Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Februari 2017

Meninggal Dalam Keadaan Sujud, Ini Kebaikan Haji Miftah

Pesantren Al-Amien Purwokerto - H. Miftah Arifin, warga Kauman, Kec. Lawang, Kab. Malang, Jawa Timur, meninggal dalam kondisi masih sujud sedang mengerjakan shalat ba'diyah Isya di Masjid Babussalam, Selasa (03/01/2017) malam.

Cerita yang didapatkan Pesantren Al-Amien Purwokerto menyebutkan, saat Haji Miftah jamaah Isya, ia terlihat masih sehat, tidak ada tanda sakit atau apapun. Habis Isya, ketika jamaah bubar, masjid akan ditutup oleh petugas, ternyata ia masih saja sujud shalat ba'diyah Isya', padahal jamaah lain yang juga mengerjakan shalat ba'diyah Isya' di sana sudah pulang sebagian.

Setelah didekati, Miftah bukan hanya sujud, tapi sudah wafat, kembali kepada Allah dalam posisi yang sangat indah. Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun. Kabar tentang kematian Haji Miftah yang biasa memandikan jenazah tersebut pun akhitnya tersebar di jejaring WhatsApp hingga mengundang bela sungkawa sekaligus kagum. Ini bukan kematian biasa, kata salah satu netizen, dikutip Pesantren Al-Amien Purwokerto.

Entah kebaikan apa yang pernah dilakukan oleh Haji Miftah tersebut hingga mendapatkan kehormatan di saat-saat akhir hidupnya. Sumber Pesantren Al-Amien Purwokerto menyebutkan, ia adalah warga nahdliyyin yang taat beribadah. Dia dikenal sebagai orang yang ikhlas memandikan jenazah muslimin lain ketika meninggal.

Nabi bersabda, "seseorang kelak akan wafat, tergantung perbuatan yang ia biasakan saat hidup".

Seorang alim berkata, "bacalah rotibul haddad, insya Allah kamu sedang dituntun menuju khusnul khotimah". Alfatihah buat Mbah Haji Miftah Arifin. [Pesantren Al-Amien Purwokerto] 

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/meninggal-dalam-keadaan-sujud-ini-kebaikan-haji-miftah.html

Sabtu, 13 Agustus 2016

Santri Berpeluang Bangun Wirausaha Mandiri

Jepara, Pesantren Al-Amien Purwokerto. Rektor Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Veteran Semarang, H Bambang Triyono dalam Sarasehan bertajuk Peluang Wirausaha Santri Mandiri mengungkapkan, santri mempunyai peluang untuk membangun wirausaha mandiri.

Hal itu sejalan dengan qiyamuhu binafsihi, spirit kemandirian santri. Demikian dipaparkannya saat Koordinasi dan Sarasehan SMK Pesantren Se-Jawa Tengah DIY di pesantren Balekambang desa Gemiring Lor kecamatan Nalumsari, Ahad (7/4).

Santri Berpeluang Bangun Wirausaha Mandiri (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Berpeluang Bangun Wirausaha Mandiri (Sumber Gambar : Nu Online)


Santri Berpeluang Bangun Wirausaha Mandiri

Menurutnya, untuk membangun santri mandiri hanya membutuhkan 1-2 jam. Sehingga otak kanak jelas Bambang perlu diubah paradigma berpikirnya agar 1 ditambah 1 tidak sama dengan 2 melainkan menjadi 1 juta.

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Saya yang hendak dilantik PNS Eselon 2 memberanikan diri keluar meski dikaruniai 11 anak. Karenanya menjadi wirausahan harus berani out of box(keluar dari jalur-red), jelasnya.

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Bambang menyatakan, mandiri menurutnya mudah diucapkan tetapi susah dipraktikkan. Meski demikian sebagai Rektor ia telah menjalankan di kampusnya, mahasiswa yang hendak melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) harus berbekal komunikasi sosial yakni punya jiwa wirausaha.

Pihaknya, saat ini juga sedang menjalin kerjasama dengan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) se-Indonesia yang rencananya untuk memudahkan pemodalan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang berkenan bekerjasama dengan almamaternya.

Bambang mengakui para Wali sebenarnya mengajarkan untuk menamam. Para wali itu mengajarkan nandur(menanam-red), budidaya ikan dan beternak. Makanya saya di kampus mengajak mahasiswa untuk memelihara 5 pot yang isinya tanaman produktif, terangnya.

Andaikata, ada 3000 santri dan setiap santri mau memelihara 5 pot berisi tanaman produktif untuk urusan makan paparnya tidak perlu membeli lagi karena sudah memiliki pasokan. Sehingga menuju Indonesia mandiri dan pesantren mandiri akan terwujud.

Karenanya, menurut Bambang, untuk mengembangkan santri wirausaha perlu banyak enterprenur touch, sentuhan wirausaha. Santri perlu terus diberikan sentuhan wirausaha. Disamping itu, hearing, banyak mendengar tokoh-tokoh wirausaha yang sukses dan memetakan potensi wirausaha.

Sementara, M Mustaghfirin Amin, Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah Kemendikbud berharap SMK Pesantren menjadi sebuah kebijakan nasional sebab darinya mempunyai kekuatan yang tidak dimiliki lembaga pendidikan lain yakni pendidikan akhlak.

Jika trilogi pendidikan mencakup knowledge (pengetahuan), skill (keterampilan) dan attitute (sikap) maka untuk SMK Pesantren ditambah satu lagi spiritual, papar lelaki asal Demak.

Menjelang Indonesia emas, 2030 mendatang Mustaghfirin menyebut mereka adalah investasi negara yang kelak akan menjadi direktur, menteri dan pejabat lain yang sudah kuat karakternya.

Redaktur : A. Khoirul Anam

Kontributor: Syaiful Mustaqim

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/43667/santri-berpeluang-bangun-wirausaha-mandiri

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Senin, 27 Juli 2015

NU, Muhammadiyah participate in securing Christmas celebrations

Semarang, Pesantren Al-Amien Purwokerto. The countrys two largest Islamic organizations, Muhammadiyah and Nahdlatul Ulama (NU), are ready to deploy volunteers to work alongside police personnel to provide security ahead of and during Christmas and New Years Eve celebrations in Semarang, Central Java.

The Semarang-chapter Muhammadiyah central executive board said it would deploy 30 members of its security taskforce -- the Muhammadiyah Youth Readiness Command (Korkam)-- to help police secure Christmas and New Years Eve festivities in areas across the city.

NU, Muhammadiyah participate in securing Christmas celebrations (Sumber Gambar : Nu Online)
NU, Muhammadiyah participate in securing Christmas celebrations (Sumber Gambar : Nu Online)


NU, Muhammadiyah participate in securing Christmas celebrations

The head of Semarang-chapter Pemuda Muhammadiyah, the youth wing of the countrys second biggest Muslim organization, AM Jumai, said the Korkam personnel would be on guard at security posts they had established in 15 locations across the city.

Pesantren Al-Amien Purwokerto

We have coordinated with related parties such as the National Police, government officials and religious leaders, Jumai said in Semarang on Monday.

Pesantren Al-Amien Purwokerto

The security posts have been established at several strategic points, including the Tugu Muda area, Jl. Admodirono, Jl.MT Haryono and Jl.Gajahmada.

Jumai said his organization was also cooperating with Barisan Ansor Serbaguna (Banser), the NU security task force, which routinely deployed its members to participate in the securing of Christmas and New Years Eve celebrations.

Separately, Central Java Police spokesperson Sr.Comr.Liliek Darmanto said the National Police, with support from the Indonesian Military, would hold a security operation codenamed Operasi Lilin 2014 (Operation Candle) to provide security during Christmas and New Years Eve festivities.

The operation is expected to take place for 10 days between Dec.24 and Jan.2. We have carried out preparations, including holding a coordination meeting with parties involved in the operation, said Liliek as quoted by The Jakarta Post.

Thousands of key places such as churches, ports, airports, train stations, banking centers, malls and tourist destinations across the city will be safeguarded.

According to the Central Java Polices Operation Bureau, Central Java has 2,814 churches, comprising 2,337 Protestant churches and 477 Catholic churches, 194 tourist destinations, 232 shopping malls, one seaport, 69 train stations and three airports.

The police said Operation Candle was aimed at ensuring a safe and peaceful situation ahead over the Christmas and New Year period, while at the same time anticipating crime threats that had continued to expand.

From January to October this year, crime was on the increase, especially vehicle theft, robbery and arson.

Editing by Sudarto Murtaufiq

Dari (National) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/56512/nu-muhammadiyah-participate-in-securing-christmas-celebrations

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Senin, 20 Juli 2015

Ulama Nusantara Dalam Sanad Minhajuth Thalibin dan Kanzur Raghibin

Pesantren Al-Amien Purwokerto - Khataman dan Ijazah kitab Kanzu ar-Raghibin Syarh Minhaj ath-Thalibin li an-Nawawi karya Imam Jalal ad-Din al-Mahalli untuk santri Sanah Rabi'ah, malam Jumat 28 Rajab 1437 H/ 5 Mei 2016 M di Masjid STAI Imam Syafi'i Cianjur.

Ulama Nusantara Dalam Sanad Minhajuth Thalibin dan Kanzur Raghibin
Ulama Nusantara Dalam Sanad Minhajuth Thalibin dan Kanzur Raghibin


Alhamdulillah ala ni'amihi, kitab yg terdiri dari 4 juz ini telah dibacakan dan diterangkan secara perhuruf dan perkata selama 4 tahun, mulai tahun 2012 hingga 2016, setiap minggunya 5 pelajaran dalam 5 hari (Ahad sampai Kamis), setiap pelajaran menghabiskan waktu 1 jam. Adapun masyayikh yang mengajarkan adalah: Tahun pertama/ juz pertama oleh Syaikh Syadi Arbasy ad-Dimasyqi

Tahun kedua/ juz 2 oleh Syaikh Muhammad Darwisy ad-Dimasyqi

Tahun ketiga/ juz 3 oleh Syaikh Mahir al-Munajjid ad-Dimasyqi

Tahun keempat/ juz terakhir oleh Syaikh Syadi Arbasy ad-Dimasyqi. Silsilah sanad kitab yang diberikan kepada santri Sanah Rabi'ah ini melalui jalur ulama Nusantara yang telah disebutkan oleh Syaikh Yasin al-Fadani dalam kitabnya yang berjudul al-'Iqdu al-Farid min Jawahir al-Asanid. Berikut adalah Sanad untuk kitab Minhaj ath-Thalibin karya Imam an-Nawawi:

Santri Sanah Rabiah di Jami'ah Imam Syafi'i dari

1. Syaikh al-Faqih al-Ushuli Syadi Arbasy ad-Dimasyqi, dari

2. Syaikh al-Allamah al-Faqih al-Ushuli Hasan Hitou, hafizhahumallah, syaikh Hasan dari

3. Syaikh Musnid al-'Ashr YASIN AL-FADANI, dari

4. Syaikh al-Kiyahi BAQIR BIN NUR AL-JOGJAWI, Syaikh ALI BIN ABDULLAH AL-BANJARI, dan al-Faqih syaikh SHADAQAH BIN HAJI ABU BAKAT BIN RASYAD AL-MEDANI AS-SUMATHRI, ketiganya dari

5. Syaikh al-Kiyahi MAHFUZH BIN ABDULLAH AT-TARMASI, dari

6. Syaikh ZAINUDDIN BIN BADAWI AS-SUMBAWI, dari

7. Syaikh ABDUL KARIM AS-SAMBASI, dari

8. Syaikh al-Muammar Kyai NAWAWI BIN UMAR AL-BANTANI, dari

9. Syaikh ARSYAD BIN ABDUS SHOMAD AL-BANJARI, dari

10. Syaikh ABDUS SHOMAD BIN ABDURRAHMAN AL-FALIMBANI,

-----------PINDAH SANAD---------------

Syaikh Yasin al-Fadani juga meriwayatkan dari,

4. Habib al-Muammar ALI BIN ALI AL HABSYI AL MADANI, dan Kyai ABDUL MUHITH BIN YA'QUB SIDOARJO, keduanya dari

5. Al-Faqih kyai UMAR BIN SHOLEH BIN UMAR AS-SAMARANI, dari

6. Ayahnya, yaitu Syaikh SHOLEH BIN UMAR AS-SAMARANI, dari

7. Syaikh ABDUS SHOMAD BIN ABDUR RAMHAN AL-FALIMBANI, dari

8. Al-Muammar AQIB BIN HASANUDDIN BIN JA'FAR AL-FALIMBANI, dari

9. Pamannya, yaitu Syaikh THAYYIB BIN JA'FAR AL-FALIMBANI, dari

10. Ayahnya, yaitu Syaikh JA'FAR BIN MUHAMMAD BIN BADRUDDIN AL-FALIMBANI, dari

11. Imam Syamsuddin Muhammad bin Ala' al-Babili, dari

12. Imam Nurudiin Ali bin Yahya az-Ziyadi, dari

13. Imam Jamaluddin Sayyid Yusuf bin Abdullah al-Armayuni, dari

14. Imam Jalaluddin Abul Fadl Abdurrahman as-Suyuthi, dari

15. Syaikhul Islam, Alamuddin Sholih bin Umar al-Bulqini, dari

16. Ayahnya, yaitu Imam Sirajuddin Umar bin Ruslan al-Bulqini, dari

17. Imam Abul Hajjaj Yusuf bin Abdurrahman az-Zay, dari

18. Sang Muallif, Imam Muhyiddin Yahya bin Syaraf an-Nawawi

Dan dibawah ini adalah sanad dengan jalur ulama Nusantara untuk kitab Syarh Imam al-Mahalli atas kitab Minhaj ath-Thalibin yang bernama Kanzu ar-Raghibin:

Santi Sanah Rabiah STAI IMAM SYAFII CIANJUR dari

1. Syaikh al-Faqih al-Ushuli Syadi Arbasy ad-Dimasyqi, dari

2. Syaikh al-Faqih al-Ushuli Muhammad Hasan hitou, dari

3. Musnid al-Ashr Syaikh YASIN AL-FADANI, dari

4. Syaikh ALI BIN UBAIDULLAH AL-BANJARI, dari

5. Syaikh ZAINUDDIN BIN BADAWI AS-SUMBAWI, dari

6. Syaikh al-Muammar NAWAWI BIN UMAR AL-BANTANI, dari

7. Syaikh ARSYAD BIN ABDUS SHOMAD AL-BANJARI AL-MARTAFURI, dari

8. Sayyid Imam Murtadla az-Zabidi (penulis kitab Ithaf Sadat al-Muttaqin Syarah Ihya Ulumiddin), dari

9. Sayyid Ahmad bin Muhammad Syarif Maqbul al-Ahdal, dari

10. Sayyid Ahmad bin Idria al-Hasani, dari

11. Sayyid Muhammad bin Abu Bakar asy-Syilli al-Makki, dari

12. Imam Syamsuddin Muhammad bin Ala' al-Babili, dari

13. Imam Ahmad bin Abu Bakar al-Khazraji al-Anshari yang terkenal dg sebutan Qu'ud al-Imam, dari Imam Yusuf bin Abdullah al-Husaini al-Armayuni, dari

14. Imam Jalaluddin as-Suyuthi, dari

15. Sang Muallif, asy-Syarih al-Muhaqqiq al-Mudaqqiq Imam Jalaluddin Muhammad bin Ahmad bin Muhammad al-Mahalli Radliyallahu anhum ajmain.

Source: kertas ijazah yang ditulis Syaikh Syadi Arbasy dan kitab al-Iqdu al-Farid karya Syaikh Yasin al-Fadani (hlm.70-71 dan 77)

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/05/ulama-nusantara-dalam-sanad-minhajuth-thalibin-dan-kanzur-raghibin.html

Senin, 16 Maret 2015

Bangun Keuangan Inklusif, Muslimat NU Gandeng OJK

Jakarta, Pesantren Al-Amien Purwokerto. PP Muslimat NU mendatangani nota kesepakatan (MoU) bersama OJK (Otoritas Jasa Keuangan) disela-sela Kongres XVII Muslimat NU di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur (26/11). Penandatanganan dilakukan oleh Muliaman D Hadad Ketua Dewan Komisioner OJK dan Hj Khofifah Indar Parawansa Ketum PP Muslimat NU.

Muliaman mengatakan, akses keuangan dijadikan program pengentasan kemiskinan secara aktif. Membuka akses keuangan inklusif, yang belum lancar menjadi lancar. "OJK berusaha mendekatkan masyarakat pada uang, kalau masyarakat sudah dekat dengan uang maka kemiskinan akan teratasi," kata Muliaman, memberikan penjelasan kepada peserta kongres.

Bangun Keuangan Inklusif, Muslimat NU Gandeng OJK (Sumber Gambar : Nu Online)
Bangun Keuangan Inklusif, Muslimat NU Gandeng OJK (Sumber Gambar : Nu Online)


Bangun Keuangan Inklusif, Muslimat NU Gandeng OJK

Maka dari itu, pemerintah melalui OJK mengatur regulasi bagaimana layanan keuangan bisa lebih dekat dengan masyarakat. "Semoga dengan adanya MoU ini pengetahuan tentang keuangan ibu-ibu muslimat semakin baik," ujarnya.

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Tahun ini OJK fokus pada masyarakat melek akan keuangan. Ibu-ibu itu bagaimanakan bendahara keluarga yang mempunyai kewenangan menggunakan uang keluarga. Tentunya ibu juga sebagai tiang negara. "Soalnya ibu berperan penting dalam urusan mengelola uang," tegas Muliaman.

Kerja sama ini baru pertama kali dilakukan oleh organisasi masyarakat (Ormas) Islam terbesar di Indonesia. Muslimat memiliki 34 Wilayah, 525 cabang dan ribuan pengurus anak cabang se-Indonesia.

"Ini langkah awal, nanti kita akan melakukan pilot project di beberapa daerah, saya serahkan kepada Muslimat. Tadi ibu Ketum Muslimat mengatakan telah melakukan pembinaan koperasi dan jasa keuangan di Jember dan di Jawa Barat. Kita akan optimalkan di beberapa desa," pungkasnya. (Rof Maulana/Fathoni)

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/73283/bangun-keuangan-inklusif-muslimat-nu-gandeng-ojk

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Senin, 28 Juli 2014

Peci Hitam Bung Karno Berkesan di Mesir

Kairo, Pesantren Al-Amien Purwokerto. "Ahmad Soekarno, Ahmad Soekarno!", begitu teriakan sejumlah orang Mesir ketika penulis sengaja naik metro anfaq (subway, kereta bawah tanah) menuju Bundaran Tahrir untuk shalat Jumat di Masjid Omar Makram di pusat kota Kairo, Jumat (9/11).

Rupanya teriakan itu bukan karena wajah penulis mirip tokoh kaliber bersapa Bung Karno, tapi ternyata peci hitam khas Melayu bertengger di kepala ini sehingga mencuri perhatian.

Peci Hitam Bung Karno Berkesan di Mesir (Sumber Gambar : Nu Online)
Peci Hitam Bung Karno Berkesan di Mesir (Sumber Gambar : Nu Online)


Peci Hitam Bung Karno Berkesan di Mesir

Seorang pria berusia sekitar 70 tahun menyapa penulis di metro Anfaq dengan nada sok tahu, "Kamu dari daerah mana di Indonesia?".

Penulis balik bertanya, "Lho, dari mana bapak tahu saya orang Indonesia?". Dengan senyum hangat ia berucap, "itu tuh", sambil menunjuk peci di kepala penulis.

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Si bapak yang mengaku bernama Abu Shawki itu kemudian bercerita panjang lebar mengenai gegap gempitanya sambutan rakyat Mesir setiap kali Bung Karno berkunjung ke negeri Piramida itu.

Rupanya ada udang di balik batu, Abu Shawki ternyata berhasrat miliki peci ini, "Boleh ya berikan saya kenang-kenangan pecimu, hehehe".

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Maklum, peci hitam jarang dipakai warga Melayu di negeri ini selain presiden-presiden Indonesia dan segelintir kalangan pejabat Indonesia yang berkunjung ke Mesir.

Memang para pejabat Melayu, misalnya dari Malaysia atau Brunei Darussalam yang berkunjung ke Mesir, juga memaki peci, tapi sudah dimodifikasi, bukan lagi berwana hitam pekat polos seperti peci khas Indonesia.

Seorang teman wartawan Mesir yang penulis berikan suvenir berupa sebuah peci hitam, mengaku selalu diteriaki Ahmad Soekarno ketika ia memakai peci tersebut.

"Saya pernah pakai peci saat menonton film di bioskop di Kairo, saya malah menjadi perhatian dan beberapa orang meneriaki saya dengan menyebut Soekarno", ujarnya.

Saking berkesannya, Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser dan Wakil Presidennya, Anwar Saddat, bahkan pernah bergantian memakai peci Bung Karno untuk foto bersama Sang Proklamator saat lawatannya ke Kairo.

Ketika meliput berita revolusi Mesir di Bundaran Tahrir pada awal tahun 2011, penulis dengan bangga memaki peci hitam di tengah ribuan massa yang berupaya menumbangkan rezim pimpinan Presiden Hosni Mubarak.

Namun, seorang teman wartawan Mesir membisiki penulis agar menanggalkan peci hitam, karena ia khawatir terbidik sniper, penembak jitu dari aparat pro rezim yang berusaha menumpas pemberontakan.

"Saya sarankan peci hitammu tanggalkan saja, karena siapa tahu ada sniper pro rezim yang membidik warga asing karena mereka mencurigai Anda sebagai pendukung pemberontakan anti-rezim," bisiknya.

Jejak Bung Karno

Di antara presiden-presiden Indonesia dari Soekarno hingga Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Bung Karno paling populer di kalangan rakyat Mesir.

Maklum, sepanjang masa baktinya sebagai Presiden, Bung Karno tercatat paling banyak berkunjung ke Mesir dibanding para presiden berikutnya.

Menurut buku "Potret Hubungan Indonesia-Mesir: Jauh di Mata Dekat di Hati" (2009), Bung Karno melawat ke Mesir sebanyak enam kali, yaitu tahun 1955, 1958, 1960, 1961, 1964, dan 1965.

Sementara, Soeharto hanya dua kali melakukan kunjungan kenegaraan ke Mesir pada 1977 dan 1998.

Adapun Presiden Bacharuddin Jusuf Habibi tidak sempat berkunjung ke Mesir, tapi setahun menjelang dilantik jadi presiden, pakar aeronautika itu melakukan lawatan dalam kapasitas sebagai menteri riset dan teknologi pada 1997, menyusul lawatannya serupa pada 1995.

Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dua kali ke Mesir pada 2000 dan 2001, Presiden Megawati Soekarnoputri satu kali pada 2002.

Presiden SBY satu kali berkunjung ke Mesir pada 2004 saat menghadiri upacara penghormatan terakhir terhadap mendiang Presiden Palestina Yasser Arafat yang jenazahnya disemayamkan di Mesir sebelum dimakamkan di tanah kelahirannya, Palestina.

Setiap kunjungannya ke Mesir, Bung Karno senantiasa disambut gegap gempita oleh masyarakat setempat di sepanjang jalan dari bandara hingga Istana El Qobba, tempatnya menginap, sambil melambaikan bendera mini Indonesia dan Mesir.

Mohamed Gamal, purnawirawan perwira angkatan laut Mesir mengenang bahwa ia merasa takjub dengan kebesaran Bung Karno.

"Saya melihat banyak orang di jalanan melambaikan bendera mini Indonesia dan Mesir ketika menyambut kunjungan Presiden Soekarno, saya saat itu saya masih remaja dan bersemangat juga menyambutnya," kenang Gamal yang kini aktif mengajar "khat Arabi" (lukisan Arab) di Masjid Rabi`ah Adawiyah itu.

Sambutan meriah itu juga terekam dalam video dan foto-foto hitam putih yang hingga kini masih tersimpan rapi baik di Perpustakaan Nasional Mesir maupun di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kairo.

Pemimpin flamboyan itu dikenal amat gandrung dengan tari perut yang dipersembahkan gadis-gadis cantik negeri warisan Ratu Cleopatra tersebut.

Kabar burung yang beredar di kalangan masyarakat setempat, penari kesohor Mesir, Nagwa Fouad, kini berusia 73 tahun, menjadi langganan favorit untuk pertunjukan kesenian di hadapan sang tamu agung, Bung Karno.

Jejak lainnya yang membuat pemimpin legendaris Nusantara tersebut begitu terkesan di mata masyarakat Mesir, yaitu nama besar Soekarno masuk dalam kurikulum pelajaran sejarah di sekolah setempat sebagai sahabat kental pemimpin legendaris Mesir, Gamal Abdel Nasser dalam berjuang menumpas imperialisme.

Nadia El-Bahr, mahasiswi Universitas Kairo, misalnya menuturkan bahwa ia mengenal Soekarno dari buku-buku sejarah yang diajarkan sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama.

"Soekarno adalah sahabat karib almarhum Presiden Gamal Abdel Nasser. Mereka berdua merupakan tokoh-tokoh puncak pendiri Gerakan Non-Blok," katanya.

Jejak lainnya yang terkesan adalah Mangga Soekarno. Konon Bung Karno yang memperkenalkan mangga dari Indonesia untuk dikembangkan di negeri Lembah Nil itu sejak tahun 1950-an.

Makanya, di sela lawatannya ke Mesir, Presiden Megawati pada 2002 menyempatkan waktunya untuk mengunjungi pekebunan mangga di kawasan Delta Nil, Provinsi Alexandria, 220 km utara Kairo.

Namun, jejak abadi yang paling dikenang adalah diadopsinya nama Bung Karno sebagai salah satu nama jalan di Kairo, tepatnya di Distrik Agouza, sisi barat Sungai Nil.

Alhasil, di balik peci hitam dan jejak-jejak Bung Karno itu menyimpan spirit persahabatan kedua bangsa yang kendati jauh di mata, tapi dekat di hati. (M043/Z002

Redaktur: Mukafi Niam

Sumber : Antara

Dari (Internasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/40773/peci-hitam-bung-karno-berkesan-di-mesir

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Kamis, 19 Juni 2014

Paham Impor Mati Syahid dan Jihad

Kesukaan meniru atau ‘mengimpor’ sesuatu dari luar negeri mungkin sudah menjadi bawaan setiap bangsa dari negeri berkembang; bukan khas bangsa kita saja. Pokoknya asal datang dari luar negeri. Seolah-olah semua yang dari luar negeri pasti hebat. Tapi barangkali karena terlalu lama dijajah, bangsa kita rasanya memang keterlaluan bila meniru dari bangsa luar.

Paham Impor Mati Syahid dan Jihad - Pesantren Al-Amien Purwokerto
Paham Impor Mati Syahid dan Jihad - Pesantren Al-Amien Purwokerto


Paham Impor Mati Syahid dan Jihad

Sering hanya asal meniru; taklid buta, tanpa mempertimbangkan lebih jauh, termasuk kepatutannya dengan diri sendiri. Ingat, saat orang kita meniru mode pakaian, misalnya. Tidak peduli tubuh kerempeng atau gendut, pendek atau jangkung; semuanya memakai rok span atau celana cutbrai, meniru bintang atau peragawati luar negeri.

Paham Impor Mati Syahid dan Jihad - Pesantren Al-Amien Purwokerto
Paham Impor Mati Syahid dan Jihad - Pesantren Al-Amien Purwokerto


Paham Impor Mati Syahid dan Jihad

Pada waktu pak Harto dan orde barunya ingin membangun ekonomi, sepertinya juga asal meniru negara maju; tanpa melihat jatidiri bangsa ini sendiri yang pancasilais (Padahal waktu itu ada yang namanya P4). Maka, meski tanpa ‘kapital’, selama lebih 30 tahun negeri kita seperti negeri kapitalis dan akibatnya, bangsa kita pun bahkan sampai sekarang sulit untuk tidak disebut bangsa yang materialistis.

Nah, ketika ada tren baru dari luar negeri yang berkaitan dengan keagamaan pun banyak diantara kita yang taklid buta. Kalau taklid soal mode, madzhabnya Amerika dan Eropa; soal tari dan nyanyi banyak yang berkiblat ke India; maka dalam tren keagamaan ini, agaknya banyak yang bertaklid kepada madzhab Timur Tengah, Iran atau Afghanistan.

Seperti pentaklidan tren baru dari luar negeri yang selalu dimulai dari kota dan baru kemudian menjalar ke desa-desa, demikian pula tren yang berkaitan dengan keagamaan ini. Seperti takjubnya sementara orang kota terhadap tren mode dari luar negeri –atau takjubnya sementara orang desa terhadap tren mode dari kota– dan langsung mengikutinya, orang-orang Islam kota atau mereka yang punya persinggungan dengan luar negeri, agaknya juga banyak yang demikian.

Mereka melihat dan takjub melihat keberagamaan yang dari luar negeri yang sama sekali lain dengan yang selama ini dianut orang-orang tua mereka di sini. Maka, seperti halnya orang-orang yang mengikuti mode baru dari luar negeri, mereka ini pun bangga dengan model keberagamaan baru mereka. Termasuk kecenderungan merendahkan orang yang tidak mengikuti ‘tren baru’ mereka itu.

Karena taklid buta, karena asal meniru tanpa mempertimbangkan lebih jauh, sering kali lucu dan sekaligus memprihatinkan. Ambil contoh misalnya soal jihad. Ada beberapa orang yang hanya melihat perjuangan bangsa Palestina dan Afghanistan, misalnya, yang berjihad –seperti kita dulu ketika melawan kolonialis Belanda– dengan segala cara; termasuk mengorbankan nyawa sendiri.

Lalu mereka ikutan melawan musuhnya Palestina dan Afghanistan di sini dengan cara yang sama. Mereka lupa bahwa jihad seperti yang dilakukan dan diajarkan Rasulullah SAW ada aturan dan etikanya.

Orang Palestina yang melakukan bom bunuh diri untuk melawan kolonialis Israel, bila terbunuh bisa disebut syahid. Dalam hadis riwayat imam Ahmad dari Sa’ied Ibn Zaid, disebutkan bahwa orang yang terbunuh membela haknya atau keluarganya atau agamanya, adalah syahid. Orang yang mati syahid , seperti disebutkan dalam beberapa hadis, berhak mendapatkan enam anugerah: 1. Diampuni dosanya sejak tetes darahnya yang pertama; 2. Bisa melihat tempatnya di sorga; 3. Dihiasi dengan perhiasan iman; 4. Dikawinkan dengan bidadari; 5. Dijauhkan dari siksa kubur; 6. Dan aman dari kengerian Yaumil Faza’il akbar.

Tapi orang yang melakukan bom bunuh diri di Indonsia yang tidak sedang berperang melawan siapa-siapa dan mayoritas penduduknya beragama Islam, jelas namanya bunuh diri biasa yang dilarang oleh Allah SWT, ditambah tindakan kriminalitas luar biasa: membuat kerusakan. Banyak sekali ayat Al-Quran yang menunjukkan dilarangnya berbuat kerusakan di muka bumi. Dalam perang melawan orang-orang kafir sekali pun, ada batasan-batasannya; misalnya tidak boleh membunuh perempuan dan anak-anak, merusak lingkungan dan lain sebagainya.

Allah berfirman: “Walaa taqtuluu anfusakum..” (Q. 4. An-Nisaa: 29). “Dan janganlah kamu membunuh dirimu..” Menurut para mufassir, larangan membunuh diri ini termasuk juga membunuh orang lain; karena membunuh orang lain termasuk membunuh diri sendiri, sebab umat merupakan satu kesatuan.

Larangan ini sangat jelas sekali. Orang yang membunuh dirinya sendiri dan sekaligus orang-orang lain yang tidak berdosa, jelas sangat jauh untuk dapat disebut syahid? Sungguh keterlaluan mereka yang mencekokkan doktrin yang jelas-jelas bertentangan dengan ajaran Al-Quran dan sunnah Rasulullah SAW. Apalagi hanya karena taklid buta terhadap tren dari luar negeri.

Dan sungguh naïf mereka yang –mengaku umat Muhammad– dengan mudah terpikat hanya oleh iming-iming bidadari, hingga mengabaikan akal sehat dan tega menghancurkan nilai agung kemanusiaan yang ditegakkan Rasulullah SAW. Wallahu a’lam. [Pesantren Al-Amien Purwokerto]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/07/paham-impor-mati-syahid-dan-jihad.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pesantren Al-Amien Purwokerto sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pesantren Al-Amien Purwokerto. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pesantren Al-Amien Purwokerto dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock