Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Januari 2017

Kader IPNU-IPPNU Harus Berani Katakan Kebenaran

Jakarta, Pesantren Al-Amien Purwokerto. PC IPNU-IPPNU Jakarta Timur menyelenggarakan Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) angkatan ke-3 dengan tema Membentuk Karakter Pelajar NU yang Kompetitif dan Inspiratif.

Acara yang dilaksanakan Ahad 27 Januari di Yayasan Islam Nurul Huda, Lubang Buaya Jakarta timur, diharapkan menambah kader-kader NU yang memahami ihwal organisasi, berani mengatakan kebenaran dan punya keberpihakan pada kaum lemah.

Kader IPNU-IPPNU Harus Berani Katakan Kebenaran (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader IPNU-IPPNU Harus Berani Katakan Kebenaran (Sumber Gambar : Nu Online)


Kader IPNU-IPPNU Harus Berani Katakan Kebenaran

Kita memang masih butuh banyak kader penerus perjuangan IPNU-IPPNU yang pro aktif dan memiliki kompetensi yang kuat guna menjawab tantangan zaman saat ini, dan melalui makesta ini kami berjarap IPNU-IPPNU khususnya di Jakarta Timur mampu menjawab tantangan itu. papar ketua IPNU Jakarta Timur, rekan Maulana Hamzah.

"Dan yang lebih penting lagi, kader IPNU-IPPNU harus berani katakan kebenaran," lanjutnya.

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Acara yang berlangsung satu hari penuh dan dihadiri puluhan kader IPNU-IPPNU baru dari beberapa sekolah ini dibuka oleh rekan Ahmad Murodi Mursyid selaku tuan rumah sekaligus senior IPNU tingkat nasional.

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Acara ini dihadiri pula oleh Sekjen PW IPNU DKI Jakarta Abdul Majid, dan juga ketua PW IPPNU DKI Jakarta Nurlaela.

Redaktur : Hamzah Sahal

Kontributor : Yudhi Permana

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/42139/kader-ipnu-ippnu-harus-berani-katakan-kebenaran

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Senin, 02 Januari 2017

Bersama Membangun Bangsa dalam Keberagaman

Yogyakarta, Pesantren Al-Amien Purwokerto. Maraknya tindakan intoleransi dan kekerasan antarumat beragama yang berkembang saat ini membuat Forum Pengasuh Pesantren Muda (FP2M) Jawa Timur mengadakan kunjungan dan Dialog Lintas Iman dengan tema Bersama dalam Keberagaman untuk Membangun Bangsa ke Komunitas Gusdurian Yogyakarta.

Acara tersebut bertempat di Forest Kitchen & Gelato, Kamis (18/8). Hadir dalam acara tersebut antara lain Pengasuh Muda dari Jawa Timur, Gusdurian Jogja, dan Delegasi lintas Iman, Gus, pendeta, dan Pastur Yogyakarta.

Bersama Membangun Bangsa dalam Keberagaman (Sumber Gambar : Nu Online)
Bersama Membangun Bangsa dalam Keberagaman (Sumber Gambar : Nu Online)


Bersama Membangun Bangsa dalam Keberagaman

Tujuan dilaksanakan acara ini yang pertama adalah silaturahim dan menjalin hubungan hati-ke hati antarumat beragama, kata Zahrul Azhar Asad.

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Gus Han, sapaan akrabnya menambahkan bahwa komunikasi antarumat beragama yang ada di Indonesia diharapkan menjadi panutan bagi keberagaman dan keberagamaan di seluruh dunia.

Banyak sekali kasus intoleransi antarumat beragama yang terjadi. Bisa jadi yang melakukan malah bukan dari orang yang beragama dan tidak memiliki pengetahuan agama yang dalam. Tetapi memanfaatkan agama untuk kepentingan mereka dan mendapatkan keuntungan, lanjut Gus Han.

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Robertus Triwidodo PR, Pastur Gereja Katholik Santrobetus Paulus menjelaskan bahwa di Jogja sendiri yang kita kenal sebagai The City Of Tolerance belakangan ini juga marak laku intoleransi antar umat beragama. Beberapa kasus misalnya penutupan tempat ibadah, pelarangan aktivitas ibadah dan lain sebagainya.

Ini adalah tantangan kita bersama, bagaimana membangun kerukunan di dalam masyarakat di tengah keberagaman ini. Kalau kita kuat dalam membangun kerukunan, seperti rumput kalau akarnya sudah kuat dan rekat meskipun ada provokasi pasti akan kuat juga, tegasnya.

Indrianto Adiatmo selaku pendeta di GKJ Solo Berharap bahwa para pemuda di indonesia memiliki sikap keterbukaan dan toleransi yang sama seperti yang dilakukan oleh Forum Pengasuh Pesantren Muda dan juga Gusdurian.

Satu yang menjadi pedoman agama Islam khususnya NU dan Insyaallah agama lain juga sepakat bahwa mari kita eratkan tali persaudaraan kita dan janganlah kita berpecah belah. Mari kita bersama mengembalikan semangat dan kesadaran untuk menghargai kebhinekaan dan tidak terjebak dalam gerakan-gerakan intoleransi sampai pada perilaku kekerasan, jelas Misbakhul Munir pengasuh Pesantren Pare Kediri. (Muhlisin/Fathoni)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/70555/bersama-membangun-bangsa-dalam-keberagaman

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Sabtu, 06 Agustus 2016

Proses Kaderisasi NU Jelas

Pamekasan, Pesantren Al-Amien Purwokerto. NU adalah organisasi yang paling jelas proses kaderisasinya. Tidak hanya berhenti di kalangan mahasiswa dan atau pelajar di lingkungan lembaga pendidikan, melainkan juga hingga ke daerah-daerah terpencil di pelosok desa. Ada istilah Pimpinan Ranting (PR) untuk kepengurusan NU dan perangkat-perangkatnya di tingkat akar rumput.

Kesimpulan demikian terbesit ketika sebanyak 30 orang PR IPNU-IPPNU Desa Pamaroh sudah dibentuk, Ahad (8/4) lalau. Pembentukan yang ditempatkan di balai desa tersebut berjalan secara khidmat, disaksikan oleh puluhan petinggi NU Desa Pamaroh. Para pengurus harian IPNU-IPPNU Kadur sebagai penyelenggara dan ketua PC IPNU Pamekasan Nasiruddin menambah suasana pembentukan kian mengesankan.

Proses Kaderisasi NU Jelas (Sumber Gambar : Nu Online)
Proses Kaderisasi NU Jelas (Sumber Gambar : Nu Online)


Proses Kaderisasi NU Jelas

Pada kesempatan itu, ketua IPNU Kadur Faisol Ansori menekankan betapa pentingnya menyeriusi proses kaderisasi. Dirinya sangat menaifkan ketika ada seseorang langsung dimasukkan ke dalam kepengurusan organisasi NU tanpa melalui proses kaderisasi yang matang dan panjang.

Kami ke sini dalam rangka silaturahim serta membentuk kader-kader yang mau serius mengabdi dan belajar di NU, tegas Faisol. Dan siapa pun yang tidak serius dalam belajar, dengan berat hati kami sangat tidak mereka kader semacam itu. Berorgansiasi di NU butuh keseriusan dan keuletan dalam belajar.

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Berumah tangga saja, lanjut Faisol, masih memerlukan kader. Kehidupan rumah tangga tentu dinilai kurang sempurna tanpa kehadiran seorang kader (keturunan) yang nantinya menjadi penerus perjuangan sang orangtua.

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Sama halnya di NU. Kalau proses kaderisasi di tubuh IPNU maupun IPPNU sudah melemah, maka tunggulah kehancuran NU beberapa tahun ke depan, katanya dengan nada kalem. Dan jelas kita tidak menginginkan hal itu.

Dari itulah pihaknya sangat berharap agar para pengurus PR IPNU-IPPNU Pamaroh bisa diajak kerja sama menghidupkan organisasi NU di tingkat desa, khususnya di Desa Pamaroh.

Pernyataan Faisol Ansori yang disampaikan saat sambutan tersebut mendapat dukungan seutuhnya dari para petinggi NU Pamaroh dan kepala desa Pamaroh.

Kami siap mendampingi, membina, dan membantu segala program kerja yang hendak dilaksanakan nanti, ujar ketua PR NU Pamaroh K Abdus Syukur.

Saya juga begitu. Saya akan selalu dukung segala kegiatan yang bernafas ke-NU-an, kata Awan PR NU Pamaroh yang kini menjabat kepala desa, Ustaz Moh Riski Abdullah.

Semangat berorganisasi tersebut disimak secara serius oleh para pengurus PR IPNU-IPPNU Pamaroh yang merupakan perwakilan dari 4 dusun yang ada di Pamaroh, meliputi Dusun Oray, Madis, Panconan, dan Sumber Waru. Sebelum azan Magrib menggema, pembentukan PR IPNU-IPPNU Pamaroh sudah selesai.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Kontributor: Hairul Anam

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/37390/proses-kaderisasi-nu-jelas

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Jumat, 11 Desember 2015

Bagaimana Jika Meninggal, Namun Masih Hutang Puasa?

Barang siapa meninggal dunia dan masih memiliki tanggungan kewajiban membayar puasa (qadla) karena adanya udzur syari (misalnya sakit), maka baginya tidak berdosa. Dan bagi ahli waris yang ditinggalkan tidak wajib membayar fidyah.Sedangkan bilamana penangguhan kewajiban membayar puasa (qadha) itu disengaja atau tanpa ada unsur udzur syari, maka kerabat yang ditinggalkannya berkewajiban untuk membayar fidyah bagi si mayit dengan ketentuan satu hari satu mud.

Tetapi menurut qaul qadim Imam Syafii dianjurkan bagi si wali mayit untuk melakukan puasa sebagai pengganti dari kewajiban yang ditingggalkan si mayit. Sebagai mana yang tertera dalam kitab Syarah Muadz-dzab, dan Imam Nawawi membenarkan dalam kitab Raudhah dengan lebih memilih pendapat qaul Qadim tersebut.

Bagaimana Jika Meninggal, Namun Masih Hutang Puasa? (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagaimana Jika Meninggal, Namun Masih Hutang Puasa? (Sumber Gambar : Nu Online)


Bagaimana Jika Meninggal, Namun Masih Hutang Puasa?





Pesantren Al-Amien Purwokerto

Dari Aisyah r.a; Rasulullah s.a.w, bersabda: siapa meninggal dunia dan ia meninggalkan kewajiban (qada)berpuasa, maka ahli warisnya diwajibkan berpuasa untuk menggantikan kewajiban puasanya. (Hadits Shahih, riwayat al-Bukhari dan Muslim).

Dan hadits yang lain menjelaskan hal yang sama dengan hadits yang diriwayatkan dari Sayyidah Aisyah r.a tersebut:



Pesantren Al-Amien Purwokerto

: : :

Dari Ibnu Abbas r.a: sesungguhnya ada seorang perempuan telah bertanya kepada Rasulullah s.a.w: ya Rasulullah s.a.w, sesungguhnya ibuku telah meninggal duniam dan ia meninggalkan keajiban puasa nadzar yang belum sempat ia tunaikan, apakah aku boleh berpuasa untuk menggantikannya? rasulullah s.a.w, menjawab;apakah pendapatmu, kalau seandainya ibumu mempunya hutang, dan kamu membayarnya. Apakah hutangnya terbayarkan?. Perempuan tadi, menjawab: ia. Dan Nabi s.a.w, bersabda: berpuasalah untuk ibumu. (Hadits Shahih, riwayat Muslim).

Penulis: KH. Syaifullah Amin/Red: Ulil H.)

Dari (Syariah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/45855/bagaimana-jika-meninggal-namun-masih-hutang-puasa

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Selasa, 08 September 2015

Tetap Tampilkan Islam Sebagai Agama Keadilan dan Perdamaian

Benin, Afrika, Pesantren Al-Amien Purwokerto. Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Dakwah Islam yang berlangsung di Cotonou, Benin, Afrika pada tanggal 5 7 Agustus 2005 mengingatkan umat Islam untuk tetap menampilkan Islam sebagai agama keadilan selain agama perdamaian.

KTT Dakwah Islam tersebut juga menghasilkan sejumlah keputusan penting diantaranya perlunya umat Islam sedunia bersatu menghadapi tantangan global dengan menampilkan islam sebagai rahmat bagi semesta.

Sementara, rekomendasi KTT akan disusun strategi peradaban Islam sebagai strategi dakwah masa depan.

Konferensi berlangsung di negara yang terletak di bagian barat benua afrika itu membahas strategi dakwah terhadap tantangan global yang ditandai dengan merajalelanya berbagai bentuk dan jenis kemungkaran.

Tetap Tampilkan Islam Sebagai Agama Keadilan dan Perdamaian (Sumber Gambar : Nu Online)
Tetap Tampilkan Islam Sebagai Agama Keadilan dan Perdamaian (Sumber Gambar : Nu Online)


Tetap Tampilkan Islam Sebagai Agama Keadilan dan Perdamaian

Konferensi tersebut dihadiri oleh para tokoh Islam dari berbagai negara di dunia serta anggota majelis Tertinggi Dakwah Islam Sedunia yang berpusat di Tripoli, Libya. (kcm/Die)

Dari (Warta) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/3378/tetap-tampilkan-islam-sebagai-agama-keadilan-dan-perdamaian

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Sabtu, 06 Desember 2014

Ke Raja Negeri Palu Arit, Soekarno Minta Paksa Temukan Makam Imam Bukhari

Pesantren Al-Amien Purwokerto - Pemimpin tertinggi Partai Komunis Uni Soviet, sekaligus penguasa tertinggi Negeri Tirai Besi, Nikita Sergeyevich Khrushchev, merasa sudah menang psywar terhadap rivalnya dalam perang dingin, Presiden Amerika Serikat, John F Kennedy.

Ke Raja Negeri Palu Arit, Soekarno Minta Paksa Temukan Makam Imam Bukhari
Ke Raja Negeri Palu Arit, Soekarno Minta Paksa Temukan Makam Imam Bukhari


Ia memiliki ide untuk mengundang Presiden Indonesia, Sukarno ke Moskow. Apalagi saat itu Indonesia berhasil menyandera pilot intelijen Negeri Paman Samuel, Allan Pope. Ia terbukti terlibat dalam pemberontakan mendukung gerakan Permesta, pada 1958.

Soekarno tidak mau melepaskan pilot bayaran yang pesawatnya ditembak TNI di kawasan Maluku. Kondisi itu dimanfaatkan oleh Kamerad Khrushchev. Setidaknya ingin menunjukkan pada raja kapitalis itu bahwa Indonesia berdiri di belakang raja komunis, Uni Soviet.

"Paduka Yang Mulia, Bung Karno. Kami mengundang Yang Mulia untuk datang ke Moskow, menjadi tamu kehormatan negara dan bangsa kami," kata Khruschev, melalui sambungan telepon dalam bahasa Inggris, pada Januari 1961.

Dalam peristiwa yang terjadi pada 1956 tahun itu, Bung Karno memahami betul suasana batin Khruschev. Ia pun tidak mau begitu saja memenuhi undangan ke Moskow. Ia tidak ingin negeri Pancasila terjebak dalam perang dingin. Bung Besar tidak ingin membawa Indonesia ke dalam situasi yang tidak menguntungkan.

Tidak mau Indonesia dipermainkan oleh negara mana pun, maka putra dari Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai itu, mengajukan syarat, "saya mau datang ke Moskow dengan satu syarat mutlak yang harus dipenuhi, Paduka. Tidak boleh tidak, Kamerad". Khrushchev balik bertanya, “Apa syarat yang Paduka Presiden ajukan?”

Bung Karno menjawab, "temukan makam Imam Al Bukhari. Saya sangat ingin menziarahinya." Si komunis ini terheran-heran. "Siapa pula Imam Al Bukhari?" katanya bersungut-sungut kepada ajudannya.

Tak mau membuang waktu, Khrushchev segera memerintahkan pasukan khususnya untuk menemukan makam tersebut. Setelah dicari ke sana ke mari, anak buah pemimpin negeri Beruang Merah itu mengaku tidak menemukan makam itu.

Selang beberapa hari, ia kembali menghubungi Bung Karno, "Maaf Paduka Presiden, kami tidak berhasil menemukan makam orang yang Paduka cari. Apa Anda berkenan mengganti syarat?" Di ujung telepon, Bung Karno tersenyum sinis, "Paduka, kalau tidak ditemukan, ya sudah. Saya lebih baik tidak usah datang ke negara Kamerad."

Jawaban ‘Putra Sang Fajar’ ini membuat telinga Khrushchev memerah. Khrushchev pun kembali memerintahkan orang-orang nomor satunya langsung menangani masalah ini. “Cari sampai dapat!”

Setelah mengumpulkan informasi dari orang-orang tua Muslim di sekitar Samarkand, anak buah Khrushchev menemukan makam Imam kelahiran Bukhara, tahun 810 Masehi itu. Makamnya dalam kondisi rusak tidak terawat. Imam Al Bukhari memiliki pengaruh besar bagi umat Islam di Indonesia. Ia dimakamkan di Samarkand tahun 870 M.

‘Raja komunis’ itu pun dengan riang kembali menelepon Soekarno dan mengabarkan bahwa makam yang dimaksud sudah ditemukan, namun dalam kondisi rusak parah. Presiden Sukarno meminta pemerintah Uni Soviet agar segera memperbaiki dan merawat makam tersebut.

Jika tidak, lanjut, Bung Karno, ia menawarkan agar makam tersebut dipindahkan ke Indonesia. Emas seberat makam Imam Bukhari akan diberikan sebagai gantinya.

Khrushchev pun memerintahkan agar makam itu dibersihkan dan dipugar secantik mungkin. Usai renovasi, ia kembali menghubungi Bung Karno. "Baik, saya akan datang ke negara Anda," jawab Seokarno.

Singkat cerita, setelah mengunjungi Moskow, pada 12 Juni 1961, Bung Karno tiba di Samarkand. Sehari sebelumnya, puluhan ribu orang menyambut kehadiran Pemimpin Besar Revolusi Indonesia ini di Kota Tashkent.

Kini, setelah Uni Soviet bubar, wilayah itu menjadi bagian dari Uzbekistan. Tidak banyak yang tahu kalau Bung Karno adalah penemu makam Imam Al Bukhari, seorang perawi hadist Nabi Muhammad SAW.

Tidak banyak yang tahu juga kalau Soekarno ke luar negeri, ia selalu menyebut dirinya sebagai muslim sejati kepada tuan atau puan rumahnya. Berbicara soal Keesaan Tuhan. Tuhan Yang Satu. Itulah tauhid di dalam kitab suci Al-Quran.

Ia kemukakan di depan pemimpin tertinggi Negara Komunis bahwa Tuhan kekal abadi, sehingga seorang muslim sejati tidak takut akan kematian. Sebab telah bersaksi bahwa Tiada Tuhan selain Allah yang disembah kaum Muslimin. Dan Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah.

Soekarno tidak peduli apakah Presiden Uni Soviet itu mau mendengarkan tentang keyakinannya tentang Islam atau pun tidak. Yang jelas Si Bung sudah paham apa yang ada di kepala Kamerad Khruschev tentang ajaran Marxisme, tentang simbol palu arit.

Ya, ayah kandung dari Ketua Umum PDIP, Megawati, Sukmawati dan Rachmawati --yang dituduhkan makar oleh penguasa saat ini-- memang bung piawai berpidato soal tauhid di hadapan orang-orang yang tidak beragama. Yang meragukan keesaan Tuhan. [Pesantren Al-Amien Purwokerto]

S. Ginting, senior jurnalis harian Republika

Ket: Judul asli: Sukarno, Imam Bukhari dan Islam di Negeri Palu Arit, dimuat Harian Republika pada Jumat 13 Januari 2017. 

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/ke-negeri-palu-arit-soekarno-minta-paksa-temukan-makam-imam-bukhari.html

Selasa, 21 Januari 2014

Bawaslu DKI Larang Atribut Kampanye di Halaman Masjid

Jakarta, Pesantren Al-Amien Purwokerto. Anggota Bawaslu DKI Jakarta Muhammad Jufri menjelaskan lembaganya melakukan beberapa terobosan menanggapi isu SARA. Salah satunya, Bawaslu melarang media kampanye dipasang di tempat-tempat ibadah seperti di masjid, meski hanya di halamannya saja.

Berbeda dengan Pilkada sebelumnya yang masih diperbolehkan atribut kampanye dipasang di halaman tempat ibadah, katanya dalam diskusi Perspektif Jakarta yang membahas kampanye hitam yang diselenggarakan oleh Populi Center bekerjasama dengan LTNNU di gedung PBNU, Rabu (12/10).

Bawaslu DKI Larang Atribut Kampanye di Halaman Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
Bawaslu DKI Larang Atribut Kampanye di Halaman Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)


Bawaslu DKI Larang Atribut Kampanye di Halaman Masjid

Usep S Ahyar dari Populi Center menjelaskan kampenye hitam memang harus diwaspadai karena sangat berpotensi memunculkan kebencian dari semua pihak.

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Sejatinya demokrasi bukanlah menyebarkan kebencian terlebih SARA, tetapi yang ditawarkan adalah visi dan misi programya, tandasnya.

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Sesuai dengan data dari Populi Center, Usep memperlihatkan perolehan tertinggi sebesar 39,2 persen masyarakat DKI memilih calonnya berdasarkan visi misinya, sedangkan yang mempertimbangkan agama menjadi kriteria keterpilihan calon hanya sebesar 5 persen. Dari data tersebut ia menuturkan bahwa pemilih Jakarta semakin rasional, dan rasionalitas tanpa mengedepankan isu, etnis, agama inilah yang perlu dikedepankan dalam demokrasi. Selain itu, yang diperlukan saat ini adalah kedewasaan politik dari masyarakat, khususnya warga DKI dalam menyikapi Pilgub 2017 nanti.

Uday Abdurrahman dari LTNNU menjelaskan persoalan sosial media sangat sulit di atur dalam aturan verbal. Sebagai misal facebook, twitter, dan media sosial lain tidak mengharuskan seseorang untuk men-scan KTP. Contoh ini menunjukkan bahwa untuk mengontrol akun media yang tidak bertanggungjawab sangat sulit. Kegaduhan ini dilakukan oleh beberapa oknum yang ingin mencari benefit (uang) dari isu yang di kemas provokatif agar banyak pengguna internet berselanjar dalam kemasan tersebut.

Bahkan data lain dari Populi Center, sumber informasi politik yang dipercaya melalui TV sebesar 68,2 persen. Sedangkan media sosial tidak terlalu berpengaruh dengan prosentase 7,2 persen.

Sebagai penutup Jufri menghimbau kepada seluruh masyarakat Jakarta untuk ikut mengawasi dan jika ada dugaan pelanggaran langsung laporkan ke Bawaslu. Jangan lewat 7 hari karena hanya 7 hari batas waktu KPU dan Bawaslu menindaklanjuti laporan tersebut terhitung dari tanggal kejadian. Red: Mukafi Niam

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/71967/bawaslu-dki-larang-atribut-kampanye-di-halaman-masjid

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pesantren Al-Amien Purwokerto sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pesantren Al-Amien Purwokerto. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pesantren Al-Amien Purwokerto dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock