorang, tidak untuk dirinya sendiri, tetapi untuk orang lain. Apakah dalam kategori menggantikan atau menghadiahkan pahala ibadah haji kepada orang lain selain dirinya, kata Syafruddin yang juga Pembantu Rektor I IAIN Imam Bonjol Padang ini.

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Sementara itu, Ketua LBMNU Sumbar Makmur Syarif menambahkan, syarat badal haji haruslah orang yang sudah menunaikan ibadah haji. Soal beda jenis kelamin yang membadalkan haji dengan yang dibadalkan haji tidak masalah. Karena tidak ada dalil yang ditemukan, bahwa laki-laki harus membadalkan haji laki-laki dan perempuan harus pula membadalkan haji perempuan.

Dengan demikian, seorang anak laki-laki boleh saja membadalkan haji ibunya atau anak perempuan membadalkan haji ayahnya, kata Makmur Syarif yang juga Rektor IAIN Imam Bonjol Padang.

Menanggapi pertanyaan siapa urutan yang utama membadalkan haji seorang ibu/ayah, menurut Makmur Syarif, tidak ada dalil yang tegas mengatakan urutannya. Apakah anak tertua, laki-laki, perempuan, atau siapa. Yang jelas, mereka yang membadalkan haji harus terlebih dahulu sudah haji pula.

Bahtsul Masail yang berlangsung jelang berbuka tersebut, dilanjutkan berbuka bersama yang dihadiri kurang lebih 75 orang. Kegiatan bahtsul masail ini rutin dilaksanakan setiap bulan dengan membahas berbagai topik yang berkaitan dengan pemahaman ajaran Islam. Terutama ditinjau dari pemahaman Islam Ahlussunnah Waljamaah sebagai rujukan keyakinan beribadah, tambah Firdaus.

Redaktur : A. Khoirul Anam

Kontributor: Bagindo Armaidi Tanjung

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/39204/bahtsul-masail-nu-sumbar-badal-haji-dibolehkan

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Minggu, 07 Februari 2016

Habib Jadzab (Antik) Waliyullah Kudus Insyaallah Hadir di Haul Gus Dur ke 7

Pesantren Al-Amien Purwokerto - Sepanjang hidupnya, Gus Dur dikenal sebagai tokoh yang malnjutkan tradisi para ulama pendahulunya menghadirkan Islam yang ramah dan damai, membela kepentingan kaum yang lemah, dan dapat beradaptasi dan menerima budaya lokal.

Habib Jadzab (Antik) Waliyullah Kudus Insyaallah Hadir di Haul Gus Dur ke 7
Habib Jadzab (Antik) Waliyullah Kudus Insyaallah Hadir di Haul Gus Dur ke 7


Nilai keislaman yang Gus Dur perjuangkan berusaha untuk menyapa dan merangkul semua kelompok. Beliau meyakinkan bahwa keislaman dapat bersanding dengan nilai-nilai kebangsaan dan demokrasi, menjunjung tinggi penghormatan hak asasi, menghargai perbedaan, serta mengutamakan persatuan dan persaudaraan. Nilai dan prinsip itu pula yang terus diperjuangkan saat beliau menjadi Presiden RI keempat.

Menghadapi tantangan meningkatnya kebencian antar sesama muslim maupun terhadap kelompok lain akhir-akhir ini, nilai keislaman yang diperjuangkan KH Abdurrahman semakin relevan untuk digemakan kembali. Karena itu peringatan ke-7 tahun wafatnya KH. Abdurrahman Wahid, Jumat 23 Desember ini mengambil tema ‘Mengaji Gus Dur; Menebar Damai Menuai Rahmat’.

"Situasi ini dapat menganggu citra Islam, terutama bagi Indonesia yang menjadi model keislaman yang damai dan ramah di mata dunia. Apalagi masyarakat di negara-negara Barat saat ini mengalami Islamphobia, ketakutan daan kecurigaan terhadap Islam yang meningkat akibat maraknya kekerasan dan terorisme," tandas Alissa Wahid, ketua Panitia Peringatan yang juga puteri sulung Gus Dur, (Selasa, 20/12).

Menurut Alissa, ketegangan yang tak jarang berakhir dengan konflik kekerasan biasanya dipicu sikap merasa benar sendiri dan mudah menyalahkan yang lain. Sikap ini makin mengeras dan berdampak negatif jika dipengaruhi faktor politik, ekonomi, dan sosial. Situasi ini sangat mudah dijumpai di media-media sosial akhir-akhir ini. Padahal nilai-nilai keislaman jelas sekali mewajibkan pada perdamaian dan tak mudah berburuk sangka.

Pada saat bersamaan, orang juga makin merindukan Gus Dur di saat tak sedikit para pejabat publik bertindak melawan rakyat atas nama pembangunan. "Di sejumlah daerah kita masih menyaksikan rakyat kecil ditinggalkan bahkan dirampas haknya dan kelompok minoritas ditekan. Di saat itu orang-orang rindu Gus Dur," tandas Alissa.

Peringatan haul Gus Dur ke-7 tahun ini diisi kegiatan tahlil, maulid Nabi Besar Muhammad SAW, taushiah, doa bersama, deklarasi damai, dan pembacaan puisi. .

Sejumlah tokoh agama, tokoh pemerintah, tokoh masyarakat, dan budayawan yang akan hadir, antara lain sahabat dan budayawan KH. Mustofa Bisri (Rembang), Habib Ja’far Alkaff (Kudus), Habib Umar Muthohar (Semarang), KH. Said Aqil Siradj (Ketum PBNU), Lukman Hakim Saifuddin (Menag), Joko Pinurbo, Putu Wijaya, Acep Zamzam Noor, dan Cici Paramida (Budayawan). Acara ini akan dimeriahkan pula oleh penampilan band musik tradisi Kunokini.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, kegiatan ini akan diikuti ribuan orang yang datang dari wilayah Jabodetabek dan sekitarnya. Mereka terdiri atas anggota majelis taklim, komunitas, hingga kalangan umum. Di pagi hari, mulai pukul 07.00 hingga 16.00 WIB, ada kegiatan Khotmil Qur’an (membaca tuntas 30 juz al-Qur’an). [Pesantren Al-Amien Purwokerto]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/habib-jadzab-waliyullah-kudus-hadir-di-haul-gus-dur-ke-7.html

Senin, 08 Desember 2014

Ribuan Jamaah Hadiri Haul Gus Dur di Ciganjur

Jakarta, Pesantren Al-Amien Purwokerto. Dalam rangka memperingati tahun ketiga kepulangan mantan presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), keluarga Almarhum menggelar acara doa bersama di kediaman Ciganjur, Ahad malam (30/12). Sebelum acara puncak doa bersama, dari pagi keluarga juga menggelar acara khataman Al-Quran yang melibatkan mahasiswa penghafal Al-Quran (huffadh) dari Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ) Jakarta dan santri Pesantren Ciganjur.

Ribuan jamaah dari berbagai daerah di Jakarta dan sekitarnya turut menhadiri acara tahlil, istighotsah dan doa bersama ini. Para jamaah hadir atas inisiatif sendiri tanpa dikoordinasi oleh panitia.

Ribuan Jamaah Hadiri Haul Gus Dur di Ciganjur (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Jamaah Hadiri Haul Gus Dur di Ciganjur (Sumber Gambar : Nu Online)


Ribuan Jamaah Hadiri Haul Gus Dur di Ciganjur

Seluruh anak, menantu dan cucu-cucu Gus Dur lengkap turut ambil bagian dalam acara ini. Turut hadir pula dalam acara ini, keluargah besar Wahid Hasyim seperti adik-adik dan keponakan-keponakan Gus Dur, antara lain Aisyah Hamid Baidlowi, Lily Wahid dan lain-lain.

Para tamu undangan yang hadir dalam acara doa bersama ini antara lain Ketua Mahkamah Konstitusi Mohammad Mahfudh MD, Wakil Menteri Agama Nazaruddin Umar, Mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan pada Kabinet Persatuan Nasional (2000-2001) Luhut Binsar Panjaitan, Ketua Umum Sangha Theravada Indonesia Bhikku Dhammasubo Mahathera, Pembimbing Frather Xaverian Romo Mateo dan lain-lain.

Pesantren Al-Amien Purwokerto

"Acara ini memang sebenarnya dimaksudkan untuk kalangan terbatas saja. Beberapa tamu undangan dan masyarakat sekitar saja. Tapi Alhamdulillah ternyata antusias masyarakat melebihi yang kami perkitakan," tutur Ibu Nyai Hj. Shinta Nuriyah isteri Almarhum Gus Dur kepada Pesantren Al-Amien Purwokerto, usai acara.

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Sementara itu dalam testimoninya, Mahfudh MD menyatakan, Gus Dur adalah sosok yang terbukti bersih secara hukum. Baik persidangan karena kasus Bulog maupun hibah dana dari sultan Brunei.

"Dalam kedua persidangan hukum kedua kasus tersebut, pengadilan telah menyatakan bahw Gus Dur tidak terlibat. Sementara orang-orang yang terlibat dalam Buloggate telah divonis masing-masing empat tahun," tandas Mahfudh.

Penulis : Syaifullah Amin

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/41514/ribuan-jamaah-hadiri-haul-gus-dur-di-ciganjur

Selasa, 24 September 2013

Merah Putih Ditambahi Kalimat Tahlil Itu Bidah Makar ala Khilafah Dhalalah

Pesantren Al-Amien Purwokerto - Soal bendera merah putih yang ditulis atau dicorat-coret oleh salah satu pria beberapa waktu lalu memang sungguh memprihatinkan. Yang kontra menyalahkan-nyalahkan pihak kepolisian karena dianggap reaktif dan tidak berdasar, sementara yang pro, pria itu memang harus mendapatkan pelajaran berharga.

Merah Putih Ditambahi Kalimat Tahlil Itu Bidah Makar ala Khilafah Dhalalah
Merah Putih Ditambahi Kalimat Tahlil Itu Bidah Makar ala Khilafah Dhalalah


Banyak kasus bendera mereha putih ditulisi macam-macam. Sebetulnya tidak masalah jika niat menulis di bendera merah putih itu bukan makar. Tentang hal ini, Pesantren Al-Amien Purwokerto mendapatkan keterangan dari KH Abdul Mun'im DZ, wakil Sekjend PBNU.

Ia menulis, grafiti dalam bendera merah putih di beberapa tempat mungkin bentuknya sama, yakni sama-sama menambah lambang negara atau mencorat-coretnya, motifnya bisa dibedakan, ada yang Sunnah, karena sebagai ekspresi cinta tanah air, ada yang makruh karena digunakan untuk motif sempit dan ada pula yang haram karena bermaksud mau mengubah haluan NKRI berdasarkan Pancasila ini, ini bagian dari gerakan subversif (makar) kepada negara.

Pelaksana dan penegakan hukum selalu melihat motif dalam menentukan hukum. Polisi sebagai penegak hukum, dibantu para ahli dan ulama yang tahu tentang anatomi politik, bisa mengetahui motif para pembuat grafiti tersebut yang sengaja dibuat oleh pria yang konon hafal Al-Qur'an tersebut.

Kelompok pertama (sunnah) bermotif seni, kelompok kedua (makruh) bermotif politik. Tetapi kelompok ketiga yang menuliskan kalimat thoyyibah atau tahlil, itu bermotif subversif. Hal itu bisa dilihat dari siapa yang membuat, siapa pendukungnya dan siapa pembelanya. Bukan yang lain, mereka adalah para pendukung Khilafah Islamiyyah yang ingin mengganti Pancasila dan NKRI.

Betul, kalimat tahlil tertulis dalam bendera, tapi mereka bisa saja para pembenci syiar kalimat tahlil, yakni tradisi Tahlilan. Apalagi ada logo pedang di bawah kalimat tahlil, kalimat thayyibah itu. Anda tentu tahu negara mana yang menggunakan lambang bendera dengan kalimat suci tersebut yang dibawahnya ada pedang. Ini bid'ah dholalah sebagai warga negara.

Karena itulah, subversif dalam kasus pria perusuh bendera merah putih Indonesia tersebut, bisa saja menjadi haram mugholladah (berat) karena selain ingin mengganti negara NKRI jadi khilafah sejak dari niat, mereka juga sengaja menggunakan simbol negara lain untuk lambang negara kita, Indonesia, dan itu sangat politis. Ini jelas makar kuadrat.

Jadi, yang dilarang dan diperkarakan oleh polisi itu bukan kalimat thayyibah, tetapi orang yang menyalahgunakan kalimat tauhid tahlil tersebut utk tujuan subversi, makar terselubung. Sementara, umat Islam Indonesia, khususnya warga NU, telah terikat oleh kesepakatan suci bangsa Indonesia untuk hidup bersama dalam Pancasila dan NKRI. Janji ini wajib ditepati sebagai Amanah dan wafa bil 'ahdi (menepati perjanjian). [Pesantren Al-Amien Purwokerto]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/merah-putih-ditambahi-kalimat-tahlil-itu-bidah-makar-ala-khilafah-dhalalah.html

Kamis, 11 April 2013

Uang Palu Arit Ditarik, Uang Hasil Korupsi Ditimbun Saja

Pesantren Al-Amien Purwokerto - Sebutlah Anda seorang koruptor atau pelaku kejahatan keuangan yang masih tradisional. Anda tak tahu apa bagaimana cara mencuci uang lewat perusahaan cangkang di Panama, atau mencucinya lewat crypto currency. Uang Anda ini bisa berasal dari berbagai sumber: korupsi, penjualan narkoba atau senjata, penggelapan, atau menghindari pajak. Istilahnya 'black money' atau 'uang gelap'.

Uang Palu Arit Ditarik, Uang Hasil Korupsi Ditimbun Saja
Uang Palu Arit Ditarik, Uang Hasil Korupsi Ditimbun Saja


Anda tak bisa menyetorkan uang ke bank, karena pasti akan ketahuan aparat dan petugas pajak. Selain itu Anda perlu mendistribusikan uang tersebut ke pihak lain secara sederhana, sedikit demi sedikit tanpa menimbulkan kecurigaan. Maka yang paling mungkin adalah anda tumpuk dan timbun uang itu, di satu tempat atau tempat terpisah. Jumlahnya sudah tak karuan lagi.

Pada suatu hari, kepala negara dan otoritas bank sentral negara anda mengumumkan: menarik semua mata uang pecahan lama, dan menggantinya dengan pecahan baru. Anda hanya diberikan waktu 50 hari untuk menukar. Lebih dari itu, uang lama tidak akan berlaku lagi.

Pastilah Anda panik. Bagaimana pula cara menukarkan uang tunai sebanyak itu dalam waktu singkat dan tidak terdeteksi otoritas? Kalau Anda bawa uang tunai Rp 1 miliar ke bank untuk ditukarkan ke mata uang baru, pastilah dimintai identitas minimal KTP. Sukur-sukur bukan NPWP.

Kalau timbunan uang anda hanya Rp 1 miliar sih tidak masalah. Tapi kalau sudah puluhan atau ratusan miliar, atau bahkan triliunan, bila digabung dengan para sejawat Anda yang lain, Anda pasti frustasi. Apalagi makin hari makin canggih sistem dan teknologi pelacakan uang menggunakan nomor seri.

Itulah yang terjadi di India akhir tahun kemarin ketika PM India Narendra Modi hendak memberangus tindak pidana pencucian uang, penggelapan, korupsi, penggelapan pajak dan peredaran uang palsu. Pecahan 500 dan 1.000 rupee dinyatakan tidak berlaku lagi. Istilahnya demonetisasi.

Tentu menimbulkan gejolak dan protes, karena hanya diberi waktu 50 hari untuk penukaran. Orang-orang kaya mengakalinya lewat kerjasama dengan orang miskin agar bisa meminjam rekening sebagai perantara. Banyak juga yang bergegas ke toko perhiasan dan butik, memohon agar uang pecahan lama mereka bisa diterima.

Ada juga yang mengakali dengan cara membayar upah pekerja atau layanan jasa di depan secara sekaligus untuk satu tahun. Tak sedikit pula yang pasrah dan menerima uang mereka tak lebih berharga dibanding tisu toilet. Bahkan di Sungai Gangga ditemukan banyak uang 1.000 rupee mengambang.

Banyak orang marah dan melawan. Terutama mereka yang menimbun 'black money'. Bahkan langkah ini harus dibayar oleh India dengan menurunnya pertumbuhan ekonomi 2016 dan diprediksikan masih akan turun lagi di 2017.

Di Indonesia belakangan juga banyak yang marah dan menuntut penarikan mata uang baru. Ada lambang palu arit, katanya. Tapi ini bukan kisah palu arit, melainkan black money. Di India, bukan Indonesia. [Pesantren Al-Amien Purwokerto]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/uang-palu-arit-ditarik-uang-hasil-korupsi-ditimbun-saja.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pesantren Al-Amien Purwokerto sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pesantren Al-Amien Purwokerto. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pesantren Al-Amien Purwokerto dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock