Tampilkan postingan dengan label Wawancara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wawancara. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 November 2016

Police chief appreciates NU cadres

Jakarta, Pesantren Al-Amien Purwokerto. Police Chief General Tito Karnavian said that Nahdlatul Ulama (NU) had cadres engaged in various fields, ranging from agriculture to the government.

"There are many (NU cadres) having already served as president and ministers," said Tito when giving a speech in the exhibition of artwork created by leading artist Nabila Dewi Gayatri at the Jakartas Grand Syahid Jaya Hotel Monday (8/5).

Police chief appreciates NU cadres (Sumber Gambar : Nu Online)
Police chief appreciates NU cadres (Sumber Gambar : Nu Online)


Police chief appreciates NU cadres

Tito said that NU cadres had abilities outside the field of religion such as martial arts, artwork, and others. In fact, in the field of painting he admitted that the "NU cadre is superior to him."

"Today we witnessed how an NU cadre (Nabila Dewi Gayatri) turned out to have outstanding artistic abilities. If we look from the public eyes to judge if I was asked to make a painting like this, surely the NU cadre are more skillful than me," he said.

Pesantren Al-Amien Purwokerto

In the time, he also reminded attendees of the importance of ulema (Muslim scholars) in maintaining and preserving of the Unitary State of Republic of Indonesia (NKRI) and called on the younger generation to continue what they accomplished through their actions.

"Our young cadres do understand. These are the ulema who must be imitated. What is painted by Mrs Nabila is clearly the ulema having built the NKRI," he said, adding that NU and the government could continue to collaborate and support each other to keep the nations unity.

Pesantren Al-Amien Purwokerto

"Police and NU must not break. While these (two) elements are solid, the NKRI is safe," he asserted. (Muchlison Rochmat/Masdar)

Dari (National) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/77782/police-chief-appreciates-nu-cadres

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Senin, 09 Mei 2016

KH Sobri: Masuk Surga Bukan Karena Amal, Tapi Rahmat Allah

Pringsewu, Pesantren Al-Amien Purwokerto. KH Sobri Dinal Mustofa semua amal yang dilakukan di dunia jangan hanya fokus kepada kuantitas namun kualitaslah yang perlu diutamakan. Meki demikian, jika seseorang yang masuk sorga sebetulnya bukan karena amalnya, melainkan rahmat Allah.

Rahmat dari Allah lah yang akan menentukannya. Jangan pula merasa sudah banyak simpanan amal dan pahala, kita tidak beramal lagi," ingatnya pada Jihad Pagi ( Ngaji Ahad Pagi) di Gedung NU Pringsewu, Ahad (5/4).

KH Sobri: Masuk Surga Bukan Karena Amal, Tapi Rahmat Allah (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Sobri: Masuk Surga Bukan Karena Amal, Tapi Rahmat Allah (Sumber Gambar : Nu Online)


KH Sobri: Masuk Surga Bukan Karena Amal, Tapi Rahmat Allah

Kiai yang Mustasyar PCNU Pringsewu menyampaikan juga bahwa semua amal tergantung kepada niatnya. Sementara niat itu lebih baik dari amal itu sendiri.

Oleh karena itu, ia mengajak para jamaah untuk benar-benar menata niat dalam melakukan segala hal. "Walaupun itu nampaknya bentuk amal dunia, namun jika diniati dengan benar, amal tersebut bisa termasuk amal akhirat."

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Kaitan dengan keistiqomahan amal, Kiai Sobri juga mengharapkan kegiatan Jihad Pagi harus terus dengan istiqomah dilaksanakan. Hal ini merupakan kegiatan yang sangat bermanfaat dalam menambah ilmu pengetahuan dan memperdalam pemahaman Islam rahmatan lil alamin.

Kiai Sobri sangat menyambut antusias kegiatan Jihad Pagi ini. Menurut dia, pola pengajian tersebut perlu dicontoh di lingkungan Nahdliyyin. "Jamaah rela datang tepat jam 6 pagi, tidak ada minum kue, pemateri tidak diberi bisyaroh perlu dipertahankan" tegasnya.

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Ia menambahkan, bukan cuma pencari ilmu saja yang perlu berkorban. Dalam menyampaikan ilmu pun, seperti para kiai, dai dan ustadz, perlu berkorban dalam menyampaikan dakwah-dakwahnya.

Kegiatan jihad pagi tersebut dipandu langsung Bupati Pringsewu H Sujadi dan disiarkan langsung melalui Radio Pemerintah Daerah Rapemda Pringsewu 107,2 FM. Tampak hadir Ketua MUI Kabupaten Pringsewu KH Hambali, Ketua LBM Provinsi Lampung Ust. Munawir dan para santri Pondok Pesantren Madinatul Ilmi Pagelaran. (Muhammad Faizin/Abdullah Alawi)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/58669/kh-sobri-masuk-surga-bukan-karena-amal-tapi-rahmat-allah

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Kamis, 02 April 2015

PMII Aceh Gelar Diskusi Warga Menulis

Banda Aceh, Pesantren Al-Amien Purwokerto. Pengurus Koordinator Cabang Pergerakan Mahasiswa Islma Indonesia (PKC PMII) Provinsi Aceh menggelar diskusi menulis bagi kader organisasi itu (31/3) di Sekretariat Fatayat NU Aceh Lamseupeung Banda Aceh.

Sekretaris PKC PMII Aceh Nazarullah mengatakan, kegiatan gerakan warga menulis ini dilaksanakan untuk meningkat semangat Mahasiswa untuk menulis, karena ide yang bagus tanpa dituliskan akan hilang begitu saja.

PMII Aceh Gelar Diskusi Warga Menulis (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Aceh Gelar Diskusi Warga Menulis (Sumber Gambar : Nu Online)


PMII Aceh Gelar Diskusi Warga Menulis

Warga PMII diharapkan dapat menulis, baik menuliskan opini, berita atau tulisan-tulisan lain yang menggugah, mereka akan diajarkan menulis dari hal kecil untuk dikembangkan sehingga menarik dan bermanfaat bagi masyarakat, katanya.

Menurut dia, melakukan perubahan atau kontrol pemerintah itu dapat dilakukan dengan berbagai macam cara, diantaranya dengan menulis.

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Selain itu, dasar-dasar dalam penulisan juga didiskusikan, mulai dari tanda baca, menuliskan kata tempat atau sifat, titik-koma, dan sebagainya.

Sementara Ketua Pelaksana Juara BA mengatakan, kegiatan warga menulis ini diharapkan dapat memberikan semangat bagi generasi muda untuk menulis.

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Panitia menghadirkan Muhadzdzie M. Salda sebagai pemateri, yang diberi tema Yuuk Menulis, kegiatan ini berlangsung selama dua jam.

Ini merupakan bagian dari follow up Mapaba Regional I PKC PMII Aceh, kader PMII harus mampu menuliskan tentang kebijakan pemerintah, katanya.

Melakukan perubahan atau kritikan tidak harus dilakukan dengan cara demonstrasi di jalan-jalan saja, dengan menulis justru lebih terdidik dan tidak akan terjadi anarkis, pungkasnya.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Sumber : PMII Aceh

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/43463/pmii-aceh-gelar-diskusi-acircwarga-menulisacirc

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Rabu, 10 Desember 2014

Gus Maksum, Seumur Hidup untuk Pencak Silat!

Sleman, Pesantren Al-Amien Purwokerto. Penasehat PSNU Pagar Nusa, KH Suharbillah, adalah murid dari pendiri Pagar Nusa, KH Maksum Jauhari (Gus Maksum), sekaligus termasuk salah satu pendiri organisasi tersebut. Saat turut serta mendirikan organisasi Pagar Nusa (tahun 1985), usianya memang masih terbilang muda, sekitar 22 tahun.

Mengenai sosok Gus Maksum, KH Suharbillah memiliki cerita, bahwa di saat PSNU Pagar Nusa akan mengadakan sebuah pertandingan antardaerah, Gus Maksum tidak menyetujui.

Gus Maksum, Seumur Hidup untuk Pencak Silat! (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Maksum, Seumur Hidup untuk Pencak Silat! (Sumber Gambar : Nu Online)


Gus Maksum, Seumur Hidup untuk Pencak Silat!

Saya yang bagian matur beliau. Awalnya beliau bilang tidak setuju, dengan pertimbangan tidak adanya dana, ceritanya kepada Pesantren Al-Amien Purwokerto, saat ditemui usai menghadiri acara pembukaan pelatihan pelatih tingkat nasional PSNU Pagar Nusa, Senin (03/03), di Gedung Youth Centre, Tlogoadi, Mlati, Sleman, DI Yogyakarta.

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Namun, ketika dikatakan acaranya masih perlu persiapan tiga bulan lagi, Gus Maksum berkata; Tiga bulan lagi nanas saya sudah panen, silahkan uangnya digunakan sebagai dana.

Ia juga menceritakan, bahwa di saat Gus Maksum sedang sakit dan ada wartawan yang ingin menemuinya untuk melihat gerakan, Gus Maksum masih bisa mempraktikkan gerakannya.

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Beliau adalah sosok yang seumur hidupnya adalah untuk pencak silat, baik saat sehat maupun saat sakit. Bahkan kebun nanasnya pun diberikan untuk Pagar Nusa, tandasnya.

KH Suharbillah, barangkali memang tak banyak yang mengenal nama itu. Usianya sudah tidak dapat dikatakan muda lagi, 66 tahun. Ia pun tak segan bercerita bahwa tidak sedikit orang yang menganggap bahwa ia sudah meninggal.

Lho, wong iku sih urip ta?, (Lho, orang itu masih hidup kah?) ujarnya sambil terkekeh-kekeh menirukan orang-orang yang tidak percaya jika ia masih hidup.

Sosoknya yang berbadan tinggi-besar, disertai kumis dan jenggot yang dibiarkannya memanjang, tentu akan memberikan kesan sedikit seram pada orang yang pertama kali melihatnya. Ia sendiri mengakui itu. Namun siapa sangka, dibalik wajah seram tersebut tersimpan keramahan yang luar biasa.

KH Suharbillah kini berharap agar generasi PSNU Pagar Nusa dapat mengokohkan dan sekaligus mewariskan ilmu pencak silat tidak dengan sepotong-potong, tapi secara utuh.

Artinya, tidak hanya dari aspek bela diri saja yang akan dikuasainya, yang nantinya dapat memunculkan sikap arogan, namun juga aspek lainnya, seperti seni-budaya dan asma (aspek batin). Asma sendiri menurut KH Suhar Billah, adalah untuk mengikat bahwa tidak ada yang melebihi kekuatan Allah, sesuai dengan slogan PSNU Pagar Nusa, laa ghaaliba illa billah.

Kami juga berharap, pada akhirnya nanti para pendekar yang dilahirkan oleh PSNU Pagar Nusa bukanlah menjadi orang yang salah dalam mengamalkan ilmu, melainkan menjadi penolong masyarakat, tambah pria asli Trenggalek, Jawa Timur, tersebut. (Dwi Khoirotun Nisa/Abdullah Alawi)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/50562/gus-maksum--seumur-hidup-untuk-pencak-silat

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Minggu, 07 September 2014

LDNU Kota Kraksaan Gelar Audisi Pildacil

Probolinggo, Pesantren Al-Amien Purwokerto. Dalam rangka memeriahkan Hari Lahir (Harlah) NU ke 90, Pimpinan Cabang (PC) Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Kota Kraksaan bekerja sama dengan PC LP Maarif NU, PC Fatayat NU dan PC Muslimat NU Kota Kraksaan menggelar audisi Pemilihan Dai Cilik (Pildacil) se-Kabupaten Probolinggo.

Audisi Pildacil ini digelar dengan tujuan untuk penelusuran potensi dan minat anak serta membina dan mengembangkannya, sehingga akan tercipta dai yang handal sebagai pengganti Almarhum Ustadz Jefri Al Buchori, ungkap H. Hasan Baharun, selaku ketua panitia lomba di arena Pildacil di Aula Kantor PCNU Kota Kraksaan, Ahad (28/4) kemarin.

LDNU Kota Kraksaan Gelar Audisi Pildacil (Sumber Gambar : Nu Online)
LDNU Kota Kraksaan Gelar Audisi Pildacil (Sumber Gambar : Nu Online)


LDNU Kota Kraksaan Gelar Audisi Pildacil

Peserta yang ikut serta dalam lomba Pildacil ini sebanyak 167 peserta yang berasal dari lingkungan Sekolah Dasar (SD), Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Madrasah Diniyah (Madin) di Kabupaten Probolinggo.

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Mengingat banyaknya peserta lomba tersebut, maka panitia lomba membagi pelaksanaan audisi pada empat titik, yaitu di halaman Kantor PCNU Kota Kraksaan, aula Serbaguna Kantor PCNU Kota Kraksaan, Masjid di lingkungan Pondok Pesantren Darul Lughah Wal Karomah dan di Pendopo Kelurahan Sidomukti Kecamatan Kraksaan.

Pembukaan audisi Pildacil kali ini dihadiri oleh Ketua Tanfidziyah PCNU Kraksaan KH. Ahmad Sujai, Ketua DPRD Kabupaten Probolinggo H. Ahmad Badawi, PC LP Maarif Kota Kraksaan Taufiq, dan pimpinan pada masing-masing lembaga dan badan otonom serta para guru, pendamping dan wali murid dari para kontestan lomba.

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Dalam sambutannya, KH. Hasan asy-Syadzili menyampaikan bahwa pelaksanaan Pildacil pertama kali yang diadakan oleh PCNU Kota Kraksaan diharapkan mampu melahirkan dan memunculkan kader Islam yang tangguh, yang siap menjadi penyambung lidah para ulama pewaris Nabi Muhammad SAW dalam menyebarkan Islam di kancah lokal, regional maupun Nasional.

Redaktur : A. Khoirul Anam

Kontributor : Syamsul Akbar

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/44117/ldnu-kota-kraksaan-gelar-audisi-pildacil

Rabu, 04 Desember 2013

Fakta Seputar Pemakaman Gus Dur

Oleh M Zainal A Khosyi’in Pesantren Al-Amien Purwokerto - Acapkali mendapat undangan ceramah di Malang, Prof DR KH Ali Maschan Moesa, M.Si (Wakil Rois Syuriyah PWNU Jawa Timur) singgah dan menghampiri untuk mengajak penulis mendampingi beliau. Setiap masuk rumah sebelum duduk beliau selalu saja tertegun memandangi demikian dalam foto yang menggambarkan jasad mulia KH Abdurrohman Wahid (Gus Dur) berjalan dari tangan ke tangan sejak diturunkan dari mobil ambulans hingga memasuki Masjid Ulul Albab Pesantren Tebuireng untuk disholatkan sambil bergumam, “sungguh karunia luar biasa mendapat amanah tidak sengaja mengimami sholat jenazah Gus Dur”.

Fakta Seputar Pemakaman Gus Dur - Pesantren Al-Amien Purwokerto
Fakta Seputar Pemakaman Gus Dur - Pesantren Al-Amien Purwokerto


Fakta Seputar Pemakaman Gus Dur

Kiai Ali—demikian biasa penulis menyapa beliau—lantas bercerita—sesuatu yang telah berkali-kali beliau tuturkan tetapi tetap saja penulis dengan semangat mendengarkannya seolah baru pertama kali beliau menceritakan—bahwa setelah wafat pada Rabu tanggal 30 Desember 2009 pukul 18.40 WIB di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta, pihak keluarga—menuruti permintaan Gus Dur sendiri—memutuskan untuk memakamkan Gus Dur di Maqbarah Tebuireng yang berada dalam komplek Pesantren Tebuireng Jombang tempat dimana jasad mulia Hadratussyekh KHM Hasyim Asy’ari (kakek), Nyai Nafiqoh (nenek), KH A Wahid Hasyim (ayah), Nyai Sholihah Bisri (ibu) dan kerabat Tebuireng lainnya diistirahatkan dari kepayahan dunia.

Sejurus setelah itu komplek Pesantren Tebuireng Jombang telah sesak dengan peziarah dari berbagai penjuru dan Kiai Ali—yang ketika itu seperti biasa setiap hari sabtu, ahad dan hari libur berada di Surabaya karena libur tidak ada aktifitas kelegislatifan dalam kapasitasnya sebagai Anggota Komisi 8 DPR RI 2009-2014—pagi-pagi sudah berada di Tebuireng sekalian menjenguk salah satu putrinya yang sedang ngangsu kaweruh di Pesantren Putri Tebuireng. Karena Masjid Ulul Albab—tempat dimana jenazah Gus Dur telah ditunggu ratusan ribu takziyin untuk disholati—berada satu komplek dengan pesantren putri tentu saja Kiai Ali merupakan sedikit kiai dari ribuan kiai pentakziyah yang dengan mudah mencapai masjid.

Maka ketika keranda berbalut merah putih yang membawa jenazah Gus Dur yang diusung dan dikawal sepasukan TNI berhasil mencapai mihrob masjid setelah sejaman lebih susah paya menyibak ratusan ribu pentakziyah yang terus berusaha berada paling dekat dengan jasad mulia Gus Dur tetapi sholat jenazah tidak kunjung dimulai dikarenakan menunggu sang imam sholat jenazah yang telah ditunjuk pihak Pesantren Tebuireng terblokade tidak bisa masuk masjid. Melalui telepon seluler KH Shalahuddin Wahid lantas menanyakan kepada petugas tentang siapa saja kiai yang berada didalam masjid, petugas menyebut KH Ahmad Mustofa Bisri—yang memang sejak berangkat dari kediaman Gus Dur di kawasan Warung Silah Ciganjur Jakarta terus berada mendampingi pihak keluarga—dan KH Ali Maschan Moesa. Karena KH Ahmad Mustofa Bisri sudah bersholat jenazah di Ciganjur dan sedang batal wudlu’ maka amanah itupun jatuh kepada KH Ali Maschan Moesa

Pentakziyah yang terus menangis dan tidak jarang histeris itu sudah berkali-kali dikomando melalui pengeras suara untuk tenang karena sholat segera dimulai. Pihak keluarga Tebuireng, pengurus masjid,  Banser dan bahkan TNI bergantian berusaha menenangkan gemuruh umat, sampai akhirnya KH Ali Maschan Moesa berteriak lantang ; “Allohumma sholli alaa Muhammad! Monggo sholat jenazah dimulai nggee...?!!”. Pentakziyahpun secara kuur menyahut ; “Nggggeeee...!!!”

Siapapun yang dikaruniai kesempatan bisa hadir untuk mengikuti sholat jenazah di Masjid Ulul Albab pada saat itu pasti merasakan atmospir kesedihan dan duka teramat sangat dalam karena kepergian Gus Dur. Penulis yang saat itu berada dilantai II Masjid Ulul Albab dapat menyaksikan betapa untuk memasuki masjid saja dibutuhkan kekuatan himmah untuk semata memberikan penghormatan terakhir kepada Gus Dur. Dan pasti untuk menenangkan ratusan ribu pentakziyah yang sangat larut dalam duka mendalam itu dibutuhkan kekuatan supranatural yang hebat.

Kiai Ali setiap habis menceritakan hal tersebut senantiasa mengijazahkan suatu amalan yang bisa membantu setiap kita dalam kondisi terjepit dan kepepet seolah Kiai Ali tahu

bahwa penulis tidak pernah sanggup menyelesaikan ijab qobul ijazah dengan mengatakan qobiltu. Ya bagaimana penulis sanggup menjawab qobiltu, sementara jiwa dan perasaan penulis setiap mendengar cerita itu terbawa pada situasi sangat syakral dan khidmad di pagi Kamis 31 Desember 2009 itu.

Tidak itu saja, memori penulis langsung saja tersambung dengan situasi di saat kapundutnya guru ayah penulis, H.M.Nashiruddin Kholil, seorang wali besar abad 20 yang adalah keponakan Rois Aam PBNU almaghfurlah KH Achmad Shiddiq yaitu KH Abdul Hamid bin Abdullah bin Umar Pasuruan pada Sabtu dinihari, tanggal 9 Robiul Awal 1403 H bertepatan dengan 25 Desember 1982, dalam usia 70 tahun menurut hitungan hijriyah atau 69 tahun menurut hitungan miladiyah.

Sebagaimana dituturkan secara apik oleh Hamid Ahmad dalam buku “Percik-Percik Keteladanan Kiai Hamid Pasuruan” : Kabar (kewafatan Kiai Hamid) pun segera menyebar, lewat radio, dari mulut kemulut dan dari telpon ke telpon. Umat datang berbondong-bondong untuk melayat ke rumah duka sejak pagi. Mereka berasal dari berbagai penjuru. Umumnya seperti tak percaya Kiai Hamid meninggal. Mereka menangis, mereka histeris. Melihat begitu banyaknya pelayat, pihak keluarga tidak mau ambil resiko. Khawatir rusak jadi rebutan, kerandanya diikat kuat-kuat

Menjelang Ashar, keranda dibawa ke masjid. Keranda itu berjalan dari satu tangan ketangan lain karena orang tak bisa berjalan, saking padatnya. Terjadi tarik menarik di antara mereka. Misalnya, ketika hendak keluar dari komplek pondok, sebagian orang hendak membawanya keluar dari gerbang barat, sebagian lainnya ke arah gerbang timur. Sampai di masjid pun begitu. Terjadi tarik menarik sehingga beberapa kali orang melanggar(?) jendela masjid. Konon, dari rumah ke masjid dibutuhkan waktu hingga dua jam (padahal jarak kediaman Kiai Hamid di komplek Pondok Salafiyah dengan Masjid Agung Al Anwar hanya sekitar

setengah kilo saja, pen.)

Dilaporkan, jamaah yang menyalati meluber. Tidak hanya ke alun-alun depan masjid, tapi terus ke timur hingga perempatan PLN (sekitar 100 meter), dan memenuhi Jalan Niaga hingga ke ujung utara dan ruas-ruas Jalan Nusantara hingga ke ujung selatan (dua jalan ini merentang dari utara ke selatan sepanjang 1 km). Diperkirakan jumlah mereka mencapai ratusan ribu orang. KH Ali Maksum (Rois Aam PBNU yang adalah karib Kiai Hamid, pen.) bertindak sebagai imam sholat.

Setelah sholat Ashar, jasad beliau disemayamkan di kompleks makam sebelah barat masjid Agung Al Anwar Pasuruan. Kompleks ini memang diperuntukkan bagi para kiai dan habaib. Di sana antara lain ada makam Habib Ja’far bin Syaikhon Assegaf (guru beliau), Kiai Achmad Qusyairi (paman sekaligus mertua beliau) dan Kiai Achmad bin Sahal (ipar beliau).

Waba’du. Mensejajarkan dan menyebut KH A Hamid Abdulloh dan KH Abdurrohman Wahid dalam satu tariakan nafas rasanya tidak berlebihan. Sekalipun dengan citra yang berbeda, kebanyakan orang

utamanya yang mengenal dekat beliau berdua, sama-sama meyakini jika keduanya adalah wali Allah. Sekalipun Gus Dur tidak ada kedekatan personal dengan Kiai Hamid, tapi orang-orang terdekat Gus Dur semisal KH Achmad Shiddiq (Rois Aam PBNU seperiode dengan Gus Dur ketika menjadi Ketua Umum PBNU), KH Ali Maksum (guru Gus Dur) dan KH Hamim Jazuli (Gus Mik Kediri) adalah kerabat dan teman dekat Kiai Hamid.

Jika ditelusuri lebih jauh, Kiai Hamid dan Gus Dur mempunyai kebiasaan yang sama: suka berziarah ke makam ulama dan terutama wali. Konon saking terbiasanya Gus Dur ziarah makam Sunan Ampel, sampai-sampai KH Nawawi (dzurriyah Sunan Ampel dan imam besar Masjid Agung Sunan Ampel sebelum tahun 2000-an) hafal betul kapan Gus Dur mesti datang berziarah sehingga Kiai Nawawi mesti

tidak diberitahu sebelumnya sudah menunggu kedatangan Gus Dur di pusara makam Sunan Ampel.

Gus Dur pula—ketika menjabat Presiden RI—yang memasyhurkan makam Sayyid Ibrohim as-Samarqondi (orang Jawa menyebutnya Maulana Ibrohim Asmorokondi) di Palang, Tuban. Pun Komplek Pemakaman

Troloyo di mana Sayyid Jamaluddin Husein (lebih karib dengan Syekh Jumadil Kubro) di Mojokerta dimasyhurkan Gus Dur dengan menyebut bahwa moyangnya yang berasal dari China yang bernama Tan Kim Han (didefinisikan orang sebagai Syekh Abdul Qodir as-Shiniy), dimakamkan di Troloyo juga.

Adapun perihal kebiasaan Kiai Hamid berziarah makam ulama, ada fakta menarik—sebagaimana disebutkan dalam buku Percik-Percik Keteladanan Kiai Hamid dan cerita ayah penulis—bahwa setiap

berziarah, Kiai Hamid senantiasa mengutamakan akhlaq. Sebagaimana ketika biasa mendawamkan ziarah makam gurunya—Habib Ja’far bin Syaikhon Assegaff—dan mertua sekaligus pamannya—KH Achmad Qusyairi Shiddiq—di pemakaman barat Masjid Agung Al-Anwar Pasuruan, Kiai Hamid selalu masuk dari arah yang menunjukkan posisi kaki dan duduk agak menjauh dari kijing makam. Ini sangat berbeda dengan kebanyakan orang dalam berziarah makam ulama atau wali selalu berebut posisi paling dekat dengan kepala.

Demikianlah, biar sangat terlambat tapi penulis bersyukur pada akhirnya dikaruniai kemampuan untuk mengungkap salah satu fakta kecil diseputar peristiwa besar mangkatnya orang besar yang mantan ketua umum pengurus besar organisasi besar. Semoga hal ini tercatat sebagai termasuk mengingat ulama dan orang-orang besar yang akan mendatangkan rahmat, idz bidzikrihim tatanazzalur rahamat. Amin. Pesantren Al-Amien Purwokerto

M Zainal A Khosyi’in, penulis buku Perintah

Perang Suci (2015)

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/04/fakta-seputar-pemakaman-gus-dur.html

Selasa, 30 Juli 2013

Miris, 45 Persen Teroris Melakukan Teror Karena Motivasi Jihad

Pesantren Al-Amien Purwokerto - Beberapa hari belakangan, kita dikejutkan oleh pemberitaan media yang memberitakan soal tewasnya salah satu teroris di Poso yang menjadi target penyergapan setelah terjadi kontak senjata dengan pihak kepolisian dan TNI.

Tentu dalam status ini, saya tidak akan panjang lebar berkomentar mengenai bagaimana pihak aparat yang berhasil melumpuhkan kelompok yang dipimpin oleh Santoso tersebut. Namun, dari sisi akademik saya akan berbicara mengenai apa gerangan yang menyebabkan aksi terorisme tersebut marak dan bahkan digandrungi oleh sebagian kecil masyarakat di Indonesia.

Miris, 45 Persen Teroris Melakukan Teror Karena Motivasi Jihad - Pesantren Al-Amien Purwokerto
Miris, 45 Persen Teroris Melakukan Teror Karena Motivasi Jihad - Pesantren Al-Amien Purwokerto


Miris, 45 Persen Teroris Melakukan Teror Karena Motivasi Jihad

Pertanyaan penting yang patut kita garisbawahi terkait aksi terorisme tersebut, apakah berlatar belakang ekonomi, politik, budaya, atau karena faktor pemahaman keagaman? Pertanyaan semacam ini saya kira perlu untuk ditindaklanjuti dengan mengadakan riset lebih mendalam oleh beberapa lembaga riset bekerjasama dengan beberapa universitas dan perguruan tinggi.

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Tujuannya adalah untuk menghindari klaim-klaim yang tak mendasar. Karena belakangan ini jamak diberitakan bahwa mereka yang terlibat aksi teror kerap dianggap sebagai mujahid dan syuhada'. Sungguh miris!

Banyaknya aktivitas yang dilakukan oleh aktivis teror, baik yang dilakukan oleh individu, kelompok, atau bahkan organisasi tertentu seakan memperlihatkan bahwa dunia, atau mungkin manusia saat ini sedang mengalami rasa sakit. Dunia seolah-oleh begitu sempit untuk dijadikan sebagai tempat hidup damai dan rukun tanpa adanya aksi teror.

Pesantren Al-Amien Purwokerto

Tak salah jika seorang Mahatma Ghandi menyatakan: "Bumi ini sangat cukup untuk menghidupi penghuninya, tetapi menjadi cukup atau bahkan sempit karena kerakusan oleh segelintir orang".

Buku ini "Profil Keagamaan Terpidana Terorisme di Indonesia" adalah hasil penelitian Tim Peneliti Badan Puslitbang dan Diklat Kementerian Agama RI yang membicarakan sebab dan tujuan dari aksi terorisme di Indonesia.

Secara khusus, fokus kajian dalam buku ini adalah soal pemahaman keliru terhadap ajaran keagamaan tertentu yang mana dalam perjalanannya telah mampu mendorong para aktivis dan calon-calon aktivisnya untuk melakukan teror atas nama agama.

Dari penjelasan di atas setidaknya ada dua poin besar yang melatarbelakangi para teroris tersebut. Pertama, ideologi teror. Menurut para pakar, ideologi teror ini muncul sebagai intermediate cause (penyebab dasar) dari lahirnya embrio terorisme sebagai bentuk ketidakpuasan terhadap sesuatu yang dialami oleh individu tertentu.

Kedua, motiv teror. Menurut penelitian INSEP (Indonesia Institute for Society Empowerment) tahun 2011-2012 menunjukkan bahwa rata-rata mereka yang tertarik untuk bergabung dengan kelompok teroris adalah para pemuda yang berusia 29 tahun dengan latar belakang pendidikan Sekolah Lanjutan Atas (SLTA), baik dari sekolah negeri atau swasta dengan kecenderungan mayoritas berpendidikan umum. Mereka melakukan aksi teorisme tersebut dengan motivasi ideologi keagamaan (45,5%), solidaritas komunal (20%) dan separatisme (34,5%).

Dari pemaparan di atas, motivasi terbanyak yang melatarbelakangi mereka adalah ideologi keagamaan yang di dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah Jihad. Sangat miris bukan? Ini fakta. Itulah pentingnya kita memahami makna jihad ini secara komprehensif agar tidak salah memahaminya. Ataukah mungkin ke depan kita mempertimbangkan kembali makna jihad dengan konteks kekinian yang lebih humanis? [Pesantren Al-Amien Purwokerto]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/08/miris-45-persen-teroris-melakukan-teror-karena-motivasi-jihad.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pesantren Al-Amien Purwokerto sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pesantren Al-Amien Purwokerto. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pesantren Al-Amien Purwokerto dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock