Tampilkan postingan dengan label Internasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Internasional. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Mei 2016

Menengok Tradisi Lebaran di Maroko

Tanger, Pesantren Al-Amien Purwokerto. Ketika berbicara lebaran tentunya setiap tempat memilki tradisi masing-masing, mulai dari menjelang hari raya sampai menyambut malam takbiran hingga berakhirnya shalat hari raya Idul Fitri.

Seperti halnya tradisi lebaran di Indonesia dengan Maroko banyak sekali perbedaannya. Namun ada juga sebagian tradisi yang mirip dengan Indonesia.

Menengok Tradisi Lebaran di Maroko (Sumber Gambar : Nu Online)
Menengok Tradisi Lebaran di Maroko (Sumber Gambar : Nu Online)


Menengok Tradisi Lebaran di Maroko

Tradisi Mudik

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Maroko juga memilki tradisi mudik seperti yang biasa dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Tradisi mudik bisa menjadi moment pengungkapan kemenangan dan kegembiraan setelah sebulan berpuasa.

Mudik lebaran yang setiap tahun menjadi peristiwa (mobilisasi) rutin luar biasa ini terkadang merepotkan untuk mendapatkan tiket keluar kota, jadi jika ingin pergi keluar kota seminggu sebelumnya harus sudah memesan tiket terlebih dahulu. Biasanya tempat tujuan utama bagi warga Indonesia khususnya pelajar Indonesia di Maroko tatkala lebaran tiba yaitu di kota Rabat. Tepatnya di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Rabat.

Berburu Baju Baru

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Lebaran erat sekali hubungannya dengan baju baru. Ini yang menarik. Mulai H-7 toko-toko pakaian dipadati pengunjung. Mereka berdesak-desakan untuk memilih-milih busana yang akan mereka beli demi meramaikan tradisi Baju Baru di Hari Lebaran. Mereka berlomba-lomba untuk memperbarui tampilan mereka saat Lebaran. Tradisi semacam ini yang biasa dijumpai di tanah air ternyata tak jauh berbeda dengan Maroko. Masyarakat Maroko khususnya kaum hawa rela berdesak-desakan di tengah teriknya matahari hingga menjelang maghrib, mereka terlihat begitu antusias untuk membeli baju baru demi untuk merayakan hari lebaran. Hampir di semua pasar-pasar di pusat kota selalu di penuhi para pemburu baju baru.

Biasanya para pria membeli pakaian tradisional Maroko yang disebut Djellaba (jubah panjang di sertai penutup kepala) lengkap dengan sandal tradisional. Untuk kaum wanitanya biasanya membeli Takchita atau Kaftan dan juga sandal tradisonal khas Maroko yang sangat cantik untuk dipakai di hari raya.

Malam Takbiran

Tatkala matahari tenggelam di akhir bulan Ramadhan, gema suara takbir dari corong-corong masjid langsung menyambutnya dengan merdu dan membahana. Suara takbir semakin menggema tatkala iringan sepeda motor dan mobil berarakan di jalan raya sambil mengumandangkan takbir dengan serempak. Tak hanya itu, letusan kembang api juga ikut mewarnai kemeriahan di hari kemenangan ini. Maklumlah, hari ini adalah Hari Raya Idul Fitri, hari kemenangan umat Islam, setelah satu bulan lamanya mereka menjalankan ibadah Ramadhan. Tapi suasana itu bisa dirasakan di Indonesia lain halnya di Maroko yang terkenal dengan sebutan negeri seribu benteng ini. Susana malam takbiran di Maroko laksana kota mati, tak ada suara takbir menggema dari berbagai sudut kota, baik di masjid atau musholla. Tak ada istilah takbir keliling dan kembang api.

Ketika keluar dari rumah jalanan pun terlihat sepi, lalu lalang kendaraan berjalan normal seperti biasanya. Seolah tidak ada moment besar terjadi pada hari ini, Ternyata Maroko menyebut hari raya Idul Fitri sebagai hari raya ashor (kecil) dan hari raya Idul Adha sebagai hari raya kabir (besar) jadi wajar saja kalau masyarakat Maroko lebih suka untuk merayakan hari raya qurban dari pada hari raya Idul Fitri. Tidak hanya itu, Masyarakat Maroko juga mengganggap sebuah aib jika tidak melaksanakan qurban. Jadi bisa dipastikan ketika hari raya qurban tiba semua masyarakat Maroko sudah mempersiapkan hewan kurban.

Untunglah setiap malam takbiran tiba KBRI Rabat selalu mengundang semua warga Indonesia di Maroko untuk mengumandangkan takbir bersama di ruang serba guna sekaligus pemberian zakat bagi semua warga Indonesia yang hadir. Setidaknya pertemuan tersebut bisa mengobati rasa rindu kepada keluarga tercinta di kampung halaman.

Ketupat

Layaknya baju baru, lebaran juga identik dengan ketupat atau sering disebut kupat. Orang Jawa mengartikan istilah kupat dengan ngaku lepat atau mengakui kesalahan. Biasanya, ketupat disajikan bersama opor ayam dan sambal goreng. Ini pun ternyata ada makna filosofisnya. Opor ayam menggunakan santan sebagai salah satu bahannya. Santan, dalam bahasa Jawa disebut santen yang mempunyai berkait dengan pangapunten alias memohon maaf. Karena dekatnya kupat dengan santen ini, ada pantun yang sering dipakai pada kata-kata ucapan Idul Fitri: Mangan kupat nganggo santen/ menawi lepat, nyuwun pangapunten. (Makan ketupat pakai santan/bila ada kesalahan mohon dimaafkan). Tapi lagi-lagi ini hanya bisa dirasakan di tanah air yang memilki banyak makanan khas yang kaya akan cita rasanya.

Sementara Maroko punya sajian istimewa tersendiri buat lebaran yaitu pie ayam. Hidangan ayam yang satu ini rasanya gurih dan sedikit asam. Diberi topping almond yang renyah juga dibumbui dengan air jeruk lemon. Gurih-gurih renyah dan asam! Untuk menandai berakhirnya bulan puasa umumnya dilakukan berbagai persiapan. Seperti membuat halawiyat (manisan) atau kue kering dan menyiapkan hidangan lezat dan mewah. Baik untuk dinikmati bersama keluarga atau diberikan sebagai hantaran. Tradisi ini dilakukan warga Maroko menjelang lebaran, biasanya para wanita sibuk di dapur untuk menyuapkan kue-kue. Namun ada juga yang memilih untuk membeli kue jadi di toko terdekat.

Selanjutnya makanan tersebut dihidangkan diatas atas meja ketika hari lebaran tiba. Sebelum menyantapnya warga Maroko terlebih dahulu menyantap Dajaj Muhamar yaitu ayam panggang yang disajikan dalam piring besar dan dimakan bersama-sama anggota keluarga lainnya. Setelah itu, biasanya seluruh keluarga menikmati teh khas Maroko yang disebut Atai.Teh disajikan dalam teko berdesain cantik dan unik yang disebut Barad.

Didalam penuangan Atai ini memilki aturan tersendiri, biasanya setelah dituangkan ke dalam gelas kemudian dimasukan lagi ke dalam teko dan dituangkan lagi hingga tiga kali. Kata warga Maroko disitulah letak kenikmatan cita rasa Atai yang sesungguhnya. Jadi jika tidak melalui proses tersebut bagi mereka kurang sempurna. Untuk menemani minuman Atai, biasanya ada makanan pendamping yang diberi nama Zamita.

Bagi WNI yang merayakan lebaran di negeri seribu benteng ini jangan berharap bisa menemukan restoran yang menjual makanan khas Nusantara, jangankan menu masakannya, untuk mendapatkan bumbunya saja tidak ada pasar atau tempat khusus yang menjual bumbu masakan khas Indonesia. Satu-satunya cara untuk mendapatkan menu lebaran tersebut dengan mendatangi wisma duta Indonesia KBRI Rabat untuk melaksanakan sholat Idul Fitri yang tiap tahun diadakan di halaman wisma tersebut.

Kegiatan ini merupakan acara rutinan yang diadakan oleh KBRI Rabat untuk mengumpulkan semua warga Indonesia di Maroko. Selesai sholat Ied, semua bersalam-salaman sekaligus halal bihalal di tempat kediaman Dubes RI di Maroko, sekitar setengah jam kemudian dilanjutkan dengan acara makan-makan di tempat kediaman dinasnya yang asri, luas dan rimbun ini. Disinilah segala jenis makanan nusantara bisa ditemui dan dinikmati, mulai dari opor ayam, ketupat, lontong, soto madura, dan lain-lain.

Lebaran di Wisma Duta Indonesia juga merupakan ajang bertemunya seluruh warga Indonesia dari segala penjuru Maroko. Bertemu dengan orang-orang yang senasib dan seperjuangan, membuat rasa sedih dan nelangsa hilang saat itu meski usai acara tersebut rasa kangen rindu terhadap keluarga di rumah kembali menyelimuti.

Redaktur : Mukafi Niam

Kontributor: Kusnadi El-Ghezwa

Dari (Internasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/46430/menengok-tradisi-lebaran-di-maroko

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Selasa, 09 Desember 2014

NU Turki Peringati Nuzulul Quran Bersama Dubes RI

Istanbul, Pesantren Al-Amien Purwokerto. Pengurus Cabang Istimewa Nahdhatul Ulama (PCINU) Turki memperingati malam Nuzulul Quran tahun ini dalam kemasan nonformal dan santai. Namun, di balik kesederhanaan tersebut hadir tamu spesial Duta Besar RI untuk Aljazair Ahmad Niam Salim.

Peringatan turunnya Al-Quran yang digelar 17 Ramadhan 1435 H, Senin (14/7), ini digelar di kawasan Blue Mosque Sultan Ahmet, Istanbul, Turki. Acara ini dihadiri anggota PCINU Turki yang sedang kuliah di Turki, khususnya Istanbul.

NU Turki Peringati Nuzulul Quran Bersama Dubes RI (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Turki Peringati Nuzulul Quran Bersama Dubes RI (Sumber Gambar : Nu Online)


NU Turki Peringati Nuzulul Quran Bersama Dubes RI

Dalam kesempatan itu, duta besar yang lahir dari kalangan pesantren itu menjabaran beberapa hal seputar kandungan Al-Quran. Ia menuturkan bahwa salah satu spirit Al-Quran adalah agar manusia itu bertindak secara kreatif dan menerapkan seni atau gaya khas keindahan dalam setiap hal.

Hal ini terinspirasi dari ayat 30 pada surat Al-Anfal yang artinya kurang lebih, Dan Allah sebaik-baik pembuat makar.." Dalam ayat ini Ahmad Niam Salim menerjemahkan secara bebas kata makar sebagai stretegi.

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Sekarang yang jadi pertanyaan, bukankah Allah itu mampu membuat sesuatu hanya dengan berkata Jadilah! Jika memang demikian, mengapa Allah membuat strategi segala? Bukankah dengan hanya berfirman Jadilah! maka akan terjadi hal yang di inginkan Allah itu?

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Niam Salim melanjutkan, Nah di sinilah letak spirit itu, ternyata dengan ayat ini, seolah-olah Allah mengajarkan kepada manusia bahwa dalam melakukan suatu hal jangan asal jalan saja, tetapi memerlukan strategi agar tepat sasaran. Memerlukan seni agar tidak ada yang tersakiti, memerlukan pertimbangan agar semua merasa aman, tuturnya.

Ketua Tanfidziah PCINU Turki Ulin Nuha mengatakan, meski dikemas santai pihaknya tetap menjadikan acara ini sebagai tujuan untuk mendalami nilai-nilai Al-Quran.

PCINU Turki merayakan hari turunnya Al-Quran dengan mengupas spirit Alquran bagi kemajuan suatu bangsa. Acara yang di kemas dengan obrolan santai namun berbobot tersebut telah menyedot motivasi para punggawa PCINU Turki, ujarnya. (Hari Pebrian/Mahbib)

Dari (Internasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/53337/nu-turki-peringati-nuzulul-quran-bersama-dubes-ri

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Senin, 01 Desember 2014

NU Taiwan Berkomitmen Kembangkan Ajaran Aswaja An-Nahdliyah

Taichung, Pesantren Al-Amien Purwokerto. Pengurus PCINU Taiwan menggelar silaturahmi dengan warga NU di Taichung. Bertempat di Masjid resmi pemerintah Provinsi Taichung, Taiwan, Sabtu (12/11) lalu. Kegiatan tersebut merupakan rangkaian acara Pelantikan PCINU Taiwan 2016-2018 dan Harlah ke-9 PCINU Taiwan.

Hadir dalam kesempatan tersebut, Wakil Rais Aam PBNU KH Miftahul Akhyar, Wakil Ketua PCINU Taiwan, Ali Sadikin dan jajaran pengurus Ranting Taichung.

NU Taiwan Berkomitmen Kembangkan Ajaran Aswaja An-Nahdliyah (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Taiwan Berkomitmen Kembangkan Ajaran Aswaja An-Nahdliyah (Sumber Gambar : Nu Online)


NU Taiwan Berkomitmen Kembangkan Ajaran Aswaja An-Nahdliyah

Dalam sambutanya, Yogi, Ketua Ranting NU Taichung menyampaikan ucapan terima kasih yang mendalam atas kehadiran Wakil Rais Aam PBNU.

Pesantren Al-Amien Purwokerto

"Kedatangan KH Miftahul Akhyar menjadi spirit bagi kami untuk terus mengembangkan ajaran Ahlusunna wal Jamaah di Taiwan," ujar Yogi.

Menurutnya, kehidupan di Taiwan yang menjunjung tinggi toleransi, memudahkan pihaknya untuk mengamalkan amaliyah-amaliyah NU. Hal ini juga dirasakan oleh sejumlah tenaga kerja asal Indonesia.

Sementara itu, KH Miftakhul Akhyar berpesan, selama di negeri orang, harus bisa mengambil nilai-nilai positif kehidupan warga Taiwan. Seperti tepat waktu, jujur dan toleran terhadap sesama.

Pesantren Al-Amien Purwokerto

"Perilaku jujur itu harus dibawah dan ditularkan di kehidupan saat pulang ke Indonesia," ujar Kiai Miftah.

Selain Kiai Miftah, Pengasuh Pondok Pesantren Bumi Sholawat KH Agus Ali Masyhuri yang hadir dalam kesempatan tersebut juga menyampaikan taushiyanya. Dia menyampaikan pentingnya semnagat juang dan pemikiran positif dalam perilaku sehari-hari.

Peringatan Harlah PCINU Taiwan ke-9 diselenggarakan di Taipei Main Station. Acara yang digelar sejak pukul 09.00 hingga pukul 17.00 waktu setempat ini tak membuat para jamaah bergeser.

Acara diawali penampilan hadroh dari Forsmit yang melantunkan puji-pujian melalui shalawat diba/barzanji, dan penampilan sholawat dari pengurus Banom menambah khidmat acara tersebut.

Tak kurang dari 1000 jamaah NU Taiwan memadati halaman Main Station Taipei hingga di luar tenda yang disediakan panitia. Praktis, hari itu menjadi pengobat rindu akan kecintaan terhadap Nabi Muhammad SAW. Hal itu terpancar dari ekspresi mereka ketika melantunkan bacaan shalawat barzanji secara serempak.

Selain pelantikan PCINU, juga dilantik dua lembaga dan empat Badan Otonom NU. Untuk periode 2016-2018, PCINU Taiwan diketuai oleh Arif Wahyudi. (Red: Fathoni)

Dari (Internasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/72923/nu-taiwan-berkomitmen-kembangkan-ajaran-aswaja-an-nahdliyah

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Senin, 28 Juli 2014

Peci Hitam Bung Karno Berkesan di Mesir

Kairo, Pesantren Al-Amien Purwokerto. "Ahmad Soekarno, Ahmad Soekarno!", begitu teriakan sejumlah orang Mesir ketika penulis sengaja naik metro anfaq (subway, kereta bawah tanah) menuju Bundaran Tahrir untuk shalat Jumat di Masjid Omar Makram di pusat kota Kairo, Jumat (9/11).

Rupanya teriakan itu bukan karena wajah penulis mirip tokoh kaliber bersapa Bung Karno, tapi ternyata peci hitam khas Melayu bertengger di kepala ini sehingga mencuri perhatian.

Peci Hitam Bung Karno Berkesan di Mesir (Sumber Gambar : Nu Online)
Peci Hitam Bung Karno Berkesan di Mesir (Sumber Gambar : Nu Online)


Peci Hitam Bung Karno Berkesan di Mesir

Seorang pria berusia sekitar 70 tahun menyapa penulis di metro Anfaq dengan nada sok tahu, "Kamu dari daerah mana di Indonesia?".

Penulis balik bertanya, "Lho, dari mana bapak tahu saya orang Indonesia?". Dengan senyum hangat ia berucap, "itu tuh", sambil menunjuk peci di kepala penulis.

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Si bapak yang mengaku bernama Abu Shawki itu kemudian bercerita panjang lebar mengenai gegap gempitanya sambutan rakyat Mesir setiap kali Bung Karno berkunjung ke negeri Piramida itu.

Rupanya ada udang di balik batu, Abu Shawki ternyata berhasrat miliki peci ini, "Boleh ya berikan saya kenang-kenangan pecimu, hehehe".

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Maklum, peci hitam jarang dipakai warga Melayu di negeri ini selain presiden-presiden Indonesia dan segelintir kalangan pejabat Indonesia yang berkunjung ke Mesir.

Memang para pejabat Melayu, misalnya dari Malaysia atau Brunei Darussalam yang berkunjung ke Mesir, juga memaki peci, tapi sudah dimodifikasi, bukan lagi berwana hitam pekat polos seperti peci khas Indonesia.

Seorang teman wartawan Mesir yang penulis berikan suvenir berupa sebuah peci hitam, mengaku selalu diteriaki Ahmad Soekarno ketika ia memakai peci tersebut.

"Saya pernah pakai peci saat menonton film di bioskop di Kairo, saya malah menjadi perhatian dan beberapa orang meneriaki saya dengan menyebut Soekarno", ujarnya.

Saking berkesannya, Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser dan Wakil Presidennya, Anwar Saddat, bahkan pernah bergantian memakai peci Bung Karno untuk foto bersama Sang Proklamator saat lawatannya ke Kairo.

Ketika meliput berita revolusi Mesir di Bundaran Tahrir pada awal tahun 2011, penulis dengan bangga memaki peci hitam di tengah ribuan massa yang berupaya menumbangkan rezim pimpinan Presiden Hosni Mubarak.

Namun, seorang teman wartawan Mesir membisiki penulis agar menanggalkan peci hitam, karena ia khawatir terbidik sniper, penembak jitu dari aparat pro rezim yang berusaha menumpas pemberontakan.

"Saya sarankan peci hitammu tanggalkan saja, karena siapa tahu ada sniper pro rezim yang membidik warga asing karena mereka mencurigai Anda sebagai pendukung pemberontakan anti-rezim," bisiknya.

Jejak Bung Karno

Di antara presiden-presiden Indonesia dari Soekarno hingga Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Bung Karno paling populer di kalangan rakyat Mesir.

Maklum, sepanjang masa baktinya sebagai Presiden, Bung Karno tercatat paling banyak berkunjung ke Mesir dibanding para presiden berikutnya.

Menurut buku "Potret Hubungan Indonesia-Mesir: Jauh di Mata Dekat di Hati" (2009), Bung Karno melawat ke Mesir sebanyak enam kali, yaitu tahun 1955, 1958, 1960, 1961, 1964, dan 1965.

Sementara, Soeharto hanya dua kali melakukan kunjungan kenegaraan ke Mesir pada 1977 dan 1998.

Adapun Presiden Bacharuddin Jusuf Habibi tidak sempat berkunjung ke Mesir, tapi setahun menjelang dilantik jadi presiden, pakar aeronautika itu melakukan lawatan dalam kapasitas sebagai menteri riset dan teknologi pada 1997, menyusul lawatannya serupa pada 1995.

Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dua kali ke Mesir pada 2000 dan 2001, Presiden Megawati Soekarnoputri satu kali pada 2002.

Presiden SBY satu kali berkunjung ke Mesir pada 2004 saat menghadiri upacara penghormatan terakhir terhadap mendiang Presiden Palestina Yasser Arafat yang jenazahnya disemayamkan di Mesir sebelum dimakamkan di tanah kelahirannya, Palestina.

Setiap kunjungannya ke Mesir, Bung Karno senantiasa disambut gegap gempita oleh masyarakat setempat di sepanjang jalan dari bandara hingga Istana El Qobba, tempatnya menginap, sambil melambaikan bendera mini Indonesia dan Mesir.

Mohamed Gamal, purnawirawan perwira angkatan laut Mesir mengenang bahwa ia merasa takjub dengan kebesaran Bung Karno.

"Saya melihat banyak orang di jalanan melambaikan bendera mini Indonesia dan Mesir ketika menyambut kunjungan Presiden Soekarno, saya saat itu saya masih remaja dan bersemangat juga menyambutnya," kenang Gamal yang kini aktif mengajar "khat Arabi" (lukisan Arab) di Masjid Rabi`ah Adawiyah itu.

Sambutan meriah itu juga terekam dalam video dan foto-foto hitam putih yang hingga kini masih tersimpan rapi baik di Perpustakaan Nasional Mesir maupun di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kairo.

Pemimpin flamboyan itu dikenal amat gandrung dengan tari perut yang dipersembahkan gadis-gadis cantik negeri warisan Ratu Cleopatra tersebut.

Kabar burung yang beredar di kalangan masyarakat setempat, penari kesohor Mesir, Nagwa Fouad, kini berusia 73 tahun, menjadi langganan favorit untuk pertunjukan kesenian di hadapan sang tamu agung, Bung Karno.

Jejak lainnya yang membuat pemimpin legendaris Nusantara tersebut begitu terkesan di mata masyarakat Mesir, yaitu nama besar Soekarno masuk dalam kurikulum pelajaran sejarah di sekolah setempat sebagai sahabat kental pemimpin legendaris Mesir, Gamal Abdel Nasser dalam berjuang menumpas imperialisme.

Nadia El-Bahr, mahasiswi Universitas Kairo, misalnya menuturkan bahwa ia mengenal Soekarno dari buku-buku sejarah yang diajarkan sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama.

"Soekarno adalah sahabat karib almarhum Presiden Gamal Abdel Nasser. Mereka berdua merupakan tokoh-tokoh puncak pendiri Gerakan Non-Blok," katanya.

Jejak lainnya yang terkesan adalah Mangga Soekarno. Konon Bung Karno yang memperkenalkan mangga dari Indonesia untuk dikembangkan di negeri Lembah Nil itu sejak tahun 1950-an.

Makanya, di sela lawatannya ke Mesir, Presiden Megawati pada 2002 menyempatkan waktunya untuk mengunjungi pekebunan mangga di kawasan Delta Nil, Provinsi Alexandria, 220 km utara Kairo.

Namun, jejak abadi yang paling dikenang adalah diadopsinya nama Bung Karno sebagai salah satu nama jalan di Kairo, tepatnya di Distrik Agouza, sisi barat Sungai Nil.

Alhasil, di balik peci hitam dan jejak-jejak Bung Karno itu menyimpan spirit persahabatan kedua bangsa yang kendati jauh di mata, tapi dekat di hati. (M043/Z002

Redaktur: Mukafi Niam

Sumber : Antara

Dari (Internasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/40773/peci-hitam-bung-karno-berkesan-di-mesir

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Jumat, 30 Agustus 2013

Gaung Islam Aswaja An-Nahdliyyah di Bumi Jerman

Munich, Pesantren Al-Amien Purwokerto. Pada Hari Ahad, 23 April 2017 yang lalu, PCINU Jerman telah sukses mengadakan acara silaturrahim dan pengajian sekaligus konferensi cabang (konfercab) sebagai agenda utamanya. Acara yang dilaksanakan di Munich ini dihadiri oleh sekitar 60 Nahdliyyin dari berbagai kota lainnya di Jerman antara lain Berlin, Bremen, Duisburg, Freiburg, Gttingen, Ilmenau, Karlsruhe, Kassel, dan Ulm. Sehari sebelumnya, beberapa hadirin yang telah tiba terlebih dulu di Munich disambut hangat oleh Rais Syuriyah PCINU Jerman, Kiai Syaeful Fatah, dengan menu bakso.

Pada hari pelaksanaanya, sambutan Kiai Syaeful Fatah dilanjutkan dengan sambutan ketua Tanfidziyah, Zacky Umam dalam rangkaian acara pembukaan sekitar pukul 10:00 pagi waktu setempat. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan berkumpul ini, para hadirin kemudian membaca Maulid untuk menambah kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW.

Gaung Islam Aswaja An-Nahdliyyah di Bumi Jerman (Sumber Gambar : Nu Online)
Gaung Islam Aswaja An-Nahdliyyah di Bumi Jerman (Sumber Gambar : Nu Online)


Gaung Islam Aswaja An-Nahdliyyah di Bumi Jerman

Kiai Syaeful Fatah melanjutkan rangkaian acara dengan memberikan ceramah singkat seputar Aswaja An-Nahdliyyah. Ia menekankan pentingnya kejelasan sanad keilmuan yang bersambung hingga Rasulullah SAW dalam mempelajari Islam aswaja. Tradisi inilah yang sudah dimiliki oleh Nahdlatul Ulama sejak awal berdirinya dan masih terus dipertahankan hingga sekarang.

Acara kemudian berlanjut menuju sesi seminar dan diskusi dengan judul NU dan Tantangan Islam Nusantara Ditengah Gerakan Islam Transnasional dan Islam Transaksionaldengan narasumber Ayang Utriza Yakin, DEA., PhD. Wakil Ketua LTM-PBNU 2015-2020 yang juga akrab disapa Gus Ayang ini menjelaskan tentang sejarah Nahdlatul Ulama dari sudut pandang kondisi lokal dan global disekitar masa pendiriannya.

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Di samping itu, peneliti yang pernah mengikuti program visiting research fellow di University of Oxford ini juga menjelaskan bahwa Islam Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyyah (aswaja) adalah suatu usaha mendamaikan pertentangan antara penafsiran tekstual yang terlalu kaku dengan penafsiran yang terlalu bebas dengan berpegang pada prinsip tawassuth (tengah-tengah), tawazun (seimbang), dan tasamuh (toleransi).

Saat sesi diskusi berlangsung, ia juga menyayangkan apabila istilah Islam Nusantara disalahpahami sebagai sebuah upaya membuat agama baru. Padahal sejatinya ia tidak lain adalah upaya untuk mengawinkan ajaran Islam dengan adat budaya setempat selama tidak bertentangan dengan Al-Quran dan hadits sebagai dasar hukum tertinggi dalam agama Islam. Di penghujung diskusi, ia berpesan bahwa pada prinsipnya perbedaan pendapat di antara umat Islam adalah suatu hal yang niscaya dan tetap perlu disikapi dengan arif dan bijaksana.

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Setelah makan siang diikuti dengan sholat dhuhur berjamaah, acara dilanjutkan dengan pembacaan surat Yasin dan tahlil. Agenda Konfercab PCINU Jerman sendiri kemudian dimulai pukul 15:00 dengan laporan pertanggungjawaban pengurus PCINU Jerman masa bakti 2014-2017 yang diwakili oleh Ketua Tanfidziyah, Zacky Umam.

Salah satu program yang diunggulkan antara lain ialah siraman rohani oleh Ustadz Imran Angullia Al-Hafidz bertemakan Refleksi Keteladanan Nabi Muhammad SAW untuk Kehidupan Saat Ini yang dilaksanakan di Masjid Al-Falah, Berlin pada tanggal 1 Januari 2017 lalu. Ustadz Imran yang asli Singapura ini merupakan seorang dai muda murid dari Al-Habib Umar bin Hafidz Yaman yang aktif berdakwah di Eropa.

Melalui musyawarah yang dipimpin oleh Kiai Syaeful, para hadirin kemudian mencapai mufakat untuk memberikan amanah Ketua Tanfidziyah PCINU Jerman masa bakti 2017-2019 kepada Muhammad Rodlin Billah. Sesaat sebelum waktu menunjukkan pukul 19:00, Kiai Syaeful kemudian menutup acara dengan membaca doa. Teriring pula ucapan terima kasih atas kerja keras kepengurusan lama serta harapan bagi kepengurusan baru agar ke depannya PCINU Jerman dapat terus menggaungkan Islam Aswaja An-Nahdliyyah serta terus menebar manfaat bagi masyarakat Indonesia di bumi Jerman. Red: Mukafi Niam

Dari (Internasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/77445/gaung-islam-aswaja-an-nahdliyyah-di-bumi-jerman

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Sabtu, 10 Agustus 2013

Kadir Gecesi, Tradisi Berburu Lailatul Qadar di Turki

Istambul, Pesantren Al-Amien Purwokerto. Berbeda dengan tradisi di Indonesia, malam Lailatul Qadar di Turki diperingati pada malam 27 Ramadhan. Tahun ini malam 27 Ramadhan bertepatan dengan tanggal 1 Juli. Umat Muslim Turki secara serentak menyambut datangnya malam Lailatul Qadar. Seluruh jamaah berbondong-bondong memadati masjid di kawasan mereka masing masing.

Tradisi Kadir Gecesi juga dirayakan oleh umat Muslim di Konya. Di kota Sufi Maulana Jalaluddin Rumi ini, para jamaah setelah shalat Magrib mulai memadati halaman masjid Selimiye yang terletak di komplek makam dan museum Rumi. Perayaan Lailatul Qadar di Konya dihadiri sekitar 100 ribu jamaah. Mereka melaksanakan shalat Tarawih 20 rakaat dan shalat Witir 3 rakaat. Di luar itu ada jeda untuk mengambil atau memperbarui wudhu bagi yang batal. Ibadah selanjutnya shalat Lailatul Qadar sebanyak 4 rakaat. Pada rekaat pertama dan ketiga mereka membaca surat Al-Fatihah dan Al-Qodar. Pada rekaat kedua dan keempat mereka membaca surat Al-Fatihah dan Al-Ikhlas.

Kadir Gecesi, Tradisi Berburu Lailatul Qadar di Turki (Sumber Gambar : Nu Online)
Kadir Gecesi, Tradisi Berburu Lailatul Qadar di Turki (Sumber Gambar : Nu Online)


Kadir Gecesi, Tradisi Berburu Lailatul Qadar di Turki

Di luar komando para imam dan mufti tersebut, jamaah bebas melaksanakan shalat sunnah lainnya seperti Tahajud.

Salah satu hal unik yang bisa ditemui di Masjid Selimiye, Konya adalah diantara dua menara masjid terdapat lampu bernama mahya yang memijarkan kalimat kadir gecesi bin aydan daha hayrldr (malam Lailatul Qadar lebih baik dari seribu bulan). Perayaan malam Lailatul Qadar ini berlangsung hingga waktu sahur. Para jemaah setelah melakukan ibadah disediakan makan sahur oleh panitia acara. (Heri Pabriantok/Mukafi Niam)

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Dari (Internasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/69536/kadir-gecesi-tradisi-berburu-lailatul-qadar-di-turki

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Minggu, 24 Februari 2013

KBRI Damaskus Selamatkan TKW dari Wilayah Kekuasaan ISIS

Damaskus, Pesantren Al-Amien Purwokerto. Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Damaskus berhasil mengevakuasi seorang TKI bernama Sri Rahayu binti Masdin Nur asal Sumbawa NTB dari wilayah kekuasaan ISIS di Raqqah Damaskus.

Duta Besar RI Damaskus, Djoko Harjanto menyatakan, keberhasilan Tim Konsuler KBRI Damaskus dalam menyelamatkan Sri Rahayu patut diapresiasi. Selain itu, perlindungan WNI di wilayah konflik dapat terlaksana berkat hubungan yang terjalin baik, terus dibina, ditunjang oleh jejaring yang kuat.

KBRI Damaskus Selamatkan TKW dari Wilayah Kekuasaan ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)
KBRI Damaskus Selamatkan TKW dari Wilayah Kekuasaan ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)


KBRI Damaskus Selamatkan TKW dari Wilayah Kekuasaan ISIS

Tanpa jejaring yang kuat antara KBRI Damaskus, pemerintah Suriah, dan tokoh masyarakat, mustahil dapat mengemban misi utama perlindungan WNI di tengah gejolak konflik Suriah ini, ujar Dubes Djoko di KBRI Damaskus, Senin (14/3).

Pejabat Fungsi Konsuler merangkap Penerangan Sosbud KBRI Damaskus, AM. Sidqi, mengungkapkan penyelamatan TKI dari wilayah konflik bukan pertama kali dilakukan oleh Tim Konsuler KBRI Damaskus.

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Pada Januari 2016, KBRI Damaskus juga berhasil menyelamatkan seorang TKW asal Subang bernama Casih bt Waan dari kepungan ISIS di Deir Ezzor yang dievakuasi menggunakan amper ter tentara Suriah, tutur Sidqi.

Sejak konflik meletus di Suriah pada 2011, KBRI Damaskus juga telah merepatriasi sebanyak hampir 13 ribu orang WNI/TKI dari Suriah kembali ke Indonesia.

Kronologis Penyelematan

Sejak menerima informasi tentang keberadaan Sri Rahayu pada Juni 2015, KBRI Damaskus selalu mencari cara agar bisa mengevakuasi Sri Rahayu dari Raqqah. Pemerintah Suriah telah kehilangan kontrol terhadap Kota Raqqah sejak lama, sedangkan akses dari/ke Raqqah ditutup ketat oleh ISIS. Melalui pengacara KBRI Damaskus di Aleppo, Muhammad Akra, KBRI Damaskus menekan terus agen tenaga kerja Sana yang mengirim Sri Rahayu ke Raqqah untuk bertanggung jawab. Agen tenaga kerja tersebut selalu beralasan bahwa mustahil mengeluarkan Sri Rahayu dari Raqqah.

Sejak konflik di Suriah meletus, Raqqah merupakan medan pertempuran paling parah sekaligus medan perang paling berat antara tentara Pemerintah Suriah, pemberontak Tentara Pembebasan Suriah (Free Syrian Army/FSA), dan ISIS. Sejak akhir 2013, ISIS berhasil merebut Kota Raqqah dari pemberontak FSA dan menjadikannya sebagai ibukota ISIS.

Setelah menyusun rencana bersama, dipilihlah seorang pegawai agen tenaga kerja yang mengenal wilayah medan pegunungan AleppoRaqqah untuk menjemput Sri Rahayu. Setelah mencermati waktu yang tepat dan rencana matang disusun, Sri Rahayu dievakuasi melalui perjalanan darat RaqqahAleppo dari gunung ke gunung secara klandestin siang dan malam selama 6 hari. Untuk mengelabui tentara ISIS, Sri Rahayu dan pegawai agen mengaku sebagai suami istri. Sri Rahayu berhasil dibawa ke Kantor Konsuler cabang Aleppo pada Januari 2016. Setelah semua hak dan urusan selesai diperjuangkan di Aleppo, Sri Rahayu diantarkan ke shelter Damaskus pada 12 Maret 2016 untuk dipulangkan ke Indonesia pada kesempatan pertama.

Sri Rahayu didatangkan ke Suriah pada 2 Februari 2011 atas upaya agen tenaga kerja PT Binhasan Maju Sejahtera (Indonesia) dan Sana (Suriah) untuk bekerja di Aleppo. Meskipun telah habis masa kontrak kerjanya di Aleppo selama 2,5 tahun, Sri Rahayu bukannya dipulangkan, tetapi malah dijual kembali oleh agen Sana ke majikan baru bernama Abdul Azim al-Ujaeli di Raqqah. Agen Sana selalu berbohong kepada Sri Rahayu bahwa Kedutaan Indonesia tutup di Suriah dan tidak ada penerbangan ke Indonesia. Saat itu, Kota Raqqah masih dikuasai oleh pemberontak Free Syrian Army (FSA). Tiga bulan setelahnya atau pada akhir 2013, tentara ISIS memasuki Kota Raqqah dan mengklaim sebagai ibukota ISIS.

Selama 2 tahun lebih 2 bulan bekerja di Raqqah, Sri Rahayu digaji dengan baik oleh majikan Abdul Azim al-Ujaeli yang dulu berprofesi sebagai insinyur. Sri Rahayu bertugas untuk merawat majikannya yang sudah tua dan tinggal seorang diri, sementara anak-anak majikannya sudah keluar dari Raqqah. Majikan Sri Rahayu bukan simpatisan ISIS, tetapi penduduk asli Raqqah yang terjebak di Raqqah karena usia senja.

Selama tinggal dan bekerja di Kota Raqqah yang dikendalikan ISIS, TKW asal Sumbawa ini menyaksikan secara langsung peristiwa dimana ISIS memasuki Kota Raqqah. Sri Rahayu mengaku mendengar orang-orang berlarian sambil berteriak ketakutan bahwa ISIS memasuki Kota Raqqah dan merebut gudang senjata milik Batalyon 17 tentara Suriah. Sejak saat itu, ISIS menguasai kota dan bendera hitam menjadi pemandangan lazim di Kota Raqqah. Selama tinggal di bawah kontrol ISIS, Sri Rahayu selalu mengenakan pakaian hitam dengan cadar menutup rapat wajahnya ketika keluar rumah atau sekadar membersihkan halaman agar tidak diketahui berasal dari Indonesia.

Suatu hari, ketika TKW yang pernah bekerja di Arab Saudi selama 20 tahun ini berbelanja di Pasar Raqqah, ia melihat kepala-kepala manusia dijejerkan di pinggir jalan setelah dipenggal. Sri Rahayu membatalkan belanja dan lari pulang ketakutan ke rumah majikan. Dari bahasa dan logat bicaranya, Sri Rahayu mengenali banyak tentara ISIS di Kota Raqqah berasal dari Arab Saudi, Tunisia, India dan beberapa orang kulit putih, tetapi tidak pernah bertemu dengan orang Indonesia.

Di hari lain, Sri Rahayu disuruh oleh majikannya untuk membeli rokok secara sembunyi-sembunyi. Ia tahu ISIS mengharamkan rokok dan akan menghukum keras para perokok. Sebelum tiba di tempat penjual rokok, ia keburu dicegat oleh tentara ISIS dan ditanya akan kemana.

Saya akan membeli sesuatu ke pasar, jawab Sri Rahayu. Tentara ISIS tersebut lantas memerintahkan ia untuk kembali ke rumah karena tidak didampingi oleh lelaki muhrimnya. Untung rokok belum di tangan, kata Sri Rahayu menceritakan kejadian.

Sejak Raqqah dikuasai ISIS, kebutuhan bahan pokok menjadi sangat sulit. Pada bulan Ramadhan tahun 2014, ia bercerita mengantri membeli roti hingga menginap terpaksa di pabrik roti hanya untuk mendapatkan roti.

Setelah KBRI Damaskus melakukan screening berkali-kali kepada Sri Rahayu, tidak ada indikasi sama sekali bahwa TKW kelahiran 1976 ini bersimpati pada ISIS. Bahkan ia mengaku membenci ISIS karena melihat sendiri perilaku kejam mereka di Raqqah.

Selayaknya para TKW lainnya, Sri Rahayu hanya concern tentang gaji dan pulang. Hal ini sekaligus juga menolak asumsi beberapa pihak di tanah air bahwa banyak TKI di Suriah yang condong pemikirannya ke ISIS, ujar AM. Sidqi. (Pensosbud KBRI Damaskus/Zunus)

Dari (Internasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/66585/kbri-damaskus-selamatkan-tkw-dari-wilayah-kekuasaan-isis

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pesantren Al-Amien Purwokerto sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pesantren Al-Amien Purwokerto. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pesantren Al-Amien Purwokerto dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock